oleh

Standart Kebenaran Agama dan Mabda

Standar Kebenaran Agama dan Mabda’

Dalam membahas konsep Islam dan kufur, bahwa semua agama maupun mabda’ non-Islam adalah kufur, serta ruang lingkup ajaran Islam, bahwa Islam bukan sekedar ajaran spiritual, tetapi juga politik, maka dapat di simpulkan, bahwa Islam adalah agama dan juga mabda’, berbeda dengan Kristen atau Yahudi yang hanya merupakan agama dan bukannya mabda’ atau Kapitalisme dan Sosialisme, yang merupakan mabda’, minus spiritualitas.

Masalahnya kemudian adalah, bagaimana cara kita menakar kebenaran masing-masing secara logis? Karena setiap muslim wajib memahami kebenaran pilihannya secara logis, yang bisa di pertahankan secara argumentatif sebagaimana perdebatan antara Islam dengan kekufuran yang banyak di contohkan dalam Al-Qur’an secara memuaskan (muqni’ah) di samping pembuktian normatif (naql), melalui nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dari sisi perbedaan, antara Islam dengan agama dan mabda’ lain memang sangat mendasar, baik konsepsional (aqidah) maupun mekanisme operasional (nidham)-nya, di samping itu, setiap ajaran, baik agama maupun mabda’, sama-sama tidak bisa hanya di ambil aqidahnya saja, sementara sistemnya di ambil dari agama atau mabda’ lain, sebaliknya, sistem apapun harus di ambil dari aqidah tertentu yang melahirkannya, sebab, setiap sistem pasti bersumber dari aqidah yang berbeda, ketika ada seseorang yang mengambil sistem dari agama dan mabda’ lain, pasti orang tersebut meyakini aqidah yang melahirkan sistemnya, apakah secara keseluruhan ataupun sebagian.

Meskipun agama dan mabda’ ada yang mempunyai sistem secara parsial, misalnya hanya mengajarkan aqidah ruhiyyah dan hanya mempunyai sistem yang menyangkut kebutuhan spiritual manusia saja, atau seperti mabda’ yang hanya mengajarkan aqidah siyasiyyah dan hanya mempunyai sistem yang menyangkut urusan keduniaan, seperti sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, sanksi hukum dan lain-lain, tetapi masing-masing tetap mempunyai aqidah dan sistem, karena itu, tidak dapat di nafikan, bahwa setiap orang yang mengadopsi sistem dari agama dan mabda’ tertentu, pasti juga meyakini kebenaran konsepsi agama dan mabda’ yang melahirkannya.

Baca juga...  Al-Qadha (Lembaga Peradilan Islam)

Dalam konteks agama, kita bisa melihat ritualitas pengikut Sikh, yang dalam mekanisme ritualnya menggabungkan antara Islam dengan Hindu, sistem ibadah seperti ini, tidak mungkin di ambil, ketika seseorang tidak meyakini konsepsi aqidah yang melahirkannya, sementara dalam konteks mabda’, kita bisa melihat para penganut sistem demokrasi, yang mustahil tidak meyakini kebenaran kapitalisme yang melahirkan demokrasi, meskipun tingkat keyakinannya mungkin hanya sebagian, karena ketika mereka tidak yakin, pasti mereka tidak akan melakukan atau menegakkan sistem tersebut, karena itulah, di perlukan penjelasan mengenai letak perbedaan antara Islam dengan agama dan mabda’ non-Islam.

Pertama, Islam mengajarkan konsepsi spiritual (aqidah ruhiyyah) pada politik (aqidah siyasiyyah) sekaligus, di mana spiritualitas dan politik tersebut menjadi bagian yang integral dalam ajaran Islam, sedangkan Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain hanya mengajarkan konsepsi spiritual, sementara politiknya tidak, sebaliknya, Kapitalisme dan Sosialisme atau mabda’ non-Islam lainnya, hanya mengajarkan konsepsi politik, sedangkan konsepsi spiritualnya tidak.

Kedua, karena Islam mengajarkan aqidah ruhiyyah, sementara setiap aqidah mempunyai nidham (sistem), maka Islam juga mengajarkan sistem yang menyangkut urusan spiritual dengan jelas, karena Islam juga mengajarkan aqidah siyasiyyah, Islam juga mempunyai sistem yang menyangkut urusan siyasiyyah, berbeda dengan Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu dan yang lain-lain, yang hanya mengajarkan aqidah ruhiyyah, maka agama-agama tadi juga hanya mempunyai sistem yang menyangkut urusan ruhiyyah saja, seperti cara melakukan ritual, sedangkan sistem yang menyangkut urusan keduniaan tidak di atur, begitu juga dengan Kapitalisme dan Sosialisme hanya mempunyai sistem yang menyangkut urusan siyasiyyah saja, seperti cara melakukan aktivitas ekonomi, politik,sosial, pendidikan dan sebagainya, sementara dimensi ruhiyyah-nya tidak ada.

Baca juga...  Ummat Islam, Bangkitlah!!!

Karena masing-masing agama dan mabda’ tersebut tidak lengkap, maka para pemeluknya akan mengkombinasikan keduanya, sehingga bisa memperoleh tuntunan yang lengkap dalam hidupnya, contohnya, ketika seseorang memeluk agama Yahudi, dia tidak dapat hidup hanya dengan agama Yahudi saja, tetapi pasti akan mengadopsi ajaran Kapitalisme atau bahkan mungkin Sosialisme, sehingga akhirnya terjerumus sebagai atheis, tujuannya adalah agar jalan hidupnya lengkap, di sinilah masalah utama yang di hadapi oleh penganut agama lain, selain Islam.

Mereka sering kali mengalami kegoncangan akibat terjadinya kontradiksi antara satu konsep dengan konsep lain yang mereka adopsi, sebagai contoh Adam Smith, dia di kenal sebagai Bapak Ekonomi Politik, pendiri mazhab ekonomi klasik yang kemudian menjadi sumber ajaran ekomomi Kapitalis dan merupakan ajaran Kapitalisme yang paling menonjol, dia adalah seorang pendeta Kristen asal Scotlandia, sebagai orang yang sangat memahami ajaran agamanya, yang mengagung-agungkan cinta kasih dan persaudaraan, ternyata Adam Smith bisa mendirikan mazhab yang bukan hanya mengutamakan materi, malah bertentangan seratus delapan puluh derajat dengan ajaran agamanya.

Mazhab ini kemudian di kritik karena kerakusannya yang tidak mengenal perikemanusiaan, pada akhirnya ia di tinggalkan, setelah itu muncul mazhab baru, Sosialisme, sebagai perlawanan terhadap kezaliman Kapitalisme, kenyataan ini bisa terjadi karena agama Kristen yang tidak mengajarkan masalah siyasiyyah, keduniaan, demikian sebaliknya, konsepsi Kapitalisme yang tidak mengajarkan spiritualitas itu akhirnya menimbulkan krisis kemanusiaan, akibatnya, terjadilah pertentangan yang dahsyat antara kedua konsepsi tersebut.

Berbeda dengan Islam, jika seorang muslim tidak mengambil Islam secara menyeluruh sebagai aqidah ruhiyyah dan siyasiyyah, justru akan mengalami pertentangan dan kekacauan yang luar biasa dalam hidupnya, ini justru terjadi ketika orang Islam meninggalkan sebagian ajaran agamanya yang komprehensif tadi, misalnya, ketika seorang muslim mengadopsi Kapitalisme dalam berpolitik sedangkan spiritualitasnya Islam, orang tersebut pasti bisa melakukan kebohongan publik dengan penjelasan yang manipulatif, padahal tindakan tersebut bertentangan dengan konsepsi spiritualnya, orang Islam seperti ini juga akan mengalami perang batin yang dahsyat, akibat benturan dua konsep yang berbeda tadi dalam dirinya.

Baca juga...  Tamsil Tentang Sebuah Kebangkitan

Dari uraian di atas, dengan jelas bahwa agama dan mabda’ lain, selain Islam nyata tidak lengkap, tapi gambaran di atas belum menunjukkan kebenaran atau kesalahan agama dan mabda’ tersebut, adapun standar kebenaran konsepsi agama dan mabda’ tersebut di tentukan oleh dua hal : Pertama, keserasian kaidah berfikirnya dengan fitrah manusia. Kedua, asas yang menjadi landasannya, apakah di bangun berdasarkan akal atau tidak, kedua kaidah inilah yang bisa menjadi tolok ukur kebenaran agama dan mabda’ tersebut, tentu ketika aqidahnya salah, agama dan mabda’ tersebut pasti salah, sebab, aqidah merupakan asas, jika asasnya rusak, buah dan bangunan yang di hasilkannya pasti juga sama, ini sebagaimana yang di gambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, yaitu :
]أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ[
“Apakah orang yang mendirikan bangunannya di atas asas taqwa dan keridhaan Allah itu lebih baik ataukah orang yang mendirikannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu runtuh bersama-samanya ke dalam neraka jahanam? (Q.S. At-Taubah :109).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya