oleh

Sunnah Rasulullah Saw dan Realitas Sosial

Sunnah Rasulullah Saw dan Realitas Sosial

Secara substansial Sunnah Rasulullah Saw mempunyai nilai yang tidak jauh dari Al-Qur`an, karena keduanya sama-sama berasal dari wahyu, namun berbeda secara redaksional, Al-Qur’an secara redaksional berasal dari Allah sedangkan Sunnah secara redaksional berasal dari Rasulullah Saw.

Bahkan dalam pergumulannya dengan realitas sosial sunnah terbukti lebih intensif, hal itu bisa dilihat dari perbandingan jumlah keduanya, hadis shahih yang tercatat oleh para perawi Hadis jauh lebih banyak dibanding jumlah ayat dalam Al-Qur’an, tercatat dalam sejarah bahwa Abu Hurairah Ra yang meriwayatkan Hadis sebanyak 5374, Ibnu Umar 2631, Anas bin Malik 2286, Aisyah 2210, Ibnu Abbas 1660, Jabir bin Abdullah 1540 dan Abu Sa’id Al-Khudry 1170.
Sebelum membahas lebih dalam lagi perlu adanya mengkategorikan sunnah ke dalam dua macam, yaitu sunnah tasyri’iyyah dan sunnah ghairu tasyri’iyyah, wilayah bahasan tulisan ini ada pada bagian sunnah tasyri’iyyah saja karena tema bahasanya adalah masalah fiqh.
 

Untuk lebih jelasnya keduanya di klasifikasikan sebagai berikut, yaitu :
Sunnah tasyri’iyyah meliputi:
a. Sunnah yang bersumber dari Rasulullah Saw dalam rangka tabligh dan beliau mempoisisikan diri sebagai Rasul, seperti ketika menerangkan kandungan al-Qur`an yang masih global maknanya, men-takhshish makna yang umum, memberikan penjelasan perihal ibadah, halal haram, aqidah dan akhlaq atau segala sesuatu yang erat hubungannya
dengan hal tersebut, sunnah dalam bagian ini merupakan hal yang sifatnya umum atau universal, dan terus berlaku hingga hari kiamat.


b. Sunnah yang bersumber dari Rasulullah Saw, di mana Rasulullah Saw berperan sebagai imam dan pimpinan tertinggi bagi kaum muslimin, seperti mengutus tentara perang, membagikan harta dalam baitul mâl untuk kebutuhan tertentu, mengangkat wali dan Qadhi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kemaslahatan umum. Sunnah dalam bagian ini tidak bersifat umum, semua pekerjaan tersebut tidak boleh dilakukan kecuali dengan izin imam, dan seseorang tidak boleh melakukan hal itu dengan dalih bahwa Rasulullah Saw melakukannya.
 

c. Sunnah yang bersumber dari Rasulullah Saw ketika beliau berperan sebagai Qadhi dalam menyelesaikan sengketa, sunnah dalam bagian ini juga bersifat khusus, seseorang hanya boleh melakukannya jika dia menjadi Qadhi.
 

Adapun Sunnah Ghairu Tasyri’iyyah adalah meliputi :
a. Sunnah yang merupakan pemenuhan kebutuhan sebagai manusia biasa, seperti makan, minum, tidur, berkunjung, tawar-menawar dalam jualbeli dan lain sebagainya.
 

b. Perbuatan Rasulullah Saw yang sifatnya percobaan dan kebiasaan secara pribadi atau kolektif, seperti ketika menyarankan sesuatu dalam bidang pertanian, kedokteran dan lain-lain.

c. Perbuatan Rasulullah Saw dalam mengambil langkah strategis dalam sebuah kejadian, seperti mengatur strategi perang, menempatkan prajuritnya, mencari tempat berkumpul tentara dan lain-lain. Dalam hal yang sama, Abu Zahrah dengan bahasa yang lebih ringkas
membagi perbuatan Rasulullah Saw menjadi tiga bagian, yaitu perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan penjelasan masalah agama, perbuatan yang khusus bagi Rasulullah seperti beristri lebih dari empat dan perbuatan-perbuatan yang mencerminkan sifatnya sebagai manusia biasa.
 

Sunnah yang relevan dengan pembahasan tulisan ini adalah sunnah dalam kategori sebagai yang bersifat tasyri’iyyah, karena sunnah ghairu tasyri’iyyah merupakan gambaran perilaku Rasulullah Saw sebagai manusia biasa, wujud interaksi antara Sunnah dengan realitas sosial di antaranya tergambar dalam beberapa riwayat di bawah ini, yaitu :
1. Abu Hurairah ra, meriwayatkan sebuah Hadis, dia berkata, “ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw, tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu berkata, “wahai Rasulullah, celakalah aku”. Rasul menjawab, “apa yang terjadi padamu?”. Laki-laki itu menjawab, “aku telah menggauli istriku (jima’) padahal aku sedang berpuasa”. Rasul bertanya, “apakah engkau mempunyai budak untuk dimerdekakan?” Laki-laki itu menjawab, “tidak”. Rasulullah bertanya lagi, “apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”. Laki laki itu menjawab, “tidak”. Rasulullah bertanya lagi, “apakah kamu mampu memberi makan 60 orang miskin?”. Laki-laki itu menjawab, “tidak”. Abu Hurairah berkata, “lalu Rasulullah diam, dan ketika itu ada seseorang yang datang membawa sekarung kurma”. Lalu Rasulullah bertanya, “di mana si Penanya tadi?”. Laki-laki itu menjawab, “saya wahai Rasulullah”. Lalu Rasulullah bersabda, “ambillah ini (kurma) dan bersedekahlah dengannya”. Laki-laki itu menjawab, “bagaimana aku bersedekah kepada yang lebih miskin dari aku, wahai Rasulullah? Sesungguhnya di tempat kami tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada keluarga kami”. Lalu Rasulullah Saw tertawa sehingga terlihat gigi-gigi taringnya, lalu beliau bersabda, “berikanlah kepada keluargamu (sambil memberikan buah kurma)”. (H.R. Imam Bukhari).
 

2. Dalam Hadis Rasulullah Saw ditemukan, bahwa Beliau menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban yang berbeda-beda. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abi Umamah Al-Bahily Ra mengena seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah Saw mengenai jihad yang terbaik. 

Pada saat itu Rasulullah mengatakan bahwa jihad yang terbaik adalah “mengatakan kebenaran kepada pemimpin yang lalim”. Dalam kesempatan yang lain sebagaimana terekam dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah Ra ketika dirinya bertanya kepada Rasulullah Saw mengenai permasalahan di atas, jawaban Rasulullah adalah “jihad terbaik adalah haji yang mabrur”. (H.R. Imam Bukhari).
 

3. Secara lebih jelas Rasulullah Saw pernah bersabda, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahamannya”. (H.R. Imam Bukhari).
 

Ketiga contoh hadis di atas memberikan sebuah pelajaran mengenai bagaimana kondisi (realitas sosial) menyebabkan adanya perbedaan dalam menyikapinya, seseorang tidak mungkin dipaksa untuk melakukan amalan yang berada di luar batas kemampuannya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru