oleh

Syahadat Sebagai Upaya Latihan Pembentukan Kepribadian Muslim

Syahadat Sebagai Upaya Latihan Lisan Pembentukan Kepribadian Muslim

Pada latihan lisan dengan dengan cara mulut menyebut atau menyuarakan kata -kata atau kalimat tertentu baik bahasa Arab maupun bahasa Indonesia atau Jawa, termasuk doa, akan menciptakan outo-sugesti bagi seseorang untuk melakukan hal-hal tertentu sebagaimana yang diucapkan, misalnya, do’a bercermin yang artinya : ”Semoga Allah memberi-kan kebagusan akhlak kepadaku sebagus Allah telah menciptakan diriku”. 

Do’a ini memberikan sugesti pada diri sendiri untuk berusaha berbuat baik atas kesadaran bahwa Allah telah menciptakan sarana pada dirinya untuk berbuat kebaikan dan kebenaran, anak yang suka berbohong, dilatih dengan terus menerus mengatakan pada dirinya sendiri di mana pun dan kapan pun terutama pada saat mau berbohong :”Aku anak jujur, aku anak jujur, aku bukan pembohong, aku bukan pembohong”, akan mampu menekan kesukaannya berbohong dan sedikit demi sedikit belajar berbuat jujur.
 

Outo sugesti akan efektif jika apa yang dikatakan dipahami betul oleh individu, oleh sebab itu bacaan-bacaan doa, zikir, shalat dan seterusnya akan lebih efektif jika dipahami secara proporsional kemudian dihayati. Pepatah Arab mengatakan bahwa salaamatul insan fiy hifdzillisaan (keselamatan seseorang ditentukan oleh penjagaan atas lisannya). 

Dua kalimat syahadat yakni “Asyhadu allaa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna
Muhammadar Rasuulullah” (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa sungguh Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah) merupakakn pengingat paling dasar dan mendasar untuk memberikan outo sugesti bahwa tidak ada semangat, motif, dan tujuan, serta kesadaran diri, kecuali hakikatnya semuanya adalah Allah semata.


Nabi Muhammad Saw merupakan manusia suri tauladan, contoh makhluk sempurna seperti hakikat makhluk yang dikehendaki oleh Allah yang oleh karenanya perilakunya merupakan referensi untuk manusia berbuat dan bertingkah laku. Mengingat pentingnya hal ini, maka dua kalimat syahadat merupakan rukun (keharusan dilakukan) dalam shalat dibaca pada tasyahud akhir, bahkan ditambahkan dengan contoh manusia istimewa dengan posisi di bawah Rasulullah Saw yakni Nabi Ibrahim As dan keturunannya dan orang-orang shaleh. 

Jadi, Nabi Muhammad Saw, Nabi Ibrahim As dan orang-orang shaleh menjadi model bagi manusia untuk ditiru, hal ini senada dengan teori kognitif sosial dari Albert Bandura yang menyatakan bahwa pembelajaran dapat terjadi dengan cara praktik melalui tindakan yang sebenarnya atau dapat dengan cara mengalaminya melalui orang lain dengan mengamati
model-model yang melakukannya (misalnya model hidup, simbolis dan gambaran dalam 

media elektronik).

Pendekatan lisan ini juga termasuk hal-hal yang pengucapannya dilakukan dengan cara dilagukan, misalnya lagu-lagu ruhani dan nasyid, anak yang suka menyanyikan lagu keras memberontak, maka akan cenderung berperilaku memberontak dan agresif, anak yang senang menyanyikan lagu melankolis juga cenderung penyedih dan seterusnya. Islam mengajarkan melantunkan ayatayat Al-Qur’an, juga bersholawat kepada Nabi, termasuk lagu apa saja yang ruhnya membimbing manusia kepada kebaikan seperti lagu Indonesia Rraya dan lagu-lagu perjuangan lainnya, mampu membangkitkan semangat juang dan cinta tanah air. 

Melalui lagu, outo sugesti diperkuat dengan dua olahan kognisi dan emosi, jenis nada tertentu dengan intonasi tertentu ikut menentukan efektifitas latihan, kira-kira akan lahir sosok seperti apa apabila dalam setiap waktu dan tempat orang berdzikir kepada Allah dan bersholawat kepada Nabi? Lebih lanjut latihan lisan ini dianjurkan dalam Islam khususnya dalam ajaran tasawuf dalam bentuk wirid-wirid dengan berbagai bacaan dan ketentuan.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru