oleh

Syarat Sempurnanya Ilmu dan Amal

Makna Kaidah Dalam Ilmu dan Amal

Semua hukum ilmu dan amal tidak sempurna kecuali dengan dua perkara, yaitu : Terpenuhi syarat dan rukunnya serta tidak ada penghalangnya.

Makna kaidah yang pertama adalah hukum yang tidak berhubungan dengan amal perbuatan, yang biasa di sebut oleh para ulama’ dengan hukum yang berhubungan dengan aqidah.

Makna kaidah yang kedua adalah hukum yang berhubungan dengan amal perbuatan, baik perbuatan lisan maupun anggota badan lainnya, juga baik yang berhubungan dengan Allah saja.

Misalnya shalat, puasa dan lainnya, maupun yang berhubungan dengan sesama misalnya hukum jual beli, sewa menyewa, pernikahan, perceraian, jihad dan lainnya.

Syaratnya dalam istilah para ulama’ adalah sesuatu yang harus ada untuk sahnya sesuatu lainnya dan dia bukan merupakan hakikat dari sesuatu tersebut, contohnya bersuci adalah syarat shalat.

Rasulullah Saw bersabda : “Allah tidak menerima shalat seseorang tanpa bersuci.” (H.R. Muslim).

Maka seseorang yang mengerjakan shalat harus dalam keadaan bersuci, karena kalau tidak dalam keadaan bersuci, maka shalatnya tidak sah dan bersuci itu sendiri bukan merupakan hakikat shalat.

Karena hakikat shalat adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang di mulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam dengan niat beribadah kepada Allah.

Kaidah rukun adalah sesuatu yang harus ada untuk sahnya sesuatu lainnya dan dia merupakan salah satu hakikat dari sesuatu tersebut, contohnya sujud adalah rukun shalat, maka seorang yang shalat harus mengerjakan sujud, kalau dia tidak sujud maka shalatnya tidak sah, sedangkan sujud itu sendiri merupakan bagian dari hakikat shalat, karena dia adalah salah satu perbuatan antara takbir dan salam.

Kaidah syarat adalah sesuatu yang apabila terdapat pada sesuatu, maka bisa mencegah atau menghalangi sahnya sesuatu tersebut, contohnya haid penghalang wanita dari mengerjakan puasa, maka kalau seseorang sedang puasa lalu keluar darah haid maka puasanya tidak sah, karena adanya penghalang tersebut.

Jadi makna kaidah ini adalah :

“Semua hukum baik yang berhubungan dengan masalah ilmiyyah maupun amaliyyah tidak sah dan tidak sempurna kecuali apabila terpenuhi semua syarat dan rukunnya serta tidak terdapat penghalangnya, yang ini berarti kalau salah satu syarat dan rukun dari hukum tersebut tidak terpenuhi atau terdapat salah satu penghalangnya, maka sesuatu tersebut di hukumi tidak sah dan tidak sempurna.”

Kedudukan Kaidah Dalam Ilmu dan Amal

Ini adalah sebuah kaidah yang sangat besar dan banyak manfaatnya, dengannya akan terjawab banyak permasalahan yang di rumitkan oleh sebagian kalangan.

Syaikh Abdur Rahman As Sa’di berkata : Ini adalah sebuah kaidah besar yang mencakup semua hukum baik masalah ilmiyyah maupun amaliyyah.” (Lihat Al Qowa’id wal Ushul Jamiah halaman : 33)`

Contoh Penerapan Kaidah Yang Di Maksud

A. Dalam masalah ilmiyyah :
1. Contoh pertama :

Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang mengucapkan La Ilaha Illallah, maka dia akan masuk syurga.” (Lihat Ash-Shahihah : 1135).

Banyak orang yang memahami bahwa hadits ini menunjukkan bahwa semua orang yang pernah mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia akan masuk syurga, benarkah demikian secara mutlak?

Jawabnya : “Tidak mesti, karena yang di sampaikan oleh Rasulullah Saw dalam hadits ini adalah sebuah hukum, yang tidak akan terpenuhi dan sempurna kecuali dengan sempurnanya syarat dan rukunnya serta tidak ada penghalang.”

Sedangkan rukun La Ilaha lllalah adalah menafikan dan menetapkan yaitu menafikan semua sesembahan dan hanya menetapkannya kepada Allah saja, sedangkan syaratnya ada tujuh macam yang tergabung dalam bait berikut ini :

“Ilmu, yakin, ikhlas dan jujur…
Cinta, tunduk dan menerima…
Yang ke delapan di tambah kufur dengan…
Semua sesembahan selain Allah…

Maka orang yang mengucapkan la ilaha illallah, namun masih menyembah juga kepada yang lainnya, maka tauhidnya tidak sah, begitu juga bagi yang tidak memenuhi salah satu syaratnya seperti dia tidak meyakini atau tidak menerima dengan sepenuh hati atau syarat lainnya, maka tauhidnya juga tidak sah dan sempurna.

Demikian juga kalau terdapat salah satu penghalangnya semisal kalau dia murtad atau melakukan salah satu perbuatan yang menyebabkan dia keluar dari Islam.

2. Contoh kedua :
Jabir bin Abdillah berkata : “Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan riba, penulis akad riba dan kedua saksinya. Mereka semua sama. (H.R. Muslim).

Lalu muncul pertanyaan : “Apakah semua orang yang pernah melakukan transaksi riba akan terlaknat sebagaimana yang termaktub dalam hadits mulia ini?”

Jawabnya : “Tidak, karena kandungan hadits ini adalah sebuah hukum ilmiyyah dan itu butuh terpenuhi syarat rukun dan hilang penghalangnya, maka orang yang makan harta riba, berfatwa bolehnya riba atau menjadi saksi riba bisa saja tidak terkena laknat apabila ada penghalangnya semisal dia jahil (tidak mengetahui keharamannya) atau dia mu’awwil (mentakwil dan menganggap bahwa itu bukan riba) atau dia telah bertaubat atau amal perbuatan shalih dia lebih banyak dari pada dosa ribanya atau penghalang lainnya.”

3. Contoh ketiga :
Allah berfirman : “Dan Rabb-mu berfirman : Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (Q.S. Ghafir/40 : 60). Ada sebagian kalangan yang merumitkan ayat ini dengan mengatakan dalam ayat ini Allah berjanji akan mengabulkan orang yang berdo’a pada-Nya, namun betapa banyak do’a yang tidak terkabulkan?

Maka jawabannya : Yang terdapat dalam ayat ini adalah sebuah janji dari Allah dan itu tidak akan terpenuhi kecuali kalau terpenuhi syarat rukun dan hilang penghalangnya, maka sangat bisa jadi sebuah do’a tidak terkabulkan karena ada penghalangnya, seperti orang yang berdo’a makan dan minum dari harta yang haram.

Perhatikanlah hadits ini :
Dari Abu Hurairah berkata : “Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah itu Maha baik dan hanya menerima yang baik-baik saja.”

Dan sesungguhnya Allah memerinntahkan kaum mu’minin sebagaimana Allah memerintahkan para Rasul : “Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shaleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mu’minun/23 : 51).

Allah juga berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizqi yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (Q.S. Al-Baqarah/2 : 172). Kemudian Rasulullah Saw menyebutkan kisah seorang laki-laki yang berambut kusut, penuh debu, menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata: “Ya Rabbi, Ya Rabbi.”

Namun makanannya haram, minumannya haram dan tumbuh dari makanan yang haram, bagaimana mungkin do’anya akan di kabulkan?” (H.R. Imam Muslim 1015, At-Tirmidzi : 2989 dan Ad Darimi : 2817).

B. Sedangkan contoh dalam masalah amaliyyah :

1. Dalam masalah hukum ibadah

Orang yang mengerjakan shalat, namun dia tidak menutup aurat, maka shalatnya tidak sah karena tidak terpenuhi salah satu syaratnya, Rasulullah Saw bersabda : “Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah baligh kecuali dengan penutup kepala.” (H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi).

Wanita yang niat puasa, dia tidak makan, minum dan jima’ dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, namun tengah hari keluar darah nifas, maka puasanya batal karena terdapat salah satu penghalangnya dan ini dengan kesepakatan para ulama’, karena hukum nifas dalam masalah ini sama dengan haidl.

Orang yang berangkat haji namun tidak wukuf di Padang Arafah, maka hajinya batal karena tidak terdapat salah satu rukunnya, Rasulullah Saw bersabda : “Haji itu wukuf di Arafah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

2. Dalam masalah muamalah

Orang yang bertransaksi akan mengadakan akad jual beli, namun ternyata barang yang di jual tidak ada, maka jual beli tersebut tidak sah karena tidak ada salah satu rukunnya.

Ada orang yang menyewakan rumah dengan harga satu juta pertahun, namun rumah itu bukan rumahnya sendiri dan juga dia bukan orang yang di beri wewenang oleh yang punya, maka meskipun ada yang menyepakati transaksi itu, maka sewa menyewa itu tetap batal karena tidak terdapat salah satu syarat sewa menyewa yaitu barang yang di sewakan milik dia sendiri atau dia di wakilkan oleh empunya.

Seorang bapak muslim wafat meninggalkan anak kafir, maka meskipun dia anak kandungnya sendiri, namun tidak mendapatkan warisan karena ada penghalangnya yaitu kekafiran si anak.

Berdasarkan hadits dari Usamah bin Zaid RA, ia berkata : “Rasulullah Saw bersabda : “Orang muslim tidak mewarisi orang kafir, begitu juga orang kafir tidak mewarisi orang muslim.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Baca juga...  Ragam Kesaksian

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru