oleh

Tahapan Menuntut Ilmu Syar’i

Banyak pertanyaan tentang tata cara menuntut ilmu, ilmu apa yang pertama kali harus di pelajari oleh seseorang yang ingin menuntut ilmu dan matan apa yang pertama kali harus di hafal? Bagaimana pengarahan bagi para penuntut ilmu tersebut?

Pertama-tama dan sebelum arahkan mereka terlebih dahulu agar mereka menuntut ilmu dari seseorang alim yang berilmu, karena mencari ilmu dari seorang alim terkandung dua faedah yang agung :

Pertama, lebih efektif, karena seorang alim mempunyai daya telaah dan pengetahuan dan memberikan ilmu dengan ilmu yang matang dan mudah.

Kedua, mencari ilmu dari seseorang yang alim akan lebih dekat kepada kebenaran, dalam arti orang yang menuntut ilmu kepada seorang yang bukan alim akan menimbulkan sikap mengada-ada dan pendapat-pendapat yang syadz (menyimpang/ganjil) yang jauh dari kebenaran, hal itu di sebabkan karena dia tidak membaca kitab di hadapan orang alim yang ilmunya mendalam sehingga bisa mendidiknya di atas jalan yang di pilihnya.

Maka, seseorang harus bersungguh-sungguh memiliki seorang guru untuk mencari ilmu, karena jika dia memiliki guru maka guru tersebut akan mengarahkannya dengan pengarahan yang menurutnya sesuai dengan murid (yang di ajarnya).

Adapun jawaban bagi pokok pertanyaan di atas, maka secara umum kita katakan:

Pertama, lebih utama bagi seseorang untuk menghafal Kitabullah sebelum kitab lainnya, karena ini merupakan kebiasaan para Sahabat Radhiallahu’anhum, mereka tidak bergeser dari sepuluh ayat pertama sebelum mereka mempelajari (menghafal) ilmu yang terkandung di dalamnya serta mengamalkannya dan Kalamullah adalah kalam yang paling sempurna secara mutlak.

Kedua, dia harus mengambil matan (redaksi) hadits-hadits ringkas yang akan menjadi simpanan baginya ketika berdalil dengan Sunnah, seperti yang ada dalam `Umdatul Ahkaam, Buluughul Maraam, Al-Arba’iin An-Nawawiyyah dan yang semisalnya.

Baca juga...  Hukum Menurunkan Pakaian (Isbal) Bagi Pria

Ketiga, menghafal matan-matan fiqh yang sesuai dengan dirinya dan matan yang paling bagus yang kita hafal adalah Zaadul Mustaqni’ fii Ikhtishaaril Muqni‘, karena (syarah) kitab ini telah di kerjakan oleh pensyarahnya Manshur bin Yunus Al-Bhuthi dan orang-orang setelahnya dari orang-orang yang mengerjakan syarah dan matan kitab ini dengan catatan kaki yang banyak.

Keempat, kuasailah Nahwu, tahukah? apa itu nahwu? yang tidak di ketahui oleh para penuntut ilmu kecuali hanya sedikit saja di antara mereka, sehingga kita melihat seseorang telah lulus dari satu fakultas dalam keadaan tidak mengetahui ilmu nahwu sedikit pun, persis seperti apa yang digambarkan oleh seorang penya’ir :

ل بارك ال ف النحو ول أهله * إذا كان منسـوبا إل نفطويه
أحـرقه ال بنصـف اسـمه * وجعل الباقي صـراخا( عليه

“Semoga Allah tidak memberi barakah dalam nahwu dan ahlinya apabila dia di nisbatkan kepada pembicaraan yang tidak terpahami…Semoga Allah membakarnya dengan separuh namanya dan menjadikan sisanya sebagai teriakan atasnya.

Mengapa penya’ir ini berkata demikian? Jawabnya karena dia lemah tentang nahwu, tetapi kami katakan, bahwa pintu nahwu itu pintunya dari besi, sedangkan lorongnya adalah benang emas. Artinya dia amat keras dan sukar ketika pertama kali memasukinya, tetapi jika pintunya telah terbuka bagi orang yang mencarinya, dia akan merasakan kemudahan pada langkah selanjutnya dengan semudah-mudahnya, sehingga jadilah dia sesuatu yang mudah baginya, sehingga beberapa penuntut ilmu yang baru memulai dalam mempelajari nahwu menjadi terpikat.

Maka jika kita berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang biasa, dia akan mengi’rabnya (mengurainya) agar terlatih dalam hal i’rab, di antara matan nahwu yang paling baik adalah Al-Aajuruumiyyah, sebuah kitab yang ringkas tetapi sangat terfokus (padat).

Baca juga...  Hamil Karena Zina

Oleh karena itu di nasihatkan bagi para pemula untuk memulai dengan kitab ini, maka inilah pokok-pokok yang harus di jadikan landasan bagi para penuntut ilmu.

Kelima, adapun yang berhubungan dengan ilmu tauhid, maka kitab-kitab tentang masalah ini amatlah banyak, di antaranya: Kitaabut Tauhiid karya Syaikhul Islam Muhammad bin `Abdil Wahhab, Al-Aqiidah Al-Waasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab ini sangat banyak dan sangat di kenal, wal hamdulillah.

Dan nasihat umum bagi para penuntut ilmu, bahwa ilmunya harus berdampak terhadap dirinya berupa taqwa kepada Allah melaksanakan ketaatan kepada-Nya, berakhlak mulia, ihsan (berbuat baik) kepada sesama makhluk dengan cara mengajar, membimbing dan gigih dalam menyiarkan ilmu melalui berbagai media, baik melalui koran, majalah, kitab-kitab, risalah, buletin dan media lainnya.

Di nasihatkan kepada para penuntut ilmu agar tidak tergesa-gesa dalam menghukumi (memvonis) sesuatu, karena sebagian penuntut ilmu yang masih pemula, terlihat tergesa-gesa dalam berfatwa dan menetapkan hukum dan terkadang menyalahkan para ulama besar, sedangkan dia memiliki tingkatan yang jauh di bawah para ulama tersebut.

Saya berbicara agama dengan salah seorang penuntut ilmu yang masih pemula, lalu saya katakan kepadanya, bahwa ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, maka dia berkata, Siapa Imam Ahmad bin Hanbal? Imam Ahmad bin Hanbal laki-laki, kita pun laki-laki, itulah jawabannya dia.

Memang benar Imam Ahmad bin Hanbal laki-laki dan anda laki-laki, sehingga kalian berdua sama dalam hal kelaki-lakiannya, adapun dalam hal ilmu, maka antara kalian berdua terdapat perbedaan yang amat jauh.

Tidak semua laki-laki layak di anggap sebagai laki-laki dalam hal ilmu. Saya katakan: Seorang penuntut ilmu wajib bersopan santun, bertata krama, bersikap tawadhu’, tidak merasa ta’jub dengan diri sendiri dan hendaklah mengetahui kemampuan diri.

Baca juga...  Ziarah Kubur

Di antara hal yang penting bagi seorang penuntut ilmu adalah, janganlah dia banyak menelaah pendapat para ulama, karena jika engkau banyak menelaah pandapat para ulama dan menelaah Al-Mughni dalam masalah fiqh karya Ibnu Qudamah, Al-Majmuu’ karya An-Nawawi dan kitab-kitab besar yang menerangkan ikhtilaf dan engkau mendiskusikannya, maka engkau akan sia-sia (rusak).

Mulailah pertama kali, seperti yang telah di katakan di atas, dengan matan-matan yang ringkas, sedikit demi sedikit, sehingga akan sampai kepada tujuan, adapun jika ingin menaiki pohon dari rantingnya, maka sikap ini adalah salah dalam menuntut ilmu.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya