oleh

Tamakkun

Apa itu Tamakkun?

Kita dalam hal ini melandaskannya pada kajian tentang masalah tamakkun ini ini kepada firman Allah, “Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Q.S. Ar-Rum : 60).

Tamakkun adalah kesanggupan hati yang sisi pelandasannya kepada ayat di atas sangat jelas, bahwa orang yang mantap hatinya tidak peduli terhadap banyaknya kesibukan, tidak terusik oleh pergaulannya dengan orang-orang yang lalai dan batil, bahkan dia menjadi mantap dengan kesabaran dan keyakinannya, sehingga dia tidak gelisah karena tindakan mereka terhadap dirinya, karena itu Allah berfirman : “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar.” (Q.S. Ar-Rum : 60).

Siapa yang memenuhi hak kesabaran dan yakin bahwa janji Allah adalah benar, maka dia tidak akan takut karena ulah orang-orang yang batil dan tidak gelisah karena orang-orang yang tidak yakin, tapi selagi kesabaran atau keyakinannya melemah atau kedua-duanya melemah, maka dia akan takut terhadap mereka dan menjadi gelisah karena ulah mereka, bahkan mereka bisa menariknya ke golongan mereka, tergantung dari lemahnya kesabaran dan keyakinannya, “Tamakkun lebih tinggi daripada thuma’ninah, yaitu merupakan isyarat kepada tujuan keteguhan.”

Makna lebih jauh dari tamakkun adalah kemampuan untuk bersikap pada saat berbuat atau tidak berbuat, bisa juga di sebut makanah, Allah befirman : “Katakanlah, ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuan kalian, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Q.S. Al-An’am : 135).
Menurut pengarang Manazilus-Sa’irin, tamakkun lebih tinggi tingkatannya daripada thuma’ninah, sebab thuma’ninah termasuk jenis kecenderungan, hati menjadi thuma’ninah (tentram) karena sesuatu yang membuatnya tenang, terkadang hal ini sanggup di lakukan dan terkadang tidak sanggup di lakukan, karena itu tamakkun merupakan tujuan yang akan di tempati.

Ada tiga macam tamakkun, yaitu :
1. Tamakkun-nya murid. Dia harus menghimpun kebenaran tujuan yang mendorong perjalanannya, kejelasan ilmu yang membawanya dan keluasan jalan yang melapangkan hatinya. Murid dalam istilah golongan ini adalah orang yang sudah menetapkan pilihan untuk mengadakan perjalanan kepada Allah, jadi tingkatannya di atas ahli ibadah, ini hanya sekedar istilah yang disesuaikan dengan keadaan orang-orang yang mengadakan perjalanan itu, sebab di luar istilah itu, ahli ibadah juga bisa disebut murid dan murid bisa disebut ahli ibadah, tiga perkara yang berkaitan dengan tamakkun dalam derajat ini adalah : 

  • Kebenaran tujuan, kebenaran ilmu dan keluasan jalan.
  • Dengan kebenaran tujuan, maka perjalanannya menjadi benar.
  • Dengan kebenaran ilmu, akan terkuak jalan yang akan dilewati. Dengan keluasan jalan, maka perjalanannya menjadi mudah.

2. Tamakkun-nya orang yang sedang mengadakan perjalanan, yaitu dengan menghimpun kebenaran pemutusan, kilat pengungkapan dan sinar keadaan, derajat ini lebih sempurna daripada derajat pertama, yang pertama merupakan tamakkun dalam meluruskan tujuan amal, sedangkan derajat ini merupakan tamakkun dalam keadaan tamakkun, yang dimaksud kebenaran pemutusan adalah pemutusan hati dari segala hal yang bisa mengotorinya, jika begitu keadaannya, maka hati memperoleh sinar pengungkapan, yang menempatkan iman seperti sesuatu yang dapat dilihat dengan mata kepala.

Baca juga...  Download Buku Maqam Dzikir An-Naqsyabandi

3. Tamakkun-nya orang yang memiliki ma’rifat, yang diperoleh dalam kemuliaan kebersamaan di atas hijab pencarian, dengan mengenakan cahaya keberuntungan, orang yang memiliki ma’rifat lebih khusus dan lebih tinggi daripada orang yang mengadakan perjalanan, tapi menurut pendapat saya, ini bukan kemuliaan kebersamaan, namun merupakan kemuliaan karena pengawasan, yang merupakan ciri khusus para nabi dan orang-orang yang memiliki ma’rifat, penafsiran ini lebih pas dan lebih benar, orang yang memiliki kemuliaan ini tidak dikepung oleh mendung kelalaian dan tidak disebutkan hal-hal yang melenakannya. 

Perkataannya, “Diatas hijab pencarian”, bahwa orang yang memiliki ma’rifat naik dari kedudukan pencarian ma’rifat ke kedudukan perolehannya. Orang yang mencari sesuatu berbeda dengan orang yang sudah memperolehnya. Orang yang mencari berarti masih berada di balik hijab pencariannya, sementara orang yang memiliki ma’rifat naik dari hijab pencarian, karena dia sudah menyaksikan hakikat. Perkataan semacam ini perlu ada kejelasan lebih lanjut, sebab pencarian tidak pernah lepas dari hamba selagi hukum-hukum ubudiyah masih berlaku pada dirinya, tapi maksudnya adalah beralih di beberapa kedudukan pencarian, berpindah dari satu ubudiyah ke ubudiyah yang lain, namun sesembahannya tetap satu, tidak beralih dari-Nya. 

Bagaimana mungkin ma’rifat bisa membebaskan seseorang dari pencarian? Ini merupakan masalah, yang karenanya banyak orang yang terpeleset kakinya dan orang-orang yang tertipu beranggapan, bahwa mereka tidak perlu melakukan pencarian lagi karena ma’rifat, bahwa pencarian merupakan sarana dan ma’rifat merupakan tujuan, sehingga tidak ada gunanya menyibukkan diri dengan sarana jika tujuan sudah teraih. Mereka yang beranggapan seperti ini adalah orang-orang yang keluar dari agama secara total, setelah mereka menyimpang dari jalan.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru