oleh

Tamsil Tentang Sebuah Kebangkitan

Yang asalnya mati menjadi hidup lagi di sebut bangkit, seperti “mayat bangkit dari kuburnya”. Oleh karena itu hari kiamat disebut hari kebangkitan, karena saat itu semua manusia yang sudah mati di alam kuburnya di bangkitkan di padang mahsyar untuk menjalani tahapan kehidupan di alam akhirat.

Namun kebangkitan yang akan di bahas dalam uraian berikut ini bukan kebangkitan orang mati dari alam kuburnya, tetapi dari kematian jiwanya di sebabkan kebodohan dan kejumudan, menjadi orang yang jiwanya hidup dan lentur karena jiwa itu sudah mendapat ilmu pengetahuan dan iman.

Jiwa yang asalnya kaku dan beku itu menjadi jiwa yang cerdas dan idealis karena orang tersebut kini telah menjadi orang yang mengetahui, mengerti, memahami dan mengenal baik kepada dirinya maupun Tuhannya, itulah orang yang telah menemukan jati dirinya.

Apabila kebangkitan tanah di muka bumi yang asalnya tandus menjadi subur harus di bangkitkan dengan air hujan, maka demikian pula kebangkitan hati.

Namun bedanya, hati yang asalnya mati dan jumud itu tidak harus di bangkitkan dengan air hujan tapi dengan ilmu pengetahuan, Allah telah membuat perumpamaan (tamsil) kebangkitan jiwa tersebut dengan firman-Nya : “Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati, lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.” (Q.S. Fathir 35/9).

Apabila ayat di atas di artikan secara lahir, maka kebangkitan itu adalah kebangkitan tanah yang ada di permukaan bumi, namun bila diartikan secara batin, maka kebangkitan itu adalah kebangkitan tanah yang ada di dalam dada manusia yakni hatinya.

Kebangkitan hati dari kejumudan yang membelenggu kehidupan itu termaktub di dalam firman Allah Kadzaalikan Nusyuur, yang artinya : Demikian itulah sebuah kebangkitan.

Memang maksud ayat di atas bisa di kaitkan dengan kebangkitan tanah-tanah di atas permukaan bumi, yang asalnya tandus dan kering menjadi subur, namun oleh karena Al-Qur’an bukan di turunkan untuk bumi tapi untuk manusia, maka yang lebih tepat istilah kebangkitan ini di tujukan kepada tanah-tanah yang ada di dalam dada manusia, yaitu hati sanubari mereka.

Dalam kaitan ini, maka ulama adalah ibarat angin yang di utus (di datangkan) Allah Ta’ala di suatu tempat yang tandus keimanan, mereka itu menggerakkan awan mendung yang mengandung air hujan, itulah ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan di-ibaratkan air hujan karena ilmu pengetahuan itu menghidupkan hati-hati manusia setelah matinya, seperti air hujan menghidupkan tanah-tanah setelah tandusnya.

Kebangkitan hati itu bermula ketika ilmu yang di sampaikan oleh para ulama itu sudah di serap di dalam hati para pendengarnya, maka hati itu seketika menjadi lentur, mau menerima pendapat orang lain dan tidak sombong.

Hati seperti itu ibarat tanah yang dapat menyerap air hujan kemudian tanah itu menjadi subur, tanah yang asalnya mati itu menjadi hidup, benih-benih yang sudah ada di dalamnya tumbuh menjadi tanaman dan pepohonan, demikian pula hati manusia, maka pohon itu adalah amal shaleh yang tumbuh dari bibit yang sudah ada di dalam hati, yaitu potensi kebaikan yang setiap manusia secara fithrah memang memilikinya.

Setelah bibit-bibit kebaikan itu tumbuh menjadi amal shaleh, selanjutnya amal shaleh itu berbuah dan buahnya adalah ilmu pengetahuan lagi.
Di dalam sebuah hadisnya, Rasulullah Saw bersabda : “Barang siapa beramal dengan ilmu yang sudah di ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum di ketahui”. (atau dengan kalimat yang searti).

Ilmu yang pertama di namakan ilmu amal, sedangkan ilmu yang kedua di namakan ilmu ma’rifat. Ilmu yang pertama adalah ilmu tentang urusan Allah, ilmu yang kedua adalah ilmu tentang Allah, tentang kebesaran-Nya, tentang kekuasaan-Nya.

Baca juga...  Kepemimpinan Islam

Bahkan tidak hanya sampai di situ saja, kebangkitan itu akan menjadikan seorang hamba menjadi bertaqwa kepada Tuhannya, karena hati itu telah mengenal jati dirinya dan mengenal Tuhannya.

Ketika pengenalan (ma’rifat) itu dapat membuahkan cinta dan cinta itu mampu di tindaklanjuti dengan pengabdian yang hakiki, maka seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan (kharisma) di sisi Allah Ta’ala.

Demikianlah yang di maksudkan dengan ayat berikutnya dari firman Allah tersebut di atas : “Barang siapa menghendaki Izzah (kemuliaan), maka bagi Allahlah kemuliaan itu semua, kepada-Nyalah naik Kalimah Thayibah dan amal yang shaleh mengangkatnya.” (Q.S. Fathir 35/10).

Maksudnya, siapa yang menghendaki Al-Izzah atau kharisma yang ada di sisi Allah Ta’ala, maka orang tersebut terlebih dahulu harus menguasai ilmu yang kedua, yaitu ilmu ma’rifat, karena yang di maksud dengan “kalimah thayyibah” adalah ma’rifatullah yang bentuk wujudnya berupa rindu yang mampu mendorong hati untuk beramal shaleh.

Kemudian “kalimah thoyyibah” itu naik ke hadirat Allah Ta’ala dengan kendaraan mujahadah dan riyadhah sebagai perwujudan amal shaleh yang di lakukan. Jadi, kebangkitan yang pertama itu adalah kebangkitan ilmu pengetahuan dari kebodohan hati kemudian yang kedua adalah kebangkitan amal shaleh dari malas, selanjutnya mendapat ilmu lagi (ilmu ma’rifat) yang dapat melahirkan amal shaleh lagi sebagai kendaraan untuk menempuh jalan (thariq atau thariqat) yang akan menyampaikan ilmu yang kedua (ma’rifatullah) itu kepada yang “di ilmui”, yaitu Allah.

Itulah serangkaian proses kebangkitan hati seorang hamba yang asalnya mati dalam kejumudan hidup menjadi ideal serta wushul kepada Tuhannya sehingga mampu bermusyahadah dan mencintai-Nya.

Yang demikian itu(keempat tahapan bagi sebuah kebangkitan), baik yang terjadi secara individu maupun kebangkitan umat manusia secara kelompok masyarakat, adalah urutan proses walayah atau tarbiyah azaliah di dalam aspek ilmu pengetahuan.

Agar dengan itu seorang hamba dapat mengenal dan mencintai Tuhannya, kebangkitan hati itu di bangkitkan Allah Ta’ala melalui (Wasilah) jerih payah para Ulama’ pilihan-Nya yang di tebarkan dari sumber pusarannya, yaitu nafas suci perjuangan Rasulullah Saw.

Kebangkitan hati manusia itu kemudian di hembuskan bagaikan mega mendung yang diterbangkan angin hingga merata ke seluruh pelosok penjuru bumi. Sejarah telah membuktikan, semenjak terutusnya baginda Nabi Saw sebagai Rasul di muka bumi, di Haramain (Makkah Madinah), mutiara-mutiara utama yang telah mendapatkan tempaan tangan mulia itu selanjutnya mampu menghidupkan bumi-bumi mati di daerah wilayah sekitarnya, mereka kemudian menyebar sampai ke pelosok-pelosok bumi yang terpencil.

Itulah kebangkitan Islamiyah yang hasilnya mampu di rasakan orang beriman sampai sekarang. Di dalam lembaran lontar sejarah tanah Jawa, semangat perjuangan para mutiara itu telah merajut catatan sejarah dengan benang emas di sehelai selendang sutra.

Catatan sejarah yang mendapatkan penghargaan tinggi dari manusia yang hatinya hidup dan selamat, sehingga nafas suci perjuangan mereka masih tercium harum sampai sekarang dari tapak tilas yang masih kelihatan segar bugar.

Pundi-pundi ilmunya telah terpahat abadi di dalam pusarapusara yang hidup dan setiap kali bercerita kepada setiap orang yang menziarahinya. Mereka itulah mutiara-mutiara cemerlang dari keturunan seorang Mutiara yang Agung Muhammad Saw, anak cucu (dzurriyah) yang mulia yang sekaligus sebagai penerus perjuangan yang tiada henti.

Manusia-manusia pilihan yang telah berjuang dengan tulus dan mandiri, para “Wali songo” itu, yang delapan dari sembilannya adalah dzurriyah Nabi, dengan tetesan keringat dan bahkan kucuran darah, bersama anak negri yang telah merasakan limpahan rahmat dari kasih sayang mereka, telah berhasil membongkar sarang-sarang kemusyrikan dan kemaksiatan serta membangun sendi aqidah “ahlus sunnah waljama’ah” di tanah negri tercinta ini, kemudian untuk membangkitkan hati-hati yang asalnya mati karena di belenggu oleh kekafiran dan kejumudan.

Hati anak negri yang semula kafir itu telah di bangkitkan dengan “nur iman” melalui ilmu, amal dan akhlak mulia yang mereka ajarkan, sehingga di sana-sini kemudian bermunculan ulama-ulama sejati zamannya sebagai Khalifah Allah di muka bumi, itulah fakta yang tidak dapat di pungkiri.

Baca juga...  Al-Qadha (Lembaga Peradilan Islam)

Maka barang siapa mengakui fakta itu dengan penerimaan yang benar, itulah pertanda orang yang telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus, di dalam firman-Nya yang lain (Q.S. Ar-Ra’d 13/17-18), cara masuknya ilmu pengetahuan, serta apa-apa yang dapat terjadi di dalam hati setelah terjadi proses masuknya ilmu pengetahuan itu, di tamsilkan Allah Ta’ala dengan gambaran lain yang lebih detail.

Allah berfirman : “Allah telah menurunkan air hujan dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seperti buih arus itu, demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfa’at kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (di sediakan) balasan yang baik.” (Q.S. Ar-Ra’d 13/17-18).

Seperti air hujan yang di turunkan dari langit bumi, ketika “ilmu” tersebut di curahkan dari perbendaharaannya di langit hati melalui ulama’-
ulama’ Nya, di curahkan atas dasar kepedulian hati yang tulus dan murni melalui da’wah-da’wah dan mujahadah yang di lakukan siang dan malam, “rahmat Allah yang terbesar” itu kemudian mendapat penerimaan yang baik di hati umatnya.

Ilmu itu selanjutnya dengan mudah meresap di dalam hati manusia yang sedang haus, seperti air hujan di serap di dalam bumi yang sedang gersang dan tandus. Hati manusia yang sedang haus itu kemudian menampung ilmu pengetahuan tersebut sesuai kemampuannya, bagaikan lembah yang menampung air hujan, kemudian terjadilah arus di dalamnya dan tanda-tanda arus itu adalah buih yang mengambang di permukaan.

Arus itu adalah perumpamaan yang hak, yaitu pemahaman yang benar dan aqidah yang mengakar yang mampu menyinari karakter, perilaku dan perbuatan, sedangkan buih itu adalah perumpamaan yang bathil, yaitu sifat riya’, menyebutnyebut kembali, sombong dan pengakuan nafsu yang seringkali ikut membonceng di dalam amal dan kebajikan.

Hanya arus yang ada di dasar air itu yang akan membawa kemanfa’atan bagi manusia (Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Dan yang memberi manfa’at kepada manusia, maka ia tetap di bumi. (Q.S. Ar-Ra’d 13/17).

Sedangkan buih yang ada di permukaan itu akan hilang tanpa ada harganya manakala amal itu tidak terjaga dari sifat basyariyah yang merugikan. Oleh karena itu, buih itu boleh ada, tapi hanya sebagai tanda-tanda bahwa di dalam dada sedang ada arus dan arus itu adalah reaksi dari ilmu pengetahuan yang sudah di miliki.

Maka dari itu, siapapun boleh menampakkan aktifitas agamanya di luaran, dengan mujahadah dan perjuangan yang dapat di lihat orang, tetapi mereka harus sadar, bahwa yang di luaran itu hanyalah tanda-tanda, karena di dalam hati saat itu sedang ada kerja, yaitu kepedulian kepada sesama hamba Allah secara tulus yang dibungkus dengan amal perbuatan.

Namun, yang terpenting adalah apa yang ada di dalam dada, karena yang isi hati itu adalah ruh ibadah yaitu keikhlasan hati. Dan di hadapan Allah Ta’ala, hanya yang di dalam itulah yang akan mendapat penilaian. Sebab, bagaimanapun baiknya sebuah kemasan, kalau yang di kemas ternyata bangkai, semakin lama baunya akan tercium juga, sehingga kemasan itu akhirnya pasti akan terbuang dengan percuma.

Baca juga...  Ummat Islam, Bangkitlah!!!

Barangkali seperti itulah yang banyak terjadi di dalam fenomena akhir-akhir ini, berbagai manufer politik yang dilaksanakan oleh para tokoh masyarakat yang aspal (asli tapi palsu). Mereka mengaku dan mengatasnamakan Agama padahal sejatinya hanya mencari keuntungan duniawi yang sifatnya pribadi.

Mereka berdalih untuk membela negara dan bangsa, padahal membuat provokasi terselubung dengan memanfaatkan kelemahan lawan politik sekedar hanya mendongkrak eksistensi diri yang sedang sekarat. Mereka tidak malu-malu lagi dan tidak sadar bahwa yang demikian itu hanyalah sekedar bentuk unjuk kemunafikan yang menggelikan.

Yang lebih ironis lagi, kadangkadang kemasan itu bahkan berbentuk haflah istighatsah dan mujahadah akbar. Amal ibadah yang biasanya di lakukan Nabi Saw dan para Ulama’ sejati untuk melahirkan keprihatinan hati kepada Allah Ta’ala atas kesusahan dan penderitaan umat, malah di gunakan mencari pangkat dan jabatan.

Do’a bersama yang semestinya merupakan sarana komunikasi antara seorang hamba secara jama’ah dengan Tuhannya itu, oleh para tokoh gadungan itu hanya di jadikan alat politik untuk menggalang umat supaya mendukung kehendak hawa nafsunya sendiri.

Mereka (para tokoh gadungan itu) tidak sadar bahwa perbuatan yang demikian itu hanya akan mempermalukan diri mereka sendiri di hadapan Tuhannya nanti di hari kiamat. Oleh karena itu, meski amal yang diperbuat itu sejatinya adalah amal yang utama, namun oleh karena tujuannya telah terkontaminasi dengan niat yang keji, mereka memanfaatkan keawaman dan kepatuhan umat sekedar untuk memperturutkan kehendak hawa nafsu dan syetan, maka amal itu akan tertolak di hadapan Allah Ta’ala, bahkan hanya akan meninggalkan kemunafikan yang mengakar dalam hati masyarakat yang gilirannya akan menggerogoti aqidah dan iman.

Akhirnya menjadi muassal timbulnya perpecahan dan permusuhan antara sesama teman, hal itu di sebabkan, karena yang sedang mereka lakukan itu sejatinya hanyalah buih mengambang yang segera akan musnah dan sia-sia.

Untuk itu, hendaklah amal ibadah tersebut di laksanakan dengan baik dan sempurna, lahir dan batin. Lahirnya adalah amal shaleh dan batinnya adalah niat yang hasanah (baik). Kalau tidak, maka amal itu akan tertolak di sisi Allah Ta’ala.

Rasulullah Saw telah menyatakan hal tersebut melalui sabdanya : “Sungguh seorang hamba telah beramal dengan amal yang baik, maka malaikat mengangkatnya di dalam catatan-catatan yang tertutup di haturkan di hadapan Allah, maka Allah berfirman : “Lemparkanlah kitab-kitab ini, karena ia di laksanakan dengan tidak menghadap kepada Wajah-Ku”.

Kemudian malaikat-malaikat di panggil : Tulislah seperti ini, tulislah seperti ini. Para malaikat berkata: “Wahai Tuhanku, mereka tidak berbuat seperti itu”.Allah menjawab : “Sesungguhnya itu adalah niatnya”. Hadits Daru Quthni, dari Anas Ra dengan sanad hasan.

Walhasil, bisa jadi pelaksanaan “istighatsah akbar” yang di jadikan alat politik itu justru yang menjadi penyebab perpecahan dan kehancuran umat Islam dewasa ini, karena niat “amal utama” itu sejatinya hanyalah sekedar untuk mengaktualisasikan desakan kemauan hawa nafsu yang membara dan kemunafikan yang mengakar dalam hati yang sedang bertikai.

Allah Ta’ala telah memberi peringatan tentang yang demikian itu dengan firman-Nya : “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Q.S. Al-Mu’minun 71).

Tanda-tandanya, ternyata “istighatsah akbar” itu bukannya menjadi perekat persaudaraan umat sebagaimana tujuan istighatsah itu seharusnya di lakukan, namun malah melahirkan perpecahan, permusuhan dan bahkan perbuatan anarkis yang menimbulkan kerusakan di mana-mana, demikianlah fenomena telah berbicara di mana-mana.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya