oleh

Tawassul Pembuka “Al-Abshaara”

Praktek tawasul merupakan pelaksanaan perintah Allah yang termaktub dalam firman-Nya Q.S. At-Taubah : 119.

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang shiddiq.” (Q.S. At-Taubah : 9/119).

Dan juga surat Al-Baqarah ayat 43 : “Dan ruku’lah bersama-sama dengan orang yang ruku‘.” (Q.S. Al-Baqarah : 2/43).

Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar bertaqwa kepada-Nya, di dalam pelaksanaan taqwa itu hendaknya dilaksanakan bersama orang-orang yang Siddiq (benar), jangan dilaksanakan sendiri-sendiri.

Demikian juga, orang-orang yang ruku‘ hendaknya ruku‘ bersama orang-orang yang ruku‘ dan jangan ruku‘ secara sendiri-sendiri, orang yang sudah mampu membenarkan segala kehendak Allah Ta’ala kepadanya, baik itu baginya menyenangkan ataupun menyusahkan.

Oleh karena sudah dimaklumi bahwa manusia adalah makhluk lahir-batin, maka hendaklah pelaksanaan taqwa itu dilaksanakan secara lahir-batin pula, apabila berjama‘ah secara lahir tidak dimungkinkan karena seseorang sedang sendirian, maka haruslah pelaksanaan taqwa itu dilaksanakan dengan berjamaah secara batin.

Demikianlah maksud yang termaktub di dalam dua ayat tersebut,oleh karena itu, meski shalat itu dilaksanakan dengan sendiri (munfarid), kalimat yang dibaca (Q.S. Al-Fatihah : 5), tetap dengan kalimat jamak, yaitu ketika membaca ayat: “Iyyaaka na‘budu wa iyyaaka nasta‘iin”, yang artinya: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”, bukannya dengan kalimat; “hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.”

Seakan-akan seorang hamba berkata: “Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang hina dina, tidaklah pantas bagiku untuk menghadapkan munajatku kepada-Mu dengan sendiri, maka aku gabungkan dengan seluruh munajatnya orang-orang yang bertauhid kepada-Mu, aku berdo‘a kepada-Mu bersama mereka, maka terimalah do‘aku bersama mereka, hanya kepada-Mu kami semuanya menyembah dan memohon pertolongan.” (Asy-Syaikh Ali Ash-Shabuni : Rawa’iul Bayan).

Baca juga...  Hakikat Asma Allah

Kalau seseorang hanya mengartikan perintah Allah tersebut di atas dari aspek lahiriahnya saja, yaitu untuk bersama-sama atau ma‘iyah dengan orang-orang yang shiddiq atau dengan orang-orang yang ruku‘ itu tidak mampu menembus dimensi batiniah, berarti orang tersebut kurang cermat dalam mendalami arti ayat-ayat tersebut.

Mereka kurang penghayatan dalam mengadakan penggalian (istinbath) terhadap makna yang dikandung di dalamnya, hal itu bisa berakibat, disamping makna ayat-ayat itu akan terasa menjadi sempit, juga ketika ayat itu diangkat di dalam penghayatan sebuah ibadah, maka yang terasa dari ibadah itu hanyalah kulitnya belaka.

Hanya di dalam nuansa syari‘at dan jauh dari merasakan isinya, apalagi untuk menemukan rahasia-rahasia yang terkandung di dalam ibadah yang sedang dijalani tersebut.

Itulah gambaran yang dimaksud dengan istilah orang yang melaksanakan agamanya hanya di tepiannya saja, sebagaimana yang telah diperingatkan Allah dengan firman-Nya: “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S. Al-Hajj : 11).

Padahal Allah menciptakan alam semesta ini dalam dua dimensi, dimensi lahir dan dimensi batin, supaya manusia dapat merasakan kedua dimensi itu, maka dijadikan-Nya bagi manusia dua alat perasa (indera) yang sifatnya lahir dan batin pula yaitu yang disebut dangan “Bashara” dan “Bashirah”.

Allah telah mengisyaratkannya dengan firman-Nya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (Q.S. An-Nahl : 16/78).

Baca juga...  Tawassul Sebagai Saksi

Yang dimaksud “As-Sam’a” (pendengaran) dan “Al-Abshaara” (penglihatan) adalah indera-indera lahiriah atau indera jasmaniah yang disebut “Bashara.”

Sedangkan yang dimaksud “Al-Af’idah” atau hati adalah indera batin atau ruhaniah dan disebut “Bashirah”, lebih jelas lagi apa yang telah dinyatakan Allah di dalam firman-Nya yang lain: “Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”. (Q.S. Al-Hajj : 22/46).

Maksud ayat, oleh karena hatinya (Bashirah) telah terlebih dahulu menjadi buta, maka walaupun mata lahirnya (Bashara) telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang luas di alam semesta, tetap saja orang orang kafir itu tidak mau beriman kepada-Nya.

Walhasil, termasuk hikmah pelaksanaan tawasul secara ruhaniah itu adalah merupakan sarana latihan yang sangat efektif untuk melatih diri dengan hanya melaksanakan satu amalan dan dalam satu waktu yang bersamaan, supaya potensi kedua indera tersebut dapat hidup serta dapat digunakan dengan baik dan seimbang.

Yaitu indera lahir untuk amal ibadah yang lahir dan indera batin untuk amal ibadah yang batin, sedangkan hakikat amalan batin adalah pelaksanaan Ma‘rifatullah, Wa Allahu A‘lamu.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru