Sebagai suatu ketetapan dari Allah (sunnatullah), bahwa sebuah amal akan sah menjadi amal yang diterima di sisi-Nya manakala amal tersebut mendapatkan persaksian dari saksi-saksi yang sah, demikian itu hukum yang berlaku di dunia, demikian pula hukum yang akan berlaku baik di alam barzah maupun di akhirat nanti.

Sholat dan dzikir seorang hamba akan mendapatkan persaksian di alam barzah dan di akhirat manakala sholat dan dzikir tersebut terlebih dahulu mendapatkan persaksian para saksi di dunia.

Orang yang bertawasul kepada orang-orang yang telah mendapatkan kenikmatan dari Allah yaitu para Nabi, Ash-Shiddiq, Asy-Syuhada’, Ash-Sholihin, hakikat tawasul tersebut dalam arti menjadikan mereka sebagai saksi-saksi secara ruhaniah bagi setiap amal ibadah yang sedang dilakukan, agar di akhirat nanti mereka juga yang akan menjadi saksi bagi amal ibadah tersebut.

Oleh karena itu, amal ibadah yang dilakukan di dunia itu harus mendapat persaksian secara lahir dan batin, secara lahir oleh guru Mursyid yang mulia sebagai pembimbing secara langsung dan para ikhwan dalam perjalanan (thariqat) yang masih hidup dan secara batin oleh guru-guru ruhani yang ditawasuli secara ruhaniah.

Apabila amal ibadah dilaksanakan dengan tanpa guru Mursyid yang membimbing dan tanpa ada saksi-saksi, maka guru-guru dan saksinya adalah syetan yang selalu mengelilingi kehidupan manusia.

Selanjutnya, bisa jadi buah yang dipetik dari amal ibadah itu adalah buah ibadah yang menguntungkan pihak syetan untuk memperdaya umat manusia secara umum.

Akibatnya, bukannya dengan amal ibadah itu manusia menjadi tentara-tentara Allah, melainkan yang terjadi malah sebaliknya, manusia akan menjadi tentara-tentara syetan yang setia.

Allah telah memberikan peringatan kepada hamba-Nya dengan
firman-Nya : Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah tentara syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tentara syetan itulah golongan yang merugi.” (Q.S. Al-Mujaadalah : 58/19).

Orang yang beramal tanpa guru pembimbing ruhaniah itu, perasaannya rentan dimasuki bisikan maut dari syetan jin, dengan bisikan itu supaya orang yang beribadah itu memandang baik kepada dirinya sendiri dan merasa lebih mulia dan lebih utama dibanding orang lain.

Kalau sudah demikian manusia akan terjebak kepada sifat sombong dan takabur, akibatnya, manusia akan merasa benar sendiri dan orang lain dianggap salah dan sesat.

Orang tersebut gampang menganggap orang lain berbuat syirik dan bid‘ah, sekedar karena secara lahiriyah dirinya telah mampu meniru budaya Arab yang diperbuat Rasulullah Saw, sekedar memakai jenggot panjang misalnya, menjadikan hatinya merasa bangga bahwa hanya dirinya yang sudah mampu mencontoh Rasulullah Saw padahal akhlaknya belum memancarkan rahmat sebagaimana yang telah dipancarkan oleh Rasulullah Saw.

Memang yang di dalam itulah sasaran utama tipu daya syetan, supaya yang di luarnya hanya menjadi perhiasan, datangnya bisikan-bisikan itu sangat halus serta terrencana dengan cermat dan dengan sistem yang canggih, sehingga manusia tidak merasa bahwa karakternya telah disusupi dengan karakter buatan yang dikirimkan syetan ke dalam hatinya.

Bahkan disaat siksa sudah didatangkan di depan mata, sebagai peringatan. Kekerasan hati akibat sifat sombong yang sudah terlanjur mendarah daging itu menjadikan hatinya tetap menolak merendahkan diri untuk berbuat taat kepada Allah.

Allah telah memberikan peringatan pula dengan firman-Nya : “Maka seandainya mereka mau tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, (barangkali mereka akan selamat dari siksaan itu) bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syetanpun menjadikan mereka memandang baik kepada apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An‘am : 6/43).

Budaya sombong dan merasa benar sendiri yang telah mampu ditampilkan oleh orang-orang yang ahli ilmu dan ibadah yang kadang-kadang diekspresikan dengan menyalahkan orang-orang lain, mereka mengkafirkan dan mensyirikkan serta membid‘ahkan sesama orang yang beriman.

Hal ini boleh jadi adalah karakter-karakter buatan syetan yang telah disusupkan ke dalam hati manusia sebagai buah ibadah yang dijalankan tanpa adanya guru-guru dan saksi yang dapat membimbing perjalanan ibadah.

Oleh karena itu, sejak di dunia, ibadah yang dilaksanakan seorang hamba seharusnya ada saksi yang menyaksikan, yaitu guru-guru ruhaniah yang ditawasuli, supaya sejak saat itu sampai di alam barzah dan di akhirat nanti, bukan syetan yang menjadi saksinya, melainkan guru-guru ruhani yang selama ini ditawasuli tersebut.

Dalil-Dalil Al-Qur’an

Dalil Pertama :

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (Q.S. Al-Ahzab : 33/45).

Dalil Kedua :

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) ketika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka (sebagai umatmu).” (Q.S. An-Nisa‘ : 4/41).

Dalil ketiga :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi Saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul(Muhammad) menjadi Saksi atas (perbuatan) kamu” (Q.S. Al-Baqarah : 2/143).

Sebagaimana Allah akan menjadikan para Rasul dan para Nabi Saw terdahulu sebagai saksi bagi umat mereka, demikian pula Rasulullah Muhammad Saw dijadikan-Nya sebagai saksi bagi umatnya.

Adalah merupakan keutamaan bagi umat Muhammad Saw yang tidak diberikan-Nya kepada umat selainnya, mereka kelak akan menjadi saksi bagi amal perbuatan yang diperbuat oleh umat yang sebelumnya.

Demikianlah secara singkat maksud yang terkandung di dalam ketiga ayat tersebut di atas, maka dengan ketiga ayat ini menjadi sangat jelas bahwa persaksian bagi amal ibadah yang dikerjakan oleh seorang hamba di dunia adalah hal yang mutlak yang harus dipenuhi, supaya amal itu dapat membuahkan hasil yang diharapkan serta sampai kepada tujuan yang paling utama, yaitu bagaimana dengan ibadah yang dijalani itu, seorang hamba dapat sampai (wushul) kepada Tuhannya.

Dengan ibadah yang dilakukan itu, supaya akhlak manusia menjadi mulia, mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Dalil-Dalil Hadits Nabi Saw :

Dalil Pertama :

“Masa hidupku adalah kebaikan bagimu, kalian berbicara dan kami berbicara untuk kalian, masa matiku adalah kebaikan bagimu, amal-amal kalian disampaikan kepadaku, ietika aku melihat amal-amal kalian yang baik, maka aku memuji kepada Allah dan apa-apa yang kulihat dari amal
kalian yang jelek, maka aku memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian.”

Dalil Kedua :

“Amal perbuatan (manusia) akan disampaikan kepada Allah pada hari senin dan kamis, dan akan disampaikan kepada para Nabi dan kepada para Bapak dan para Ibu pada hari Jum’at.

Mereka akan merasa gembira atas kebaikan amal tersebut dan wajah mereka makin tampak putih dan cemerlang, maka takutlah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah. jangan kau sakiti pendahulu- pendahulumu yang sudah mati.” (Asy-Syaikh Ahmad Asrari Al-Ishaqi).

Kalau saja orang beriman mengetahui bahwa amal ibadah yang sedang mereka laksanakan itu akan disampaikan kepada Nabinya, Nabi Agung Muhammad Saw yang sangat mereka cintai.

Satu-satunya orang yang berhak memberikan syafa‘at kepada seluruh umat manusia baik di dunia dan diakhirat, maka sejak amal itu dikerjakan, hati orang tersebut pasti mudah tertarik untuk ingat serta membayangkan saat yang sangat diharapkan tersebut.

Membayangkan saat-saat di mana amalnya akan disampaikan, dipersaksikan dan diperiksa oleh Nabi Muhammad Saw.

Betapa senangnya hati orang beriman ketika mereka tahu bahwa amal ibadahnya itu akan diketahui oleh baginda Nabi tercinta, maka perasaan yang demikian itu akan memudahkan pelaksanaan tawasul di jalur saksi ini, karena sejak itu dia merasa bahwa Rasulullah Saw sendiri yang akan menjadi saksi dari amal ibadah yang dilakukan itu.

Kalau tidak demikian, berarti mata hati manusia sedang buta atau bahkan mati sehingga tidak dapat menembus hal yang hakiki di balik ibadah yang sifatnya syar‘i, yang demikian itu pasti disebabkan adanya hijab yang menghalangi, sehingga mereka tidak dapat memahami hal yang sangat penting ini.

Oleh karena itu para murid thariqat menjadikan guru-guru mursyidnya sebagai wasilah pertama untuk supaya mereka sampai kepada wasilah-wasilah berikutnya hingga sampai kepada Rasulullah Saw.

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: