oleh

Tentang Al-Hayat

-Tasawuf-1 views

Apa itu Al-Hayat?

Allah berfirman berkaitan dengan masalah Al-Hayat (kehidupan) ini, yaitu : “Dan apakah orang yang sudah mati lalu dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? (Q.S. Al-An’am : 122).

Sisi pelandasannya kepada ayat ini sangat jelas, maksudnya siapa yang hatinya mati, tidak memiliki ruh ilmu, petunjuk dan iman, maka kemudian Allah menghidupkannya dengan ruh lain, tidak seperti ruh yang diberikan Allah untuk menghidupkan jasadnya, yaitu ruh ma’rifat dan tauhid, cinta dan beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya, sebab tidak ada kehidupan bagi ruh kecuali yang seperti demikian itu, jika tidak, maka ia termasuk orang-orang yang mati. Karena itu Allah mensifati orang yang tidak memiliki kehidupan ini sama dengan orang yang sudah mati.
“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang sudah mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan.” (Q.S. An-Naml : 80).


Allah menyebut wahyu-Nya sebagai ruh, karena dengan wahyu ini dapat di peroleh kehidupan hati dan jiwa. Firman-Nya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami, sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Q.S. Asy Syura : 52).


Allah memberitahukan bahwa wahyu adalah ruh yang menimbulkan kehidupan, bahwa wahyu adalah cahaya yang menghasilkan terang. Wahyu adalah kehidupan ruh sebagai ruh merupakan kehidupan bagi badan, karena itu siapa yang kehilangan ruh ini, maka dia kehilangan kehidupan yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Hidupnya di dunia seperti kehidupan binatang dan merupakan kehidupan yang sempit, sedangkan di akhirat dia akan mendapatkan neraka Jahannam, tidak mati dan tidak pula hidup. Allah menjadikan kehidupan yang baik hanya bagi orang-orang yang mengetahui-Nya, mencintai dan beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl : 97). 

Kehidupan yang baik ada yang menafsiri dengan kepuasan dan ridha, rezki yang baik dan lain sebagainya, yang benar adalah kehidupan hati dan kenikmatannya serta kegembiraannya karena iman kepada Allah, mengetahui-Nya, mencintai-Nya, bersandar, pasrah dan tawakal kepadaNya. Tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan seperti ini, tidak ada kenikmatan yang lebih tinggi dari kenikmatan hidup seperti ini selain dari kenikmatan syurga, jika kehidupan hati merupakan kehidupan yang baik dan di ikuti dengan kehidupan anggota tubuh, maka itulah hak miliknya yang paling berharga, karena itu Allah menjadikan kehidupan yang sempit bagi orang yang berpaling dari mengingat-Nya, yaitu kebalikan dari kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik ini berlaku di tiga alam, yaitu : Di dunia, di alam Barzakh dan di akhirat, begitu pula kehidupan yang sempit, yang juga berlaku di tiga alam tersebut, orang-orang berbuat kebaikan berada dalam kenikmatan di sini dan di sana dan orang-orang yang berbuat keburukan menderita di sini dan di sana. 

Mengingat Allah, mencintai dan menaatinya merupakan jaminan bagi kehidupan yang lebih baik di dunia dan di akhirat, sedangkan berpaling dari-Nya, melalaikan dan mendurhakai-Nya sudah cukup untuk mendatangkan kehidupan yang sempit di dunia dan di akhirat.
 

Kehidupan dalam masalah ini di isyaratkan kepada tiga perkara, yaitu :
Kehidupan yang pertama, yaitu kehidupan ilmu dari kematian kebodohan, yang memiliki tiga napas, yakni : Napas ketakutan, napas harapan dan napas cinta, yang di maksudkan kehidupan dalam masalah ini adalah kehidupan khusus yang di bicarakan golongan ini, bukan kehidupan secara umum yang menjadi milik semua jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan, kehidupan ini mempunyai beberapa tingkatan, yaitu :


1. Kehidupan bumi dengan tetumbuhan. Firman-Nya, “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu di-hidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (Q.S. An-Nahl : 65).
Allah menjadi kehidupan ini sebagai bukti tentang kehidupan pada hari berbangkit, ini merupakan kehidupan yang hakiki dan biasa di ungkapkan dalam berbagai bahasa manusia.


2. Kehidupan pertumbuhan dan pencarian makanan. Ini merupakan kehidupan persekutuan antara tetumbuhan dan hewan yang hidup dengan makanan. Firman Allah, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu bisa hidup.” (Q.S. Al-Anbiya’ : 30).


3. Kehidupan hewan yang menyantap makanan dengan takaran yang mencukupinya untuk menunjang pertumbuhan dan kebutuhannya terhadap makanan, karena itu dia akan menderita jika melakukan hal-hal yang memang membuatnya menderita atau tidak mendapatkan apa yang di inginkan dan lain sebagainya. Kehidupan ini di atas kehidupan tetumbuhan, kehidupan ini bisa menguat dan melemah pada diri satu hewan, tergantung dar keadaannya. Kehidupannya setelah lahir lebih sempurna daripada kehidupannya selagi berada di dalam rahim ibu. Kehidupannya dalam keadaan sehat, lebih sempurna daripada kehidupannya saat sakit. Kehidupan pada tingkatan ini sangat berbeda-beda dengan perbedaan yang amat jauh. Kehidupan ular masih lebih baik daripada kehidupan nyamuk. Siapa yang tidak sependapat dengan hal ini, berarti dia menentang perasaan dan akalnya.


4. Kehidupan hewan yang tidak membutuhkan makanan dan minuman, seperti kehidupan para malaikat dan kehidupan ruh setelah berpisah dari badannya. Kehidupan ini lebih baik daripada kehidupan hewan yang membutuhkan makanan, karena itu yang memiliki kehidupan ini tidak pernah mengenal lelah dan mengantuk serta sela waktu. FirmanNya tentang para malaikat, “Mereka selalu bertasbih malam dan siang tak ada henti-hentinya.” (Q.S. Al-Anbiya’ : 29). Begitu pula ruh yang sudah lepas dari badan, maka ia akan menjalani kehidupan lain yang lebih sempurna, jika memang ia mendapat kebahagiaan, jika termasuk ruh yang menderita, maka ia akan mendapatkan siksa.


5. Kehidupan seperti yang di isyaratkan yaitu kehidupan ilmu dari kematian kebodohan, karena kebodohan merupakan kematian bagi orangnya. Orang yang bodoh, mati hati dan ruhnya, sekalipun badannya hidup. Badannya merupakan kuburan yang berjalan bersamanya di muka bumi. Allah menyerupakan orang yang hatinya mati seperti jasad yang terbujur di dalam kubur. Ruhnya telah mati dan badan nya menjadi kuburan bagi hati itu. Sebagaimana jasad di dalam kubur yang tidak bisa mendengar, maka orang yang hatinya sudah mati juga tidak bisa mendengar, jika kehidupan ini merupakan kehidupan rasa dan gerakan serta segala kelazimannya, maka hati ini tidak bisa merasakan ilmu dan iman serta tidak dapat bergerak untuk itu.


Al-Imam Ahmad menyebutkan di dalam Kitab Zuhud, dari perkataan Luqman, bahwa dia berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, bergaullah dengan orang-orang yang berilmu dan berkumpullah bersama mereka, karena Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan air hujan.”

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah merupakan wujud ketakutan kepada-Nya, mencarinya adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui adalah shadaqah dan membiayai orang yang berilmu adalah taqarrub. 

Ilmu merupakan petunjuk yang halal dan yang haram, menara jalan para penghuni syurga, teman pada saat takut, rekan saat sendirian, bukti pada saat lapang dan sempit, senjata saat menghadapi musuh dan hiasan di samping teman-teman, dengan ilmu Allah meninggikan beberapa kaum dan menjadikan mereka pelopor dalam kebaikan dan pemimpin yang jejaknya diikuti. Perbuatan mereka ditiru dan pendapat mereka diandalkan, para malaikat menyukai perkumpulan mereka dan mengusap dengan sayap-sayapnya. Siapa pun memintakan ampunan bagi mereka, termasuk pula ikan paus di lautan dan binatang buas di daratan, sebab ilmu merupakan kehidupan hati dari kebodohan dan pelita bagi penglihatan dari kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba bisa mencapai kedudukan yang paling baik dan dera-jat yang tinggi di dunia serta di akhirat, memikirkan ilmu menyerupai puasa dan mengkajinya menyerupai shalat malam, dengan ilmu, tali persaudaraan dapat dijalin, dengan ilmu dapat diketahui mana yang halal dan mana yang haram. 

Ilmu adalah imam amal dan amal mengikutinya, orang-orang yang berbahagia diberi ilham ilmu dan orang-orang yang menderita tidak mendapatkannya.” (Di riwayatkan Ath-Thabrani dan Ibnu Abdil Barr serta lain-lainnya serta dimarfu’kan kepada Nabi Saw).

Baca juga...  Makna Riyadah Dan Mujahadah Dalam Thariqat An-Naqsyabandi

6. Kehidupan kehendak dan hasrat. Kelemahan kehendak termasuk kelemahan kehidupan hati. Selagi hati memiliki kehidupan yang lebih sempurna, maka hasratnya juga lebih tinggi, kehendak dan cintanya lebih kuat. Kehendak dan cinta mengikuti perasaan terhadap apa yang dikehendaki dan yang dicintai, kekuatan kehendak dan perasaan merupakan bukti kekuatan kehidupan dan lemahnya kehendak dan perasaan merupakan bukti lemahnya kehidupan. Kehidupan yang baik hanya bisa diperoleh dengan hasrat yang tinggi, cinta yang murni dan kehendak yang tulus. Orang yang paling hina kehidupannya adalah yang paling hina hasratnya, sehingga kehidupan binatang justru lebih baik daripada hidupnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Siapa yang senantiasa mengucapkan, ‘Ya hayyu ya qayyum, la ilaha illa anta’, setiap hari sebanyak empat puluh kali setelah shalat sunat fajar hingga waktu shalat subuh, maka Allah akan menghidupkan hatinya.”

Sebagaimana Allah menjadikan kehidupan badan dengan makanan dan minuman, maka kehidupan hati adalah dengan terus-menerus berdzikir, pasrah kepada Allah dan meninggalkan dosa, bergantung kepada kehinaan dan syahwat akan melemahkan kehidupan ini, kelemahan senantiasa menyertainya hingga dia mati. Di antara tanda kematiannya, dia tidak menunjukkan yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar, sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud, “Tahukah kalian siapakah orang yang hatinya mati? Orang-orang bertanya, “Siapakah dia? Dia menjawab, “Orang yang tidak menunjukkan yang ma’ruf dan yang tidak mengingkari kemungkaran.” Yang disebut orang jantan adalah yang takut kematian hatinya, bukan kematian badannya, sebab mayoritas manusia takut kematian badan dan tidak peduli terhadap kematian hati, tidak mengenal kehidupan selain dari kehidupan yang sejalan dengan tabiatnya. 

Ini termasuk sebagian kematian hati dan ruh. Kehidupan yang sejalan dengan tabiat ini diibaratkan bayangan teduh yang terlalu cepat berlalu dan seperti tumbuhan perdu yang mudah kering atau seperti mimpi dalam tidur yang sepertinya benar-benar sebuah kenyataan. Jika sudah bangun, maka dia baru sadar bahwa ternyata itu hanya sebuah mimpi. Umar bin Khaththab berkata, “Sekira-nya kehidupan dunia ini, sejak pertama kali hingga akhirnya, diberikan kepada satu orang saja, kemudian tiba-tiba kematian menghampirinya, maka hal itu serupa dengan orang yang melihat sesuatu yang menyenang-kannya dalam mimpi, kemudian dia pun terbangun dan ternyata di tangannya tidak ada sesuatupun.”

7. Kehidupan akhlak dan sifat-sifat yang terpuji, yang merupakan kehidupan yang mantap bagi orang yang memilikinya. Dia tidak perlu dipaksa dan tidak kesulitan untuk naik ke derajat kesempurnaan, karena dia sudah memenuhi akhlak dan sifat-sifat kesempurnaan itu, kehidupan orang yang telah membentuk dirinya untuk malu, menjaga kehormatan, murah hati, dermawan, jujur dan memenuhi janji, lebih sempurna dari-pada kehidupan orang yang memaksa dirinya dan harus menundukkan tabiatnya, agar bisa seperti itu, hal ini seperti orang yang terserang suatu penyakit lalu dia menyembuhkan dengan kebalikannya, selagi akhlak-akhlak ini lebih sempurna pada diri seseorang, maka kehidupannya lebih kuat dan lebih sempurna.


8. Kehidupan kegembiraan dan kesenangan karena Allah, yang terjadi setelah beruntung mendapatkan apa yang dicari, sehingga yang mencarinya menjadi gembira dan senang, tidak ada kehidupan yang bermanfaat pada selain hal ini, semua manusia berputar-putar di sekeliling kehidupan ini dan mereka semua telah salah jalan, tidak sampai ke tempat tujuan, kecuali sebagian kecil saja di antara mereka. Pencarian mereka berkisar di sekitar kehidupan ini, padahal banyak di antara mereka yang juga tidak mendapatkannya, tingkatan ini merupakan tingkatan kehidupan yang paling tinggi, tapi orang yang berpikir bagaimana cara untuk menggapainya tertawan di negeri syahwat dan angan-angannya terhenti karena tenggelam dalam kelezatan, agamanya tergadaikan dengan kedurhakaan. Jika engkau katakan, “Saya merasa respek kepada kehidupan yang tidak terbelenggu di antara mayat-mayat yang hidup. Apakah engkau sudi menjelaskan jalannya, agar saya bisa mencicipi sebagian rasanya? Karena apa yang saya rasakan dalam kehidupan ini tak lebih dari kehidupan binatang, dan bahkan kami lebih binatang daripada binatang.” Dapat saya jawab, bahwa kerinduanmu terhadap kehidupan seperti yang engkau inginkan itu dan upaya mencari ilmu dan ma’rifatnya merupakan bukti kehidupanmu dan engkau tidak termasuk mayat-mayat yang hidup.

Jalan yang pertama kali harus dilalui hamba adalah mengenal Allah, mengikuti jalan yang bisa menghantarkannya ke sana, membakar kegelapan tabiat dengan sinar bashirah dan dengan hatinya dia bisa menyaksikan kehidupan akhirat, tidak bergantung kepada hal-hal yang fana, senantiasa meluruskan taubat, melaksanakan perintah yang zhahir maupun yang batin, meninggalkan larangan yang zhahir dan yang batin, senantiasa menjaga hati, tidak menenggang rasa terhadap lintasan hati yang dibenci Allah dan hal-hal yang berlebih yang tidak bermanfaat. Dalam keadaan seperti itu hatinya menjadi bebas untuk mengingat Allah, mencintai dan bersandar kepada-Nya, keluar dari bilik tabiat dan nafsu-nya, berpindah ke angkasa kebersamaan dengan Allah dan mengingat-Nya. Setelah itu Allah menganugerahinya kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, menjadikan beliau sebagai imam, pemimpin, pengajar dan panutannya, menyimak perikehidupan beliau, memperhatikan bagaimana turunnya wahyu, mendalami sifat, akhlak dan adab beliau di setiap waktu, ibadah dan pergaulan beliau di tengah keluarga dan para sahabat, sehingga seakan-akan dia merasa berada di tengah para sahabat yang bersama beliau. Setelah itu Allah akan membukakan pemahaman terhadap wahyu yang diturunkan. Jika dia membaca satu surat Al-Qur’an, maka hatinya ikut menyaksikan apa yang diturunkan dan apa yang dikehendaki di dalamnya. Kemudian di dalam hatinya terbuka mata lain yang bisa menyaksikan sifat-sifat Allah dan keagungan-Nya, sehingga seakanakan hatinya dapat melihat seperti melihat dengan mata kepala.

9. Kehidupan ruh setelah meninggalkan badan dan terbebas dari penjara (dunia) yang sempit ini. Di balik penjara ini ada alam yang amat luas, ruh, rizqi dan ketenangan. Perbandingan dunia ini dengan alam sesudahnya seperti rahim ibu dan dunia ini atau bahkan lebih sempit lagi. Sebagian orang arif berkata, “Kesegeraanmu keluar dari dunia ini seperti kesegeraanmu keluar dari penjara yang sempit untuk bertemu dengan orang-orangyang engkau cintai, lalu berkumpul bersama mereka di taman yang asri.”
Allah befirman tentang kehidupan ini, “Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rizqi serta syurga kenikmatan.” (Q.S. Al-Waqi’ah : 88-89).


Puncak dari kebaikan kehidupan ini adalah kebersamaan dengan Ar-Rafiqul-A’la (Pendamping Yang Maha Tinggi) dan meninggalkan pendamping yang hina. Berusaha dalam umur yang relatif pendek, masa yang singkat, dengan mengemban beban kesulitan dan kesukaran, semata dimaksudkan untuk mendapatkan kehidupan ini, ilmu dan amal sekedar sebagai sarana untuk menuju ke sana, pengetahuan tentang kehidupan ini sampai kepada kita lewat pengabaran illahi, yang dibawa makhluk yang paling sempurna dan paling mengetahui, kejadian-kejadiannya merasuk ke dalam hati orang-orang yang beriman, hingga seakan-akan mereka dapat melihatnya dengan mata kepala, maka jiwa mereka lari dari lindungan yang cepat berakhir dan angan-angan yang cepat berlalu ini, karena menghendaki kehidupan ini dan mendapatkan kesenangannya. Demi Allah, orang yang pergi menuju negeri yang dikenal adil dan subur serta menjanjikan kesenangan, tentu akan sabar dalam menghadapi segala kesulitan dan pesona di tengah perjalanannya. Dia meninggalkan apa yang sedang dibutuhkan orang-orang yang hanya duduk di tempatnya dan memenuhi seruan orang yang memanggilnya, “Hayya alash-shalah”. Dia tinggalkan apa pun yang disenanginya agar segera sampai ke tujuan. Demi Allah, tidak ada yang sulit dan berat dalam umur yang amat singkat ini, yang bisa diibaratkan sesaat dari waktu siang. 

Allah berfirman : “Pada hari mereka melihat adzab yang diancamkan kepada mereka, seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.” (Q.S. Al-Ahqaf : 35). Di antara kebaikan kehidupan ini dan kenikmatannya seperti yang di sabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidaklah ada jiwa yang meninggal (yang mendapat kebaikan disisi Allah) senang untuk kembali ke dunia dan walaupun ia mendapatkan dunia serta seisinya, selain dari orang yang mati syahid. Dia berangan-angan dapat kembali lagi ke dunia, karena dia melihat kemuliaan Allah yang diberikan kepadanya.”

Dia ingin kembali ke dunia agar dapat berjihad sekali lagi lalu mati syahid. Dalam tingkatan ini dapat diketahui kehidupan orang-orang yang mati syahid. Mereka mendapat rezki di sisi Allah dan itu merupakan kehidupan yang lebih sempurna serta lebih baik daripada kehidupan mereka di dunia. Sekalipun jasad mereka berceceran, daging tercabik-cabik, sendi-sendi patah dan tulang mereka berserakan, tapi amal mereka tidak sia-sia. Allah berfirman,”Dan, janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.” (Q.S. Al-Baqarah : 154). Jika seperti ini kehidupan orang-orang yang mati syahid dan yang mengikuti para rasul, lalu apa perkiraanmu tentang kehidupan para rasul sendiri di alam Barzakh? Yang pasti, para rasul, syuhada’ dan shiddiqin memiliki kehidupan yang lebih sempuma setelah mereka terbangun dari tidur yang hanya sebentar di dunia.


10. Kehidupan yang abadi dan kekal setelah melewati alam ini dan setelah dunia serta segenap penghuninya berpindah ke tempat tinggal yang kekal. Ini merupakan kehidupan yang telah dilewati orang-orang yang lebih dahulu dan menjadi ajang perlombaan orang-orang yang suka berlomba, inilah kehidupan yang hendak kami bahas dan yang diserukan kitab-kitab samawi serta para rasul. Inilah kehidupan yang dikatakan orang-orang yang tidak sempat bersiap-siap untuk menghadapinya, “Apabila bumi diguncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu, sedang malaikat berbaris-baris, danpada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini’. Maka pada hari itu tidak seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (Q.S. Al-Fajr : 21-24). 

Kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan yang kekal ini seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidaklah dunia di akhirat melainkan seperti salah seorang di antara kalian yang mencelupkan jari telunjuknya di air, lalu perhatikanlah apa yang menyisa saat dia menarik jarinya?” Jika akhirat bisa bernapas, maka dunia ini merupakan salah satu dari hembusan napasnya. Orang yang berbahagia menghembuskan napas kenikmatannya, dan dalam napas inilah mereka beramal. Orang-orang yang menderita menghembuskan napas siksanya dan dalam napas inilah mereka berbuat.
 

Jika ada yang bertanya, apa sebabnya jiwa manusia tertinggal untuk mencari kehidupan ini dan sama sekali tidak terbetik di dalamnya? Mengapa ia justru menghindarinya? Apa sebab kesenangannya kepada kehidupan yang fana dan yang pasti berakhir, yang diibaratkan hayalan atau mimpi yang berlalu? Apakah karena ada yang tidak beres dalam menggambarkan dan merasakannya? Atau karena ada pendustaan terhadap kehidupan itu? Ataukah karena ada yang mengganjal di dalam akal atau ada kebutaan? Ataukah karena lebih mementingkan kehidupan yang ada dan tampak mata serta mengabaikan yang belum nyata dan yang hanya bisa diketahui dengan iman? Ada yang menjawab, semua itu bisa menjadi sebab yang tersusun menjadi satu bagian. Secara umum sebabnya ada dua macam :

– Sebab yang paling kuat adalah iman yang lemah, karena iman merupakan ruh amal, pembangkit amal, yang memerintahkan kepada amal yang paling baik dan yang mencegah dari amal yang paling buruk, maka sejauh mana kekuatan iman, sejauh itu pula ada perintah dan larangan terhadap orangnya. Jika iman kuat, maka kerinduan terhadap kehidupan ini juga semakin kuat.


– Adanya kelalaian di dalam hati, karena kelalaian merupakan tidurnya hati, karena itu engkau melihat orang yang bangun dalam perasaannya, yang tidur dalam kenyataannya, lalu engkau mengiranya terbangun padahal dia tidur. Jika di dalam hati ada kekuatan kehidupan, maka ia tidak tidur sekalipun badannya tidur, kesempumaan hidup seperti ini adalah hidupnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, begitu pula orang yang hatinya dihidupkan Allah dengan cara mencintai-Nya dan mengikuti risalah-Nya. 

Kelalaian merupakan tidurnya hati untuk mencari kehidupan ini dan sekaligus merupakan hijab baginya. Hijab ini bisa disingkap dengan dzikir. Jika dzikir, maka hijabnya semakin tebal, hingga hijab itu menjadi kesibukan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Hijab ini harus segera disingkirkan. Jika tidak segera disingkirkan dan berubah menjadi dosa besar, maka akan mendatangkan kemurkaan Allah. 

Kembali ke pembahasan semula, bahwa kehidupan macam pertama mempunyai tiga jenis napas, yaitu : Napas ketakutan, napas harapan dan napas cinta. Karena setiap hewan harus bernapas, dan napas ini merupakan keharusan hidup, maka napas-napas kehidupan ini diisyaratkan kepada tiga macam napas.

Pertama: Napas ketakutan. Sumbernya adalah mengetahui ancaman dan apa yang dijanjikan Allah kepada orang yang lebih mementingkan dunia daripada akhirat, yang lebih mementingkan makhluk daripada Khaliq, yang lebih mementingkan nafsu daripada petunjuk.
Kedua: Napas harapan, yang sumbernya adalah melihat janji, berbaik sangka kepada Allah, memperhatikan apa yang dijanjikan Allah kepada orang yang lebih mementingkan Allah, Rasul-Nya dan hari akhirat, menjadikan petunjuk sebagai hakim bagi hawa nafsu, menjadikan wahyu sebagai hakim bagi pendapat, menjadikan As-Sunnah sebagai hakim bagi bid’ah.

Ketiga: Napas cinta, yang sumbernya adalah melihat asma’ dan sifat, menyaksikan nikmat dan karunia. Jika seorang hamba mengingat dosanya, maka dia menghembuskan napas ketakutan. Jika mengingat rahmat Allah dan keluasan ampunanNya, maka dia menghembuskan napas harapan. Jika mengingat keindahan, keagungan dan kesempurnaan-Nya, maka dia menghembuskan napas cinta, maka hendaklah setiap hamba menimbang imannya dengan tiga macam napas ini, agar dia mengetahui kadar imannya. Sesungguhnya jiwa itu diciptakan untuk mencintai keindahan dan berhias. Allah adalah indah, bahkan Dia memiliki keindahan yang sempurna, keindahan dzat, sifat, perbuatan dan asma’. Jika keindahan seluruh makhluk terhimpun pada diri seseorang, lalu keindahan ini dibandingkan dengan keindahan Allah, maka perbandingannya seperti pelita yang kecil dibandingkan matahari yang terang benderang.

Kehidupan yang kedua adalah kehidupan penyatuan dari kematian penghindaran, yang memiliki tiga napas, yaitu : Napas pemaksaan, napas kebutuhan dan napas kebanggaan. Yang dimaksudkan penyatuan di sini adalah penyatuan hati dengan Allah, penyatuan rasa dan kehendak untuk menghadap kepada-Nya, bukan penyatuan kebersamaan wujud. Sebab kehidupan penyatuan ini akan disebutkan dalam jenis kehidupan yang ketiga dengan sebutan “Kehidupan wujud”. 

Penyatuan hati dengan Allah dan menghadapkan rasa kepada-Nya merupakan kehidupan yang hakiki, sebab hati tidak memiliki kebahagiaan, kesenangan, keberuntungan dan kenikmatan kecuali dengan menjadikan Allah sebagai tujuan pencariannya. Penghindaran yang disusul dengan penolakan untuk menghadap kepada-Nya merupakan penyakit hati, sekalipun tidak membuatnya mati. Kehidupan ini mempunyai tiga napas. Yang pertama adalah napas pemaksaan. 

Hal ini terjadi karena hamba tidak bisa berharap kepada selain Allah, sehingga dengan hati, ruh, jiwa dan badannya dia terpaksa berharap kepada Allah. Apa pun yang ada pada dirinya, termasuk pula sehelai rambut yang tumbuh memburuhkan Allah yang menjadi sesembahannya. Napas ini mau tidak mau memburuhkan Allah sebagai pencipta, penolong, pelindung, pemberi petunjuk, pemberi rizqi dan yang mengatur segala kemaslahatannya, di samping menjadikan-Nya sebagai sesembahan, yang hidupnya tidak akan bermanfaat kecuali dengan menjadikan Allah sebagai kekasih dan yang dirindukannya. Pemaksaan ini merupakan pemaksaan “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Sebenarnya napas memburuhkan juga termasuk napas pemaksaan ini, tapi kita memisahkan di antara keduanya, karena kita ingin menjadikan napas pemaksaan sebagai permulaan, napas membutuhkan sebagai pertengahan dan napas kebanggaan sebagai kesudahan, seakan-akan napas pemaksaan merupakan pengenyahan makhluk dari hati dan napas kebutuhan merupakan penggantungan hati kepada Allah, pada hakikatnya ini merupakan satu kesatuan, yang pada permulaannya merupakan pemutusan dan akhirnya merupakan penyambungan, sedangkan napas kebanggaan merupakan hasil dari dua napas di atas, jika dua napas sudah benar pada diri hamba, maka akan tercipta taqarrub, penyatuan dan kebersamaan dengan Allah dan Allah pun melepas dari hatinya segala kesenangan dunia dan perhiasannya. 

Pada saat itu dia akan menghembuskan napas lain, yang dengannya dia akan mendapatkan ketenangan dan kelapangan dada, jika ada yang bertanya, “Mengapa hamba harus berbangga diri? Apa kaitan ubudiyah dengan kebanggaan ini?” Dapat kami jawab, bahwa bukan maksudnya hamba membanggakan diri di hadapan orang lain, tapi ini merupakan kebanggaan yang berarti kesenangan dan kegembiraan, karena dia tidak kuasa menolak apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. 

Bukanlah sudah selayaknya hamba merasa senang karena menerima karunia Allah? Apalagi Allah suka melihat pengaruh nikmat-Nya pada diri hamba dan Dia senang akan hal ini, karena yang demikian itu merupakan gambaran rasa syukur. Kehidupan yang ketiga adalah kehidupan wujud, yaitu kehidupan dengan Allah. 

Kehidupan ini mempunyai tiga napas : Napas kehormatan yang mematikan alasan, napas wujud yang mencegah pemisahan dan napas kesendirian yang menghasilkan hubungan. Tingkat kehidupan ini merupakan kehidupan orang yang sudah mendapatkannya. 

Ini lebih sempurna daripada dua jenis kehidupan yang sebelumnya. Hamba yang sudah mendapatkan Rabb-nya, seperti yang diisyaratkan dalam hadits Illahi, “Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang, Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku dia melihat, dengan-Ku dia memegang dan dengan-Ku dia berjalan.” Begitu pula yang diisyaratkan dalam firman-Nya, “Wahai anak Adam, carilah Aku, niscaya kamu akan mendapatkan Aku. Jika kamu mendapatkan Aku, maka kamu akan mendapatkan segala sesuatu. 

Jika Aku tidak kamu dapatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan segala sesuatu.” Kehidupan wujud merupakan kehidupan yang paling sempurna, artinya kehidupan karena mendapatkan Allah. Jika engkau katakan, “Saya kesulitan memahami makna kehidupan karena mendapatkan Allah ini.” Dapat kami jawab, bahwa itu terjadi karena ada hijab antara dirimu dan kehidupan ini. 

Pahamilah kehidupan ini dengan adanya kefanaan, adanya pemilik, penguasa dan penolongmu. Hakikat hidup ini adalah kehidupan dengan Allah, bukan kehidupan dengan napas, kefanaan dan sebab-sebab kehidupan.


Kehidupan wujud ini ada yang menafsirinya berdasarkan sifat Allah yang berdiri sendiri, agar hati tidak berpaling kepada selain Allah, tidak takut dan tidak berharap kepadanya. Ketakutan dan harapannya, tawakal dan penyandarannya hanya tertuju kepada Allah Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, selagi keadaan ini sudah tercapai, maka tercapai pula kehidupan wujud, terkadang bernapas dengan napas kehormatan yang meniadakan pencarian alasan, terkadang bernapas dengan napas wujud itu sendiri dan terkadang bernapas dengan napas kesendirian.


Kesendirian di sini artinya kesendirian dan keesaan Allah dalam Uluhiyah dan Ubu-diyah, tidak memberi tempat bagi selain-Nya dalam Rububiyah dan tidak memberi bagian bagi selain-Nya dalam Uluhiyah.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya