oleh

Tentang Hati Yang Khusyu’

Seperti iman, taqwa, sabar, syukur dan ikhlas dan khusu’ juga demikian, yaitu bagaikan matahari di malam hari, ketika saat purnama telah tiba, meski matahari itu sedang bersembunyi di balik bumi, dengan bantuan bulan, sinarnya mampu menerangi ufuk malam.

Yaitu, meski sang dewi malam itu sejatinya tidak mempunyai sumber cahaya, namun mampu menyinari persada, karena sang matahari telah bertatap muka dengannya.

Demikian pula khusu’, oleh karena khusu’ itu amalan hati, bukan amalan anggota tubuh, seperti shaalat, ruku’ dan sujud, maka tidak ada seorang pun yang mengetahui, apakah orang itu hatinya khusu’ atau tidak, bahkan dirinya sendiri, kecuali hanya Allah Ta’ala.

Namun demikian, ketika khusu’ itu sudah menerangi hamparan hati, ibadah malam yang kadang-kadang melelahkan, dengan di pancari cahaya hati yang khusu’ itu, perjalanan sang musafir malam menjadi menyenangkan.

Kadang kala orang yang menyung-kurkan kepala bersujud di hadapan Allah Ta’ala misalnya, yang sedang ibadah itu, ternyata hanya anggota tubuh yang dhahir saja, sedangkan hatinya, malah mengajak berjalan-jalan ke Mall dan merencanakan shopping bersama keluarga.

Demikian juga, meskipun sujud itu kadang-kadang dengan menangis bersimbah air mata, namun demikian, menangis di hadapan Allah Ta’ala itu hanya di sebabkan belum juga ada uang untuk membayar hutang yang jatuh temponya sudah tiba.

Sujud dengan menangis itu memang tanda-tanda orang yang hatinya sedang khusu’, tapi kalau sebabnya belum dapat bayar hutang berarti bukan khusu’ karena takut kepada Allah tapi takut kepada orang yang akan
menagih hutangnya.

Namun demikian, sujud dengan menangis karena ingat hutang itu lebih baik daripada sujud dengan hati yang suka melayang seperti layang-layang yang di kejar bayangan.

Tanda-tanda hati khusu’ itu memang kadang-kadang terlihat dengan menagis di saat bersujud kepada Allah Ta’ala. Namun menagisnya itu sedikitpun bukan karena terkait dengan urusan makhluk dan sandang pangan, melainkan semata-mata memang matahati sedang cemerlang sehingga orang mampu melihat aib dirinya yang selama ini tersembunyi di balik kesombongan.

Allah Ta’ala menggambar-kan hati yang khusu’ itu dengan firman-Nya : “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`.” (Q.S. Al-Israa’/109).

Bahkan kadang kala orang sudah mampu berbuat seperti yang dilakukan orang yang hatinya khusu’, memberikan shadaqah dengan cara yang rahasia misalnya, sehingga yang menerima shadaqah itu tidak tahu, dari siapa uang yang setiap pagi di temukan di halaman rumahnya itu. Namun demikian, di saat si pemberi shadaqah rahasia itu sedang melakukan amal rahasianya, sejatinya hatinya hanya ingin mempunyai amalan rahasia yang suatu saat orang mengetahui bahwa dirinya selama ini telah melaksana-kan amalan rahasia.

Baca juga...  Sambutlah Air Laksana Menyambut Rahmat Allah

Yang demikian itu, meski seumur hidupnya tidak ada orang yang mengetahui bahwa dirinyalah yang setiap pagi meletakkan uang di halaman tetangganya yang miskin itu.

Kecuali setelah ia meninggal dunia, karena sejak saat itu orang miskin itu tidak pernah menemukan uang di halaman rumahnya, namun demikian Allah Maha Mengetahui, bahwa tujuannya yang sesungguhnya bukan semata ibadah yang rahasia, namun suatu saat supaya orang mengetahui bahwa dirinyalah yang telah melakukan shadaqah rahasia tersebut.

Kalau memang ibadah itu di laksanakan dengan hati yang ikhlas dan khusyu’ maka niat yang tersembunyi itu tidak ada yang dapat mengetahuinya, meski malaikat sekedar untuk mencatatnya terlebih syetan untuk merusaknya.

Rasulullah Saw menyatakan dengan sabdanya : “Sungguh seorang hamba telah beramal dengan amal yang baik, maka malaikat mengangkatnya di dalam catatan-catatan yang tertutup di haturkan di hadapan Allah, maka Allah berfirman : “Lemparkanlah kitab-kitab ini, karena ia di laksanakan dengan tidak menghadap kepada Wajah-Ku”.

Kemudian malaikat-malaikat di panggil : “Tulislah seperti ini, tulislah seperti ini”. Para malaikat berkata: “Wahai Tuhanku, mereka tidak berbuat seperti itu”.Allah menjawab : “Sesungguhnya itu adalah niatnya”.

Hadits Daru Quthni, dari Anas Ra dengan sanad hasan, meski khusyu’ itu adalah amalan hati yang hakikatnya tidak ada yang dapat mengetahui kecuali hanya Allah Ta’ala, namun demikian, seperti amalan hati yang lainnya, khusyu’ itu juga dapat di lihat dari tanda-tandanya.

Adapun tanda-tanda khusyu’ itu, seorang sufi berkata : “Bahwa tanda-tanda amal ibadah yang di laksanakan dengan hati yang khusyu’ itu seperti tanda-tandanya orang yang sedang datang waktunya buang hajad besar”.

Tanda-tanda khusu’ itu dapat terbaca di dalam tiga hal :

1. Tergesa-gesa.
Orang yang akan buang hajad besar itu pasti tergesa-gesa, ingin cepat sampai di tempatnya, tidak peduli dia sedang berada di hadapan siapa saja, sedang rapat penting di hadapan Presiden sekalipun, ketika tiba-tiba waktunya buang hajad itu datang, dia tidak peduli lagi, rapat penting itu pasti ditinggalkan juga, sebab kalau tidak, boleh jadi dia akan di permalukan orang seumur hidupnya.

Baca juga...  Tingkat Derajat Seorang Hamba

Seperti itulah orang yang hatinya khusyu’, meski sedang berkumpul dengan siapapun, ketika adzan sudah di kumandangkan yang menunjukkan waktunya shalat telah datang, orang yang hatinya khusu’ itu
bergegas meninggalkan seluruh kesibukan duniawi untuk mandatangi panggilan Tuhannya itu.

Kalau tidak demikian dia takut suatu saat nanti di permalukan di hadapan Dzat yang paling di cintainya, demikianlah keadaan Rasululah Saw dalam menjalani keseharian hidupnya. Suatu saat ketika Beliau sedang asik bercengkrama dengan para keluarga, ketika suara adzan di kumandangkan di masjid, seketika wajah Beliau menjadi berubah, seakan-akan Beliau tidak kenal lagi dengan keluarganya itu.

Terhadap orang yang hatinya khusu’ ini Allah Ta’ala memberikan gambaran yang lain dengan firman-Nya : “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (hatinya khusu’ kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila di sebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rizqikan kepada mereka.” (Q.S. Al-Hajj/34-35).

2. Tidak mau di lihat orang.
Orang yang akan buang hajad besar, meski bagaimanapun mendesaknya, pasti dia mencari tempat yang tidak dapat di lihat orang, malu apabila perbuatan itu ada yang melihatnya.

Demikian pula orang yang hatinya khusu’, karena mereka takut berbuat riya’ dan menyebut-nyebut kembali, yang dapat menghancurkan nilai pahala amal, maka ibadah yang di lakukan itu dirahasiakan dari hadapan orang lain.

Bahkan mereka suka berkhalwat menyendiri di dalam kamar pribadi
hingga istrinya pun tidak mengetahui, sedang mengerjakan ibadah yang mana ketika dia berada dalam kamar khalwat tersebut.

3. Tidak pernah terpikir kembali terhadap ibadah yang sudah di kerjakan.
Orang yang buang hajad besar itu, tidak pernah memikirkan lagi terhadap benda yang sudah di buangnya, meski tadi malam makan sate kesukaan misalnya, ketika paginya harus buang hajad, dia tidak pernah berfikir lagi bahwa yang sedang di buang itu adalah sate yang di sukai.

Dia tidak merasa berat membuang barang hajad itu meski tadi malam yang di masukkan adalah barang kesukaan yang harganya mahal.

Orang yang hatinya khusyu’ itu, oleh karena dapat mensikapi ibadah sebagai kebutuhan hidup, bukan kewajiban hidup, maka apapun yang sudah di kerjakan meski bentuknya dengan memberikan shadaqah dari sebagian harta bendanya kepada orang lain, apa yang sudah di berikan itu tidak pernah terbayang lagi di dalam angan-angannya.

Baca juga...  Tiga Syarat Taubat

Bahkan seperti orang yang sedang membuang kotoran, selanjutnya badannya menjadi bersih dan sehat.

Memang demikianlah, shadaqah yang di keluarkan itu, gunanya untuk membersihkan hati dari kotoran basyariyah yang dapat mengeruhkan pandangan mata hati.

Maka untuk tujuan itulah orang yang hatinya khusu’ itu membuang sebagian hartanya untuk di berikan kepada yang membutuhkan, supaya “nur ma’rifat” mata hatinya semakin cemerlang.

Terlebih ketika kenikmatan bershadaqah itu sudah di resapi dalam hati-sanubarinya, maka kenikmatan duniawi yang lain menjadi terlupakan, seringkali orang mengatakan, bahwa amal yang di perbuatnya semata-mata karena “lillaahi Ta’ala”, hanya berharap mendapatkan ridha Allah Ta’ala.

Namun, ketika kebaikan yang di perbuat itu tidak di akui manusia, hatinya menjadi marah, yang demikian itu bukan “lillaahi Ta’ala”, tapi orang itu sedang berharap supaya di anggap orang yang dapat berbuat semata-mata karena Allah Ta’ala.

Kalau ada orang berbuat ibadah dan mengaku lillaahi Ta’ala, terlebih ucapan itu berulangkali di perdengarkan kepada manusia, yang demikian itu pasti ia sedang berdusta, sebab apabila ibadah itu memang di dasari hati yang khusyu’, maka ia pasti malu ucapan yang demikian itu di dengar oleh manusia.

Walhasil, siapapun boleh berusaha menuju hati yang khusyu’, baik dengan belajar, dzikir, mujahadah maupun riyadhah, bahkan dengan pelaksanaan thariqat sekalipun.

Namun apabila tanda-tanda khusyu’ itu belum dapat terbaca di dalam perilaku kesehariannya, berarti perjalanan spiritual itu belum sampai kepada tujuan yang di harapkan atau boleh jadi di dalam perjalanan itu masih sangat membutuhkan pembenahan.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru