oleh

Tentang Jual Beli Mata Uang

-Muamalah-1 views

TENTANG JUAL BELI MATA UANG

Pada zaman ini mata uang tak ubahnya komoditi Iainnya, yakni di perdagangkan dengan bebas, kita masih ingat, sepuluh tahun yang lalu nilai Rupiah kita melemah tak berdaya, sebagian spekulan rame-rame memborong Dolar US dengan menjual Rupiah, Dolar US pun melambung, akibatnya, seperti yang kita rasakan bersama, sebagian besar harga kebutuhan pokok melonjak karena Rupiah kita kurang bernilai.

Sebagai umat Islam, tidak sepantasnya kita hanyut dalam setiap gelombang perkembangan, dalam mengarungi kehidupan dunia, hendaknya kita selalu bercermin kepada syari’at Allah, dengan demikian, keridhaan Allah dan keuntungan dunia hingga akhirat dapat dicapai.

MENGENAL HAKIKAT UANG KERTAS

Kita semua tahu bahwa uang kertas yang kita gunakan untuk bertransaksi sehari-hari telah melalui berbagai fase dan perkembangan. Karena itu jangan heran bila para ulama pun sekilas nampak berbeda pendapat dalam menghukuminya.

Perbedaan pendapat ini sejatinya akibat langsung dari perkembangan uang kertas dan penggunaannya, masing-masing ulama berpendapat selaras perkembangan uang kertas yang ada di zamannya.

Pendapat pertama: Uang kertas adalah surat piutang yang dikeluarkan oleh suatu negara atau instansi yang ditunjuk. Di antara ulama yang berpendapat demikian ialah Syaikh Muhammad Amin As-Syinqithi, Ahmad Husaini dan penulis kitab Al-Fiqhu ’Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah. Namun pendapat ini lemah atau kurang kuat, dikarenakan beberapa hal di antaranya adalah :
1. Menyelisihi kenyataan. Karena kita pasti tahu bahwa tidak ada satu negara pun saat ini yang sudi membayarkan nilai uang kertasnya dalam bentuk uang emas atau perak. Anggapan uang kertas sebagai surat piutang hanya relevan dengan uang kertas pada awal sejarah kelahirannya.

2. Diantara konsekuensi pendapat ini adalah kita tidak dibenarkan memesan suatu barang dengan pembayaran tunai atau yang sering disebut dengan akad salam. Berdasarkan pendapat ini, membayar dengan uang kertas adalah pembayaran tidak tunai. Dan para ulama telah sepakat bahwa akad pemesanan hanya boleh dilakukan dengan pembayaran tunai.

Baca juga...  Syarat-Syarat Dalam Jual Beli

3. Sebagai konsekuensi langsung pendapat ini, maka kewajiban zakat dan juga berbagai hukum riba perlu ditinjau ulang. Karena para ulama berselisih pendapat tentang hukum zakat atas harta yang terutang.

Pendapat Kedua: Uang kertas adalah salah satu bentuk barang dagangan.
Pendapat ini dianut oleh banyak ulama madzhab Maliki sebagaimana ditegaskan dalam kitab Al-Hawi ‘Ala Ash Shawy. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, pendapat ini memiliki berbagai sisi kelemahan, di antaranya adalah :
1. Membuka lebar-lebar berbagai praktek riba.
2. Zakat menjadi gugur dari kebanyakan umat Islam, karena kertas bukan termasuk harta yang wajib dizakati selama tidak diperdagangkan.

Pendapat Ketiga: Uang kertas disamakan dengan fulus, sekilas pendapat ini nampak kuat, akan tetapi fakta dan fungsi uang kertas yang ada saat ini menjadikan pendapat ini tidak nyata. Sebab fulus pada zaman dahulu hanya digunakan untuk membeli barang-barang yang sepele. Berbeda halnya dengan uang kertas yang berlaku pada zaman sekarang, terlebih uang kertas telah menjadi kekayaan utama umat manusia pada zaman ini.
Dengan demikian pendapat ini tidak sesuai dengan fakta uang kertas yang kita gunakan saat ini.

Pendapat Keempat: Uang kertas merupakan pengganti uang emas dan perak, artinya uang kertas yang beredar di dunia sekarang hanya terbagi menjadi dua jenis, yaitu uang kertas pengganti emas atau perak.
Pendapat ini menyelisihi kenyataan, walaupun dahulu uang kertas sebagai pengganti sementara uang emas dan perak yang berlaku kala itu, akan tetapi sekarang tidak lagi demikian.

Saat ini, manusia tidak menggunakan uang emas atau perak sehingga uang kertas yang ada sekarang ini tidaklah menggantikan uang emas dan perak. Bahkan saat ini setiap negara dapat menerbitkan uang kertasnya tanpa perlu menyisihkan jaminan penggantinya dalam wujud emas atau perak.

Baca juga...  Pembahasan Tentang Wasiat Dalam Islam

Uang kertas yang berlaku hanya semata-mata diberlakukan oleh pemerintah setempat, bukan karena memiliki jaminan berupa emas, perak atau lainnya. Aplikasi pendapat ini begitu sulit untuk diterapkan, terutama pada saat kita hendak tukar menukar mata uang.

Sebagai konsekuensi pendapat ini, kita terlebih dahulu harus menyelidiki sejarah mata uang yang hendak kita tukarkan. Bila dahulunya berfungsi sama sebagai pengganti uang perak, maka kita tidak dibenarkan untuk melebihkan nilai tukar salah satunya di atas yang lain.

Tidak diragukan, ini sangat merepotkan dan mungkin kebanyakan masyarakat tidak dapat melakukannya.

Pendapat Kelima: Uang kertas adalah mata uang tersendiri sebagaimana halnya uang emas dan pera dan bukan pengganti keduanya. Dengan demikian, uang kertas yang beredar di dunia sekarang ini berbeda-beda jenisnya selaras dengan perbedaan negara yang mengeluarkannya.

Pendapat inilah yang terbukti selaras dengan fakta dan mungkin untuk diterapkan pada kehidupan umat manusia sekarang ini, dengan demikian, berbagai hukum yang berlaku pada uang emas dan perak berlaku pula pada uang kertas, di antaranya adalah :
– Uang kertas adalah harta kekayaan yang wajib dizakati.
– Berlaku padanya berbagai hukum riba.
– Boleh dijadikan sebagai modal dalam akad mudharabah dan alat pembayaran pada akad salam (pemesanan dengan pembayaran tunai di muka).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya