oleh

Tentang Mahar

Mahar adalah imbalan dalam pernikahan yang wajib di berikan oleh seorang suami kepada isterinya atas dasar kerelaan di antara keduanya.

Mahar dalam pernikahan hukumnya adalah wajib, menurut ijma’ para
ulama’ dan mahar merupakan hak isteri, sehingga walinya atau orang lain tidak berhak mengambilnya tanpa seizinnya.

Allah berfirman : “Berikanlah mahar kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (Q.S. An-Nisa’ : 4).

Sesuatu yang dapat di jadikan sebagai mahar

Sesuatu yang di jadikan sebagai mahar adalah sesuatu yang memiliki nilai, baik hissiyyah (kasat mata) maupun maknawiyyah, sehingga sesuatu yang dapat di jadikan sebagai mahar adalah :

1. Sesuatu yang memiliki harga dalam jual beli, yaitu segala sesuatu yang dapat di kuasakan, suci, halal, dapat di ambil manfaatnya dan dapat di terima. Seperti uang, benda berharga dan yang semisalnya. (H.R. Muslim Juz 2 : 1426).

2. Upah dari pekerjaan

Setiap pekerjaan yang di perbolehkan meminta upah darinya, maka boleh di jadikan sebagai mahar, ini adalah madzhab Syafi’i dan Ahmad.

Di antara dalilnya adalah firman Allah yang menceritakan bahwa Nabi Syu’aib As menikahkan Nabi Musa As dengan salah satu putrinya, dengan maharnya berupa bekerja untuknya selama delapan tahun. (Q.S. Al-Qashash : 27).

3. Membebaskan hamba sahaya wanita

Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad dan Abu Dawud, di antara dalilnya adalah hadits yang di riwayatkan oleh Anas bin Malik Ra, “Bahwa Rasulullah Saw memerdekakan Shafiyyah Ra dan beliau menjadikan kemerdekaannya sebagai maharnya.” (H.R. Bukhari Juz 5 : 4798 dan Muslim Juz 2 : 1365).

4. Keislaman

Di riwayatkan dari Anas Ra : َ“Abu Thalhah Ra menikah dengan Ummu Sulaim Ra dengan mahar (masuk) Islam(nya Abu Thalhah Ra).” (H.R. An-Nasa’i Juz 6 : 3340).

Baca juga...  Syubhat dan Jawaban Soal Hamil Karena Zina

Batasan Mahar

Tidak ada batasan minimal dalam mahar, selama mahar tersebut memiliki nilai, meskipun sedikit dan calon isteri ridha dengannya, maka ia sah di gunakan sebagai mahar.

Ini adalah madzhab Asy-Syafi’i, Ahmad Ishaq, Abu Tsaur, Al-Auza’i, Al-Laits, Ibnul Musayyab dan selain mereka.

Mahar juga tidak memiliki batasan maksimal, karena tidak ada dalil yang membatasinya. Ini merupakan kesepakatan para ulama’ dan hendaknya tidak terlalu berlebih-lebihan dalam urusan mahar. (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 1114, Abu Dawud : 2106 dan Ibnu Majah : 1887).

Berkata Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Shalih Alu Bassam : “Sesungguhnya yang di anjurkan adalah meringankan mahar (baik) bagi orang yang kaya maupun orang yang miskin, karena yang demikian itu terdapat kemaslahatan yang banyak.”

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru