oleh

Tentang Mahram

Apa itu mahram

Mahram adalah wanita yang haram untuk di nikahi, wanita yang akan di nikahi oleh seorang laki-laki haruslah wanita yang tidak termasuk dalam golongan mahram.

Mahram terbagi menjadi dua, yaitu :

A. Mahram Muabbad

Mahram muabbad adalah wanita yang haram di nikahi untuk selama-lamanya, antara seseorang dengan mahram muabbadnya di perbolehkan untuk bercampur baur (ikhtilath), berdua-duaan (khalwat), menemani dalam safar dan berjabat tangan.

Mahram mu’abbad ada tiga, antara lain :

a. Karena hubungan keturunan (nasab)
Para ulama’ telah bersepakat bahwa mahram karena nasab ada tujuh, yaitu :
1. Ibu terus ke atas.
Yang masuk dalam kategori ini adalah semua wanita yang memiliki hubungan melahirkan walaupun jauh, yaitu ibu, nenek dari bapak maupun dari ibu, ibunya nenek dan seterusnya ke atas.

2. Anak perempuan terus ke bawah.
Yang masuk dalam kategori ini adalah semua wanita yang memiliki hubungan kelahiran, yaitu anak perempuan, cucu perempuan dari anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, dan seterusnya ke bawah.

3. Saudara perempuan dari semua arah.
Yaitu saudara perempuan kandung, saudara perempuan sebapak dan saudara perempuan seibu.

4. Bibi dari pihak bapak terus ke atas.
Yaitu saudara perempuan bapak, saudara perempuan kakek, dan seterusnya ke atas.

5. Bibi dari pihak ibu terus ke atas.
Yaitu saudara perempuan ibu, saudara perempuan nenek dan seterusnya ke atas.

6. Anak perempuan saudara laki-laki (keponakan dari pihak saudara laki-laki) terus ke bawah.

7. Anak perempuan saudara wanita (keponakan dari pihak saudara wanita) terus ke bawah. (Q.S. An-Nisa’ : 23), sehingga dengan demikian seluruh kerabat seseorang dari nasab adalah haram untuk di nikahinya, kecuali sepupu, yaitu; anak-anak perempuan paman dari pihak bapak, anak-anak perempuan paman dari pihak ibu, anak-anak perempuan bibi dari pihak bapak dan anak-anak perempuan bibi dari pihak ibu. Empat wanita inilah yang halal untuk di nikahi.

b. Karena hubungan pernikahan (mushaharah).

Baca juga...  Pengertian Tentang Ruju'

Mahram karena hubungan pernikahan ada empat, yaitu :

1. Isterinya bapak (ibu tiri) terus ke atas.
Para ulama’ telah bersepakat bahwa wanita yang telah di ikat dengan akad pernikahan oleh bapak, maka haram untuk di nikahi anaknya walaupun belum terjadi jima’.

2. Isterinya anak (menantu) terus ke bawah.
Para ulama’ telah bersepakat bahwa isteri anak kandung menjadi haram bagi bapak hanya dengan akad nikah anaknya. (Q.S. An-Nisa’ : 23).

Termasuk pula dalam kategori ini adalah isterinya cucu dari anak laki-laki maupun perempuan dan seterusnya ke bawah.

3. Ibunya isteri (mertua) terus ke atas.
Mertua menjadi haram untuk di nikahi oleh seorang laki-laki setelah akad yang di lakukan dengan anaknya, ini adalah pendapat Jumhur ulama’.

4. Anaknya isteri dari suami lain (anak tiri) terus ke bawah, anak tiri menjadi mahram setelah terjadi jima’ dengan ibunya, sehingga jika seorang laki-laki telah mengadakan akad nikah dengan ibunya namun belum terjadi jima’, maka ia boleh menikahi anak perempuan isterinya tersebut, ini adalah pendapat jumhur ulama’.

c. Karena persusuan (radha’ah).
Ada dua syarat yang harus terpenuhi agar susuan dapat menjadikan mahram. Syarat tersebut adalah :

1) Minimal di susui sebanyak lima kali susuan yang mengenyangkan. (H.R. Muslim dan An-Nasa’i).

2) Penyusuan terjadi pada dua tahun pertama dari usia anak. (Q.S. Al-Baqarah : 233).

Mahram karena persusuan sama dengan mahram karena nasab dan persusuan menjadikan wanita yang menyusui sama kedudukannya seperti ibunya. (H.R. Bukhari dan Muslim), dengan demikian, di antara mahram karena persusuan adalah :

1. Wanita yang menyusui (ibu susuan) terus ke atas.
Termasuk dalam kategori ini adalah nenek susuan, baik dari pihak ibu susuan maupun bapak susuan, ibu dari nenek susuan dan seterusnya ke atas.

Baca juga...  Adab Malam Pengantin

2. Anak perempuan wanita yang menyusui (saudara susuan) terus ke bawah.

Baik yang di lahirkan sebelum dan sesudah susuan, termasuk pula dalam kategori ini adalah cucu perempuan dari anak perempuan maupun anak laki-laki ibu susuan dan seterusnya ke bawah.

3. Saudara perempuan sepersusuan.
Yaitu setiap anak yang menyusu kepada ibu susuan, meskipun waktu menyusuinya berbeda.

4. Saudara perempuan wanita yang menyusui (bibi susuan dari pihak ibu susuan).

5. Saudara perempuan suami dari ibu susuan (bibi susuan dari pihak bapak susuan).

6. Anak perempuan dari anak perempuan ibu susuan (keponakan susuan).

7. Anak perempuan dari anak laki-laki ibu susuan (keponakan susuan).

8. Isteri lain dari bapak susuan (ibu tiri susuan).
Termasuk dalam masalah ini adalah isteri dari kakek susuan dan seterusnya ke atas.

9. Isteri dari anak susuan (menantu dari anak susuan).
Termasuk dalam masalah ini adalah isteri cucu dari anak susuan.

10. Ibu susuan dari isteri (mertua susuan).
Termasuk dalam masalah ini adalah nenek susuan dari isteri dan seterusnya ke atas.

11. Anak susuan dari isteri (anak tiri susuan).
Termasuk dalam masalah ini adalah cucu perempuan dari anak perempuan susuan dan seterusnya ke bawah.

B. Mahram Muaqqat

Mahram muaqqat adalah wanita yang haram di nikahi untuk sementara waktu.

Yang termasuk mahram muaqqat adalah :

1. Mengumpulkan dua wanita yang bersaudara dalam satu pernikahan. (Q.S. An-Nisa’ : 23).

2. Mengumpulkan wanita dengan bibinya dalam satu pernikahan. (H.R. Bukhari dan Muslim).

3. Mengumpulkan lebih dari empat wanita dalam satu masa yang sama, semua isterinya masih hidup.

4. Wanita yang telah bersuami, hingga ia di talak atau di tinggal mati oleh suaminya dan telah habis masa ‘iddahnya. (Q.S. An-Nisa’ : 24).

Baca juga...  Pengertian Hadhanah

5. Wanita dalam masa ’iddah, hingga ia selesai masa ’iddahnya. (Q.S. Al-Baqarah : 235).

6. Wanita dalam keadaan ihram (haji atau umrah), hingga ia bertahallul. (H.R. Muslim dan At-Tirmidzi).

7. Isteri yang telah di talak tiga, hingga ia di nikahi oleh orang lain dan telah di ceraikan oleh suami yang baru tersebut. (Q.S. Al-Baqarah : 230).

8. Wanita musyrik, hingga ia masuk Islam. (Q.S. Al-Baqarah : 221).

9. Wanita pezina, hingga ia bertaubat dan beristibra’. (Q.S. Nur : 3).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru