oleh

Tentang Pakaian Wajib Laki-Laki dan Wanita Ketika Shalat

Tentang Pakaian Wajib Laki-Laki dan Wanita Ketika Shalat

“Pakaian wajib bagi laki-laki dan wanita ketika shalat”

Berdasarkan dalil-dalil yang qath’i, bahwa pakaian dalam shalat tidaklah sama dengan pakaian yang di kenakan oleh seseorang untuk menutup auratnya di luar shalat, dalarn shalat, seseorang mempunyai kewajiban lain, yaitu menutup kedua pundaknya, untuk memenuhi hak dan kehormatan shalat, bukan karena pundak itu termasuk aurat, beliau beralasan dengan sabda nya : “Janganlah seorang di antara kamu melaksanakan shalat dengan satu kain, sementara kedua pundaknya tidak tertutup sama sekali.”
Beliau juga beralasan dengan hadits-hadits yang lain.

Permasalahan penting ini seringkali di lalaikan oleh sebagian besar orang yang melaksanakan shalat, mereka (umumnya kaum pekerja) melaksanakan shalat dengan mengenakan satu pakaian saja yang tidak menutup pundak, kecuali sebesar garis kecil, mereka melupakan firman Allah : “KenakanIah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid.” (Q.S. Al-A’raf : 31).


Alangkah bagusnya apa yang di sebutkan, yaitu : “Sesungguhnya Ibnu Umar Ra berkata kepada budaknya, Nafi’, ketika melihatnya melaksanakan shalat dengan kepala terbuka : “Apakah seandainya engkau keluar kepada orang banyak, engkau keluar dalam keadaan seperti ini? Nafi’ menjawab, “Tidak”. Ibnu Umar berkata : “Maka, lebih layaklah kiranya bila engkau berhias untuk Allah.”


Pernyataan Ibnu Umar yang terakhir tersebut tercantum pula secara marfu’ dalam beberapa riwayat dari Ibnu Umar. Dalam riwayat Al-Baihaqi lafazhnya sebagai berikut :
“Bila seorang dari kamu melaksanakan shalat, hendaklah mengenakan dua pakaiannya, karena untuk Allah engkau lebih Iayak untuk berhias.” 

Kelalaian terhadap adab yang wajib di laksanakan dalam shalat tersebut, di sebabkan oleh dua hal :
Pertama : Banyak orang yang menyangka, bahwa pakaian yang wajib di kenakan di dalam shalat adalah yang menutupi aurat saja, pembatasan ini, selain tidak berdasarkan dalil sama sekali, juga bertentangan secara nyata dengan nash-nash di atas, khususnya hadits pertama yang menunjukkan batalnya shalat seseorang yang tidak menutupi kedua pundaknya dengan kain, tidak di ragukan lagi, ini adalah pendapat yang benar.


Kedua : Kejumudan mereka melakukan taklid buta, bisa jadi mereka pernah membaca atau mendengar nash-nash tersebut, tetapi mereka tetap tidak terpengaruh dan tidak menjadikannya sebagai pendapat yang harus mereka pegangi, karena madzhab yang mereka anut sepanjang kehidupan mereka menjadi penghalang untuk mengikuti pendapat tersebut, karena itu, As-Sunnah berada di satu sisi, sedangkan mereka berada di sisi yang lain, sebagaimana keadaan mereka dalam masalah ini, kecuali sedikit saja di antara mereka yang mendapatkan perlindungan Allah. Semoga Allah membalas Syaikhul Islam dengan kebaikan, karena beliau telah membuka jalan untuk kita di dalam hal yang penuh berkah ini, agar kita mengetahui berbagai hakikat yang telah kita lalaikan, di antaranya adalah dalam masalah ini.


Karena melaksanakan shalat dengan kedua pundak yang terbuka saja tidak di perbolehkan, maka lebih tidak di perbolehkan lagi apabila shalat itu dengan paha terbuka, baik di katakan, bahwa paha itu merupakan aurat ataukah tidak. 


Ini merupakan salah satu kedalaman pemahaman, ini berkenaan dengan pakaian laki-laki dalam shalat, mengenai wanita, bahwa ia berkewajiban mengenakan jilbab apabila keluar dari rumahnya, akan tetapi tidak berkewajiban untuk mengenakan jilbab tersebut apabila melaksanakan shalat di rumahnya, yang wajib di kenakannya adalah khimar (kerudung) dan pakaian yang bisa menutupi punggung telapak kaki, meskipun apabila ia sujud bisa jadi bagian bawah telapak kaki kelihatan. 


Seorang wanita juga di perbolehkan membuka wajah dan kedua telapak tangannya, sekalipun di luar shalat, bagian tersebut merupakan tidak aurat, sebaliknya, apabila sedang rnelaksanakan shalat, seorang wanita di wajibkan untuk mengenakan khimar, sekalipun di luar shalat di perbolehkan membuka bagian kepalanya di dalam rumah dan di hadapan orang-orang yang memiliki hubungan rnahram dengannya. 


Dengan demikian, kadang-kadang seseorang yang melaksanakan shalat itu berkewajiban menutupi apa yang boleh di perlihatkan di luar shalat dan sebaliknya di perbolehkan membuka bagian tubuhnya yang di tutupnya dari penglihatan kaum laki-laki. 


Hijab (kerudung) itu merupakan kewajiban khusus bagi wanita-wanita merdeka, tanpa menjadi kewajiban bagi budak-budak wanita dan bahwa seorang budak wanita di perbolehkan menampakkan bagian kepala dan rambutnya, akan tetapi kembali kita membahas rnasalah ini melalui sudut pandang kaidah-kaidah Islam yang bersifat umum, di antaranya adalah mencegah kerusakan itu lebih di dahulukan daripada mengambil kemaslahatan, maka, beliau tidak membiarkan masalah ini tetap dalarn kemutlakannya yang mengandung konsekuensi di perbolehkannya budak-budak wanita untuk menampakkan rambutnya. 


Setelah memberikan pengantar yang bermanfaat, demikian pula halnya dengan seorang wanita budak, bila di khawatirkan ia bisa menimbulkan fifnah, maka ia berkewajiban untuk rmrngenakan hijab, kepada mereka secara mutlak pula, jelas sekali bahwa pendapat Ibnu Taimiyah yang demikian itu tidak lain rnerupakan hasil perpaduan antara beberapa atsar yang menguatkan pendapat jumhur dengan kaidah yang telah di singgung tadi. 


Masih mengandung satu masalah, karena penilaian mengenai kecantikan, yang merupakan penyebab di khawatirkannya kerusakan, adalah perkara yang relatif, alangkah banyak wanita-wanita budak yang berkulit hitam, justru memiliki anggota badan dan postur tubuh yang indah sehingga bisa memikat laki-laki yang berkulit putih, atau boleh jadi menurut mereka budak-budak tersebut tidak cantik, tetapi bagi orang-orang dari kalangan bangsanya mungkin di anggap cantik. jadi, perkara ini tidak memiliki patokan yang pasti.
Oleh sebab itu, beliau menguatkan pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad, bahwa melihat wajah wanita ajnabiyah (yang tidak memiliki hubungan mahram) tanpa adanya keperluan, tidak di perbolehkan, sekalipun tanpa di sertai syahwat, karena di khawatirkan akan rnenimbulkan gejolak. 


Beliau berkata : “Karena itu, berkhalwat (berduaan) dengan wanita ajnabiyah di haramkan di karenakan adanya dugaan akan timbulnya fitnah.
Pada dasarnya, apapun yang menyebabkan terjadinya fitnah tidak di perbolehkan, karena suatu yang mengantarkan kepada kerusakan itu harus di cegah, kecuali bila berhadapan dengan kemaslahatan yang lebih kuat, karena itu “Pandangan mata yang kadang-kadang menjerumuskan kepada fitnah, itu di haramkan.”


“Apapun yang menyebabkan timbulnya fitnah, maka ia tidak di perbolehkan” lalu menjadikannya sebagai dalil yang menguatkan penghararnan “An-Nadhar” (melihat) sebagaimana yang telah di sebutkan, niscaya mereka tidak berbelit-belit dalam mangeluarkan beberapa fatwa mengenai hal yang bagi seorang yang rnendalami pemahaman tentang pokok-pokok dan cabang-cabang syari’ah, jelas mengakibatkan kerusakan-kerusakan yang nyata, misalnya adalah pendapat sebagian Hanafiah (penganut madzhab Hanafi) : “Seorang ajnabi (laki-laki yang tidak memiliki hubungan mahram) boleh melihat rambut, bagian tangan rnulai ujung jari hingga siku, betis, dada dan payudara wanita budak.”


Juga pendapat salah satu madzhab : “Boleh melihat aurat wanita ajnabiyah melalui cermin.” Di antara mereka beralasan, bahwa hal itu di perbolehkan, karena tidak lebih merupakan pandangan terhadap suatu yang bersifat khayalan, bahkan dewasa ini, terdapat salah satu golongan/kelompok Islam, sungguh di sayangkan telah mengadopsi pendapat tersebut, kelompok tersebut mengklaim, bahwa mereka mengambil setiap pendapat yang sesuai dengan kemaslahatan.


Tidak cukup di sini saja, bahkan mereka menjadikan pendapat tersebut sebagai suatu nash yang ma’shum, yang di jadikan sebagai landasan untuk suatu pendapat yang jauh lebih merusak daripada pendapat pertama, karena ia lebih menyentuh kehidupan dan realitas pemuda-pemuda kita di masa sekarang, yaitu di perbolehkannya melihat gambar-gambar porno rnelalui televisi, film dan majalah, dengan alasan sebagairnana di muka, yaitu bahwa yang di lihat di sini hanyalah sesuatu yang bersifat khayal. 


Setiap orang yang berakal dan berhati nurani, bahkan sekalipun ia seorang non muslim, niscaya yakin bahwa gambar-gambar tersebut merupakan perangsang-perangsang syahwat yang sangat berpengaruh negatif bagi para pemuda.


Sementara, setelah itu, mereka tidak mendapatkan menuduh bahwa kita memperbolehkan melihat wajah wanita yang paling di khawatirkan, hal itu seperti kata pepatah, “Lempar batu sembunyi tangan”. Rasulullah Saw dalam sabdanya : “Zina mata adalah melihat, zina lidah adalah berbicara, jiwa berkhayal dan berkeinginan, sedangkan kemaluan adalah yang membenarkan atau mendustakan itu semua.”

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru