oleh

Tentang Puasa Sunnah

PUASA SUNNAH

Seorang yang melakukan ibadah sunnah setelah ia mengerjakan yang fardhu, maka yang demikian itu akan menjadikannya dicintai Allah, Di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, Allah telah berfirman : “Hamba-Ku senantiasa (bertaqarrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (perbuatan) yang Aku cintai, dengan melakukan yang Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqarrub) mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunnah hingga Aku mencintainya.” (H.R. Bukhari Juz 5 : 6137).

Macam-macam Puasa Sunnah

Macam-macam puasa sunnah, antara lain :
1. Puasa enam hari bulan Syawwal.
2. Puasa sembilan hari pada awal bulan Dzulhijjah.
3. Puasa hari Arafah, disunnahkan melakukan puasa hari Arafah yaitu pada tanggal sembilan Dzulhijjah, bagi orang yang tidak melaksanakan haji.
4. Puasa di bulan Al-Muharram.
5. Puasa Asyura’, Puasa Asyura’ yaitu puasa pada tanggal sepuluh Al-Muharram.
6. Puasa di bulan Sya’ban.
7. Puasa Senin Kamis.
8. Puasa Ayyamul Bidh, yaitu tanggal : tiga belas, empat belas dan lima belas pada setiap bulan hijriyyah.
9. Puasa Dawud. (H.R. Imam Muslim).

PUASA YANG DI LARANG

Puasa yang di larang terbagi menjadi dua, antara lain:
A. Puasa Haram, haram berpuasa pada hari-hari berikut :
1. Hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adhha.
2. Hari Tasyriq, Hari tasyriq adalah tanggal sebelas, dua belas dan tiga belas Dzulhijjah, namun bagi seorang yang berhaji tamatu’ dan qiran, maka ia di perbolehkan untuk melakukan puasa dam (denda) pada hari Tasyriq.
3. Hari yang diragukan, hari yang diragukan adalah pada tanggal tiga puluh Sya’ban.
4. Mengkhususkan puasa hari Jum’at saja.
5. Seorang isteri berpuasa sunnah tanpa izin suaminya di rumah.

Baca juga...  Tentang Mahram

B. Puasa Makruh, Makruh melakukan puasa berikut :
1. Puasa Wishal, Puasa wishal adalah puasa bersambung tanpa makan, akan tetapi jika tidak membebani diperbolehkan mengerjakan puasa wishal hingga sahur saja.
2. Puasa satu tahun penuh, tidak diperbolehkan seorang melakukan puasa setahun penuh, walaupun ia berbuka pada hari-hari yang dilarang puasa.
Berkata Ibnu Qudamah, “Pendapat yang kuat menurutku bahwa berpuasa sepanjang masa adalah makruh jika seseorang tidak melakukan puasa pada hari-hari terlarang. Namun jika ia berpuasa pada hari-hari (terlarang) itu, maka ia telah melakukan perbuatan yang diharamkan. Berpuasa sepanjang masa dimakruhkan karena bisa membuat orang kelelahan dan menyerupai hidup membujang yang terlarang berdasarkan dalil.”

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya