oleh

Tentang Qurban

Definisi Qurban

Para ulama’ telah bersepakat tentang di syari’atkannya ibadah qurban di dalam Islam. “

Qurban adalah apa yang di sembelih dari hewan ternak (pada) Hari Raya ‘Idul Adh-ha (dan hari Tasyriq) untuk (menyemarakkan) Hari Raya (tersebut) dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dan hewan ternak yang di maksud adalah unta, sapi dan kambing/domba kibasy. Allah menggabungkan antara shalat dan qurban dalam firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah.”

Allah mengkhususkan penyebutan dua ibadah yang agung ini, yaitu shalat dan qurban, karena keduanya termasuk ibadah yang utama dan merupakan sebab untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hukum Qurban

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa qurban hukumnya adalah Sunnah Muakkadah dalam rangka mencontoh apa yang dilakukan oleh Nabi a. Ini adalah pendapat Madzhab Malik, Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu
Tsaur, Al-Muzani, Ibnul Mundzir, Dawud, Ibnu Hazm dan selainnya.

Hal-hal yang Dimakruhkan Bagi Orang yang Hendak Berqurban

Bagi seorang yang akan berqurban jika telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummu Salamah Ra, bahwa Nabi Saw bersabda :

”Jika telah masuk sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah) dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih hewan qurban, maka hendaklah ia tidak memotong rambut dan kulitnya sedikit pun.”

Larangan dalam hadits ini menunjukkan makruh bukan haram.

Syarat-syarat Berqurban

Syarat-syarat yang harus terpenuhi bagi seorang yang akan berqurban, antara lain :

  • Hewan qurban berupa; unta, sapi, atau kambing.
  • Usia hewan qurban telah memenuhi kriteria yang telah di tetapkan oleh syari’at.

Unta adalah telah genap berusia lima tahun, sapi adalah telah genap berusia dua tahun, kambing adalah telah genap berusia satu tahun.

Baca juga...  Sujud Tilawah

Adapun usia jaz’ah untuk domba (kibasy) adalah : Domba kibasy telah genap berusia setengah tahun (6 bulan), tidak sah berqurban dengan hewan ternak yang belum memasuki usia tersebut di atas.

3. Hewan qurban tidak memiliki cacat yang dapat menghalangi keabsahannya.

Cacat pada hewan qurban terbagi menjadi tiga, antara lain :

A. Cacat yang dapat menghalangi keabsahannya sebagai hewan qurban
Cacat yang dapat menghalangi keabsahan qurban adalah :

- Buta

Meskipun hanya salah satu matanya saja, baik itu di sebabkan karena tidak memiliki bola mata, bola mata menonjol keluar seperti kancing baju, atau karena bagian mata yang hitam berubah warna menjadi putih yang sangat jelas menunjukkan kebutaan.

- Sakit

Yaitu sakit yang gejalanya sangat terlihat pada hewan tersebut, seperti demam yang menyebabkan hewan tersebut tidak bisa jalan meninggalkan tempat penggembalaannya dan menyebabkan hewan tersebut loyo.

Demikian juga penyakit kudis yang parah, sehingga bisa merusak kelezatan daging atau mempengaruhi kesehatannya, begitu pula luka yang dalam sehingga mempengaruhi kesehatan tubuh yang lain.

– Pincang

Yaitu pincang yang dapat menghalangi hewan tersebut untuk berjalan seiring dengan hewan lain yang sehat.

– Kurus

Kurus sehingga tulangnya tidak bersum-sum. (H.R. Tirmidzi Juz 4 : 1497, Abu Dawud : 2802, dan Ibnu Majah : 3144).

B. Cacat yang dapat menjadikan makruhnya sebagai hewan qurban

Cacat pada hewan yang dapat menjadikan makruhnya sebagai hewan qurban adalah :

  • Robek telinganya.
  • Terpotong separuh telinganya atau tanduknya.
  • Daun telinganya lubang.
  • Telinganya terpotong hingga tampak lubang telinganya.
  • Sama sekali tidak memiliki tanduk.
  • Telah hilang kemampuan melihatnya, meskipun kondisi mata dalamnya utuh.
  • Loyo sehingga tidak dapat berjalan seiring dengan kelompoknya, atau hewan yang loyo yang hanya mampu berjalan di belakang rombongannya.
  • Kurang dari separuh bagian pantatnya di potong, namun jika sejak lahir tidak memiliki pantat sama sekali, maka tidak di makruhkan. Adapun jika pantat yang di potong lebih dari separuh, maka Jumhur ulama’ berpendapat bahwa hewan tersebut tidak sah.
  • Kemaluannya di potong.
  • Sebagian giginya tanggal, misalnya gigi seri, atau gigi taringnya. Adapun jika sejak lahir hewan tersebut tidak memiliki gigi, maka tidak di makruhkan.
  • Puting susunya dipotong. Jika puting susunya itu tidak ada sejak lahir, maka tidak di makruhkan, meskipun air susunya tidak bisa mengalir, asalkan kantong susunya tidak rusak.
Baca juga...  Adab Malam Pengantin

C. Cacat yang tidak mempengaruhi kesempurnaan qurban

Cacat yang tidak mempengaruhi kesempurnaan qurban yaitu suatu cacat yang tidak di dukung dengan hadits shahih yang melarangnya. Misalnya adalah :

 Tidak memiliki gigi (al-hatma’),
 Terpotong ekornya (al-batra’),
 Terpotong hidungnya (al-jad’a’),
 Dikebiri, dan semisalnya.

4. Hewan qurban merupakan milik orang yang akan berqurban

Hewan qurban haruslah merupakan milik orang yang akan berqurban atau milik orang lain namun telah sah secara syari’at atau telah mendapat izin dari pemiliknya.

Oleh karena itu tidak sah berqurban dengan hewan yang bukan hak milik, seperti hewan rampasan, curian, dan sebagainya, karena tidak sah mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan maksiat kepadaNya.

5. Hewan qurban tidak berkaitan dengan hak orang lain

Hewan qurban tersebut tidak berkaitan dengan hak orang lain, sehingga tidak sah berqurban dengan hewan yang di gunakan sebagai jaminan hutang.

6. Penyembelihan hewan qurban dilakukan pada waktu yang di tentukan syari’at

Penyembelihan hewan qurban dilakukan setelah Shalat ’Idul Adh-ha (tanggal 10 Dzulhijjah), tidak di syaratkan harus setelah imam berqurban- hingga tenggelam matahari pada hari Tasyriq terakhir (tanggal 13 Dzulhijjah).

Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka ia harus menyembelih hewan qurban lain sebagai penggantinya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya