oleh

Tentang Thaharah

Apa itu thaharah?

Thaharah menurut syar’i adalah menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi shalat berupa hadats atau najis dengan menggunakan air atau semisalnya atau mengangkat najis tersebut dengan tanah.

Telah bersepakat kaum muslimin, bahwa thaharah syar’iyah ada dua macam, yaitu : Thaharah dari Khabats.

Cara bersuci dari khabats atau najis, antara lain dengan cara :
1. Membasuh.

  • Membasuh wadah yang terkena jilatan anjing. (H.R. Imam Muslim dan Abu Dawud).
  • Membasuh pakaian yang terkena kencing. (H.R. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).
  • Membasuh pakaian yang terkena haidh. (H.R. Imam Bukhari dan Ibnu Majah).
  • Menyucikan tanah. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

2. Memerciki.
a. Memerciki pakaian yang terkena kencing bayi laki-laki yang masih menyusu pada ibunya. (H.R. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah). Kencing bayi laki-laki di perciki dengan air, jika bayi tersebut tidak atau belum makan kecuali hanya dari susu ibunya atau makanan yang mendominasinya adalah susu ibunya. (H.R. Abu Dawud). Jika bayi laki-laki tersebut sudah di beri makan dengan makanan lain selain susu ibunya, maka bekas tempat kencingnya harus di basuh. (H.R. Abu Dawud).

b. Memerciki pakaian yang terkena madzi. (H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

3. Menggosok.
a. Menggosok bagian bawah sandal. (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Ahmad).

b. Menyucikan bagian bawah pakaian wanita, jika bagian bawah pakaian wanita terkena najis, maka akan menjadi suci dengan menyentuhkannya ke tanah yang suci. (H.R. At-Tirmidzi).

4. Menyamak kulit bangkai. (H.R. Imam Muslim dan Abu Dawud).

5. Mengambil dan Menghilangkan.

Menyucikan sumur atau minyak samin ketika terkena najis. (H.R. Imam Bukhari). Akan tetapi jika ternyata pada sisa samin tersebut juga terdapat pengaruh najis, maka sisa samin tersebut di buang seluruhnya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru