oleh

Tentang Thalaq

-Muslimah-1 views

Bagaimana pengertian tentang talak?

Talak adalah melepaskan ikatan pernikahan, talak merupakan perbuatan yang membanggakan bagi syetan, sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin ’Abdillah Ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : ”Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas
air, kemudian ia mengutus pasukan, yang paling dekat kedudukan kepadanya adalah yang paling besar fitnahnya (kepada manusia). Salah seorang dari mereka datang dan berkata, ”Aku telah melakukan ini dan itu. Lalu iblis berkata, ”Kamu belum melakukan apa-apa.”
Kemudian salah seorang dari mereka datang dan berkata, ”Aku tidak meninggalkan (manusia), sehingga aku bisa memisahkannya dengan isterinya.” Kemudian iblis mendekatinya dan berkata. ”Kamu memang hebat.” (H.R. Imam Muslim).


Suami (yang merdeka) mempunyai tiga talak atas isterinya dan talak merupakan hak suami, talak hukumnya sah dengan dengan perkataan suami atau wakilnya dan para ulama’ telah bersepakat, bahwa talak dapat dijatuhkan meskipun ketika isteri tidak ada.

Hukum Talak
Pada talak berlaku hukum taklifi yang lima, yaitu :

1. Wajib.
Ketika terjadi pertikaian antara suami isteri dan juru damai pun tidak dapat mendamaikan mereka, bahkan permasalahannya semakin memanas, maka ketika itu suami wajib mentalakkan isterinya atau ketika suami menjatuhkan ila’ kepada isterinya dan telah berlalu
empat bulan, sedangkan suami tetap tidak bersedia jima’ dengan isterinya, maka ketika itu suami wajib mentalak.

2. Mustahabb.
Ketika isteri melalaikan hak-hak Allah, seperti meninggalkan shalat- atau isteri melalaikan hak suaminya, seperti ia tidak menjaga kehormatannya, maka ketika itu talak hukumnya menjadi mustahabb.

3. Mubah.
Ketika akhlak atau perilaku isteri kepada suaminya sangat buruk, sementara suami tidak melihat adanya harapan untuk dapat berubah, maka ketika itu talak hukumnya menjadi mubah.

4. Makruh
Talak dimakruhkan hukumnya ketika dilakukan bukan karena kebutuhan.

5. Haram.
Talak menjadi haram hukumnya ketika suami menjatuhkan talak kepada isterinya dalam keadaan haidh atau nifas atau dalam masa suci yang telah dijima’i dan belum jelas kehamilannya. Haram pula mentalak tiga dengan satu lafazh dalam satu majelis.

Syarat-syarat Talak.
Syarat talak terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Syarat yang berhubungan dengan yang mentalak, syarat yang berhubungan dengan yang mentalak ada tiga, antara lain :  

– Orang yang mentalak adalah suami bagi wanita yang ditalak, sehingga jika seorang mengatakan, “Jika aku menikah dengan si Fulanah, maka ia ditalak” ucapan ini tidak diperhitungkan sebagai talak, karena wanita tersebut belum menjadi isterinya yang sah.  
– Orang yang mentalak telah mencapai baligh, sehingga talak yang yang dilakukan oleh anak kecil meskipun sudah mumayyiz, maka talaknya tidak sah, ini adalah pendapat Jumhur ulama’. 
– Orang yang mentalak adalah orang yang berakal, talak dilakukan tanpa paksaan.

b. Syarat yang berhubungan dengan yang ditalak.
Syarat yang berhubungan dengan yang ditalak ada dua, antara lain : 1. Orang yang ditalak adalah isteri bagi suami yang mentalak. 2. Talak benar-benar ditujukan oleh suami kepada
isterinya, baik berupa; ucapan, isyarat, sifat, maupun niat.

Baca juga...  Pengertian Nusyuz

Macam-macam Talak.
Macam-macam talak dapat dilihat dari beberapa sisi, antara lain :

1. Talak berdasarkan shighat yang dilafazhkan.
Talak berdasarkan shighat yang dilafazhkan dibagi menjadi dua, yaitu : 

1. Lafazh sharih, lafazh yang sharih yaitu ucapan yang secara jelas menunjukkan bahwa itu adalah talak dan tidak mengandung makna lainnya, seperti ucapan, “Aku mentalakmu,” “Engkau aku talak,” dan yang semisalnya. Talak yang sharih ini tetap dianggap sah, meskipun diucapkan dengan bergurau. 

2. Lafazh kinayah, lafazh kinayah yaitu ucapan yang mengandung makna talak dan makna lainnya, seperti ucapan,“Pulanglah engkau kepada keluargamu,” “Engkau sekarang terlepas,” dan yang semisalnya, ucapan-ucapan semacam ini tidak dianggap sebagai talak, kecuali jika disertai niat untuk mentalak.

2. Talak berdasarkan sifatnya.
Talak berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua, yaitu : 

a. Talak sunni, Talak sunni adalah talak yang sesuai dengan syari’at, yaitu suami mentalak isteri pada waktu suci yang belum dijima’i atau talak yang dilakukan suami pada saat isterinya hamil, dengan kehamilan yang jelas. 

b. Talak bid’i, Talak bid’i adalah talak yang menyelisihi syari’at. Talak semacam ini adalah haram, pelakunya berdosa, meskipun demikian talaknya tetap jatuh. Ini adalah pendapat Jumhur ulama’. Suami yang menjatuhkan talak bid’i wajib meruju’isterinya, jika itu bukan talak tiga. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Dawud Azh-Dzhahiri.

Talak bid’i terbagi menjadi dua macam :
a. Bid’ah berkaitan dengan waktu, yaitu suami menjatuhkan talak kepada isterinya pada waktu haidh atau nifas atau pada waktu suci yang telah di jima’inya, sementara belum jelas kehamilannya. 

b. Bid’ah berkaitan dengan bilangan, yaitu suami menjatuhkan talak tiga dengan satu kalimat sekaligus atau menjatuhkan tiga talak secara terpisah, dalam satu majelis, misalnya suami mengatakan kepada isterinya, ”Aku mentalakmu, aku mentalakmu, aku mentalakmu.” Talak tiga dengan satu kalimat sekaligus hanya dianggap satu talak.

Baca juga...  Pengertian Ila' Dalam Islam

3. Talak berdasarkan pengaruh yang dihasilkan.
Talak berdasarkan pengaruh yang dihasilkan dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Talak raj’i, Talak raj’i adalah talak yang dengannya suami masih berhak untuk meruju’ isterinya pada masa ’iddah, tanpa mengulangi akad nikah yang baru, walaupun tanpa keridhaan isteri. Para ulama’ telah bersepakat bahwa seorang laki-laki merdeka jika ia mentalak isterinya di bawah tiga kali, maka ia berhak meruju’nya pada masa ’iddah, sehingga talak raj’i adalah talak suami kepada isteri dengan talak pertama dan talak kedua. Isteri yang telah ditalak raj’i oleh suaminya menjalani masa ‘iddahnya di rumah suaminya. Para ulama’ telah bersepakat, bahwa isteri yang ditalak raj’i tetap berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal dan jika salah satu dari suami isteri tersebut meninggal dunia, maka pasangannya tetap memiliki hak waris atas yang lainnya.

2. Talak bain, Talak bain adalah talak yang menjadikan suami tidak berhak meruju’ isterinya yang ditalaknya. Jenis talak ini ada dua macam, yaitu :

a. Bain shughra, Bain sughra adalah talak yang menjadikan suami tidak berhak untuk meruju’ isterinya yang ditalaknya, kecuali dengan akad nikah dan mahar baru. Talak bain sughra ada dua, yaitu :

– Talak yang yang kurang dari talak tiga, namun telah habis masa ‘iddahnya, jika suami mentalak isterinya, dengan talak pertama atau talak kedua, lalu hingga isteri menyelesaikan ‘iddahnya ternyata suami tidak meruju’nya, maka ini disebut bain shughra. Suami sama seperti orang lain, jika ia ingin menikahi isteri yang telah ditalaknya, maka harus dengan akad dan mahar baru, meskipun isteri tersebut belum menikah dengan orang lain, jika salah satu dari suami isteri meninggal dunia setelah terjadi talak bain ini, maka pasangannya tidak memiliki hak waris atas yang lainnya.

Baca juga...  Pengertian Khithbah

– Talak yang dijatuhkan oleh suami kepada isterinya yang belum pernah dijima’inya. Ijma’ para ulama’ bahwa suami yang mentalak isterinya yang belum pernah dijima’inya, maka talaknya adalah talak bain (sughra). (Q.S. Al-Ahzab : 49).

b. Bain kubra, Bain kubra adalah talak tiga, yang suami tidak berhak ruju’ kepada isterinya yang telah ditalak tersebut, kecuali setelah isterinya menikah lagi dengan laki-laki lain dengan pernikahan syar’i (bukan nikah tahlil) dan keduanya telah terjadi jima’, lalu suaminya mentalaknya atau suaminya meninggal dunia. Setelah isteri tersebut menyelesaikan masa ’iddahnya, maka mantan suaminya yang pertama baru boleh menikahi isteri tersebut. Wanita yang telah ditalak tiga (talak bain kubra) oleh suaminya, maka ia menghabiskan masa ’iddah di rumah keluarganya, karena ia tidak halal bagi suaminya.
Tidak ada hak nafkah dan tempat tinggal untuknya kecuali jika ia dalam keadaan hamil.

4. Talak berdasarkan waktu terjadinya.
Talak berdasarkan waktu terjadinya dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Talak munajjaz, Talak munajjaz yaitu talak yang redaksinya tidak berkaitan dengan suatu syarat atau masa yang akan datang dan maksud suami yang mentalak adalah jatuh talak saat itu juga, misalnya suami berkata kepada isterinya, ”Engkau aku talak,” atau ”Aku mentalakmu,” dan yang semisalnya. Talak semacam ini jatuh pada saat itu juga, karena ia tidak dibatasi oleh sesuatu apa pun.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya