oleh

Tentang Wudhu’

Bagaimana cara berwudhu’ yang benar?

Allah mencintai orang-orang yang mensucikan diri, sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Q.S. Al-Baqarah : 222).

Wudhu’ yang di lakukan oleh seseorang dapat menghapuskan kesalahan dan dosa yang telah di lakukannya, sebagaimana di riwayatkan dari ’Utsman bin ’Affan Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang berwudhu’ lalu membaguskannya, maka akan keluar kesalahan-kesalahannya dari badannya bahkan sampai keluar dari bawah kuku-kukunya.” (H.R. Imam Muslim).

Syarat Sah Wudhu’
Syarat sahnya wudhu’ adalah niat. (H.R. Imam Bukhari Juz 1 : 1 dan Imam Muslim Juz 3 : 1907).

Rukun-rukun Wudhu’
Rukun-rukun wudhu’ antara lain :
1. Berkumur dan menghirup air ke hidung (istinsyaq). (H.R. Imam Muslim Juz 1 : 237 dan Abu Dawud : 140).

2. Membasuh wajah.
Batasan-batasan wajah adalah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala sampai jenggot yang turun dari dua jambang dan dagu memanjang (atas ke bawah) dan dari telinga kanan sampai telinga kiri.

3. Membasuh kedua tangan hingga siku-siku.
Di basuh dari ujung-ujung jari hingga ke siku dan siku masuk dalam daerah basuhan, ini adalah pendapat jumhur ulama.

4. Mengusap kepala termasuk telinga.
Cara mengusap kepala adalah dengan mengusapkan kedua tangannya ke kepala dari muka ke belakang sampai tengkuk lalu di kembalikan dari belakang ke muka, (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 32), kemudian di sambung dengan mengusap telinga, mengusap kepala sekaligus telinga tersebut hanya di lakukan dengan satu kali usapan atau satu gerakan. (H.R. Abu Dawud : 115). Adapun cara mengusap telinga adalah dengan memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam kedua telinga dan mengusap bagian luar kedua telinga dengan ibu jari. (H.R. Abu Dawud : 135), tidak perlu mengambil air baru untuk mengusap telinga, cukup menggunakan sisa air yang telah di gunakan untuk mengusap kepala tadi.

5. Membasuh kedua kaki. (Q.S. Al-Maidah : 6).

Baca juga...  Beberapa Larangan Terhadap Kaum Laki-Laki Muslim

6. Tertib (berurutan).
Tertib merupakan rukun, karena Allah menyebutkan rukun-rukun wudhu’ didalam firman-Nya Surat Al-Maidah ayat yang keenam secara tertib. (H.R. An-Nasa’i : 2962, lafazh ini miliknya dan Imam Muslim Juz 2 : 1218).

7. Muwalah.
Yang di maksud dengan muwalah adalah bersambungan, yaitu wudhu’ harus di lakukan bersambung dan tidak terpisah hingga anggota wudhu’ yang sebelumnya kering, menurut Malikiyah dan Hanabilah hukum muwalah adalah fardhu. (H.R. Abu Dawud : 175). Seandainya muwalah bukan rukun, tentu Nabi Saw tidak memerintahkan laki-laki tersebut untuk mengulangi wudhu’nya, tetapi cukup membasuh punggung telapak kakinya saja.

Sunnah-sunnah Wudhu’
Sunnah-sunnah wudhu’ antara lain :

1. Membaca basmalah.
Jumhur ulama’ (Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah, serta satu riwayat dari Imam Ahmad) berpendapat, bahwa membaca basmalah ketika akan berwudhu’ hukumnya adalah Mustahab, tidak wajib. (H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud : 101, At-Tirmidzi : 25 dan Ibnu Majah).

2. Bersiwak. (H.R. Imam Ahmad dan Imam Malik : 146).

3. Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali. (H.R. Imam Bukhari Juz 1 : 158 dan Imam Muslim Juz 1 : 226).

4. Menggabungkan berkumur dan memasukkan air ke hidung (lalu mengeluarkannya) dengan segenggam (satu cidukan) air sebanyak tiga kali. (H.R. Imam Bukhari Juz 1 : 188 dan Imam Muslim Juz 1 : 235).

5. Memasukkan air ke hidung (lalu mengeluarkannya) dengan sangat bagi yang tidak puasa. (H.R. Abu Dawud : 142, An-Nasa’i Juz 1 : 87,dan Ibnu Majah : 407).

6. Menyela-nyelai jenggot yang tebal, jari-jemari tangan dan jari-jari kaki. (H.R. Abu Dawud).

7. Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. (H.R. Ibnu Majah).

8. Membasuh sebanyak tiga kali.
Nabi Saw pernah wudhu’ dengan sekali kali basuhan, dua kali basuhan dan tiga kali basuhan. (H.R. At-Tirmidzi). Basuhan pertama adalah wajib, sedangkan basuhan kedua dan ketiga adalah sunnah dan tidak di perbolehkan membasuh lebih dari tiga kali. (H.R. Ibnu Majah).

Baca juga...  Waktu Yang Di Makruhkan Shalat Jenazah

9. Menggosok anggota wudhu’. (H.R. Ibnu Khuzaimah : 118).

10. Berdo’a setelah berwudhu’.
Dengan membaca : “Aku bersaksi bahwa tiada Sesembahan (yang berhak untuk di sembah) selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku pula termasuk orang-orang yang selalu mensucikan diri. (H.R. Imam Muslim Juz 1 : 234, Abu Dawud : 169, At-Tirmidzi Juz 1 : 55, An-Nasa’i Juz 1 : 14 dan Ibnu Majah : 470).

11. Melakukan Shalat Sunnah Wudhu’. (H.R. Imam Bukhari Juz 1 : 158 dan Imam Muslim Juz 1 : 226). Shalat Sunnah Wudhu’ di lakukan dengan dua raka’at atau lebih, boleh di lakukan kapanpun, walaupun pada waktu-waktu terlarang. (H.R. Imam Bukhari Juz 1 : 1098 dan Imam Muslim Juz 4 : 2458).

Pembatal-pembatal Wudhu’
Pembatal-pembatal wudhu antara lain :

1. Segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul, segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul, baik berupa benda padat, cair, angin dan sebagainya, maka ini semua membatalkan wudhu’. (H.R. Abu Dawud : 205).

2. Tidur nyenyak
Tidak semua tidur membatalkan wudhu’, tidur yang membatalkan wudhu’ adalah tidur yang sangat nyenyak, sehingga hilang kesadaran dan jika ada yang keluar darinya, maka ia tidak merasakan. (H.R. Imam Muslim Juz 1 : 376 dan At-Tirmidzi Juz 1 : 78).

3. Hilang akal karena sakit (gila), pingsan atau mabuk

Ini adalah salah satu pembatal wudhu’ berdasarkan ijma’, karena hilangnya akal pada keadaan seperti ini lebih besar daripada tidur, ini di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ish Shaghir : 6167).

4. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang dan dengan syahwat

Menyentuh kemaluan yang dapat membatalkan wudhu’ adalah menyentuh dengan menggunakan telapak tangan (batasan telapak tangan adalah dari ujung jari-jari hingga ke pergelangan tangan), baik itu dengan telapak tangan atau dengan punggung tangan. (H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud : 181, Ibnu Hibban : 1116 dan Al-Baihaqi Juz 1 : 639) dan menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu’ selama tidak di sertai dengan syahwat. (H.R. Imam Ahmad, An-Nasa’i Juz 1 : 165 dan Ibnu Hibban : 1120). Ini adalah pendapat yang di pilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Al-Albani.

Baca juga...  Makanan yang Di haramkan menurut Syari'at Islam

5. Memakan daging unta
Memakan daging unta membatalkan wudhu’. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, Abu Khaitsamah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, salah satu dari dua pendapat Asy-Syafi’i dan inilah pendapat yang di pilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. (H.R. Imam Muslim Juz 1 : 360, At-Tirmidzi Juz 1 : 81 dan Abu Dawud : 184).

Hal-hal yang Mewajibkan Untuk Berwudhu’
Hal-hal yang mewajibkan untuk berwudhu’ antara lain :

  1. Shalat. (Q.S. Al-Maidah : 6).
  2. Thawaf di sekitar Ka’bah. (H.R. Asy-Syafi’i).

Hal-hal yang Di sunnahkan Untuk Berwudhu’
Hal-hal yang di sunnahkan untuk berwudhu’ antara lain adalah :

  1. Ketika berdzikir dan berdoa kepada Allah. (H.R. Imam Muslim Juz 1 : 373
  2. Ketika hendak tidur. (H.R. Imam Bukhari Juz 1 : 244, lafazh ini miliknya dan Imam Muslim Juz 4 : 2710).
  3. Orang yang junub ketika hendak makan, minum atau tidur. (H.R. Imam Bukhari Juz 1 : 284, Imam Muslim Juz 1 : 305, lafazh ini miliknya, Abu Dawud : 222 dan An-Nasa’i Juz 1 : 258).
  4. Karena ingin mengulangi jima’. (H.R. Imam Muslim Juz 1 : 308 dan At-Tirmidzi Juz 1 : 141).
  5. Karena memakan makanan yang tersentuh api atau di bakar. (H.R. Imam Muslim Juz 1 : 351, An-Nasa’i Juz 1 : 171, lafazh ini miliknya, At-Tirmidzi Juz 1 : 79 dan Ibnu Majah : 485).
  6. Setiap akan shalat (walaupun wudhu’nya belum batal). (H.R. Imam Ahmad).
  7. Setiap kali berhadats. (H.R. Imam Bukhari Juz 1 : 1098 dan Imam Muslim Juz 4 : 2458).
  8. Setelah muntah. (H.R. At-Tirmidzi Juz 1 : 87).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya