oleh

Terapi Dalam Literatur Tasawuf Dan Definisi Tasawuf

Pengertian Terapi, Sufi dan Sufisme

Dalam kamus, kata terapi harus di telusuri dari kata “therapeutic” yang berarti kata sifat yang mengandung unsur-unsur atau nilai-nilai pengobatan.

Ketika di tambah dengan akhiran ‘s’ di belakangnya (therapeutics), maka ia menjadi kata benda yang bermakna ilmu pemeriksaan dan pengobatan, pemaknaan semacam inilah yang lebih tepat untuk memaknai kata terapi ini, sebab jika di rujuk pada kata therapy sendiri dalam bahasa Inggris, maka artinya menjadi lebih sempit, yaitu pengobatan yang bersifat jasmani.

Terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, tidak di sebut ‘usaha medis’ dan juga tidak di sebut menyembuhkan penyakit, oleh karena itu, terapi lebih luas daripada sekadar pengobatan atau perawatan.

Apa yang dapat memberi kesenangan, baik fisik maupun mental, pada seseorang yang sedang sakit dapat di anggap terapi, sepakat dengan pengertian di atas, maka terapi yang di maksud dalam penelitian ini adalah upaya untuk membuat senang, bahagia dan tenang orang yang sedang sakit, sehingga ia mampu bertahan dan berusaha melawan rasa sakitnya dan berbuah kepada kesembuhan.

Hal ini di hubungkan dengan korelasi antara mind dan body dalam konsep psikonoeuroendokrinimonology, dengan demikian, terapi dapat di maknai secara lebih luas, termasuk di dalamnya shalat, puasa, dzikir dan pengelolaan hati, yang kental dalam praktik-praktik para sufi dalam tasawuf, sementara istilah ’sufi’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia di makna dengan (n) ahli ilmu tasawuf, ahli ilmu suluk., sedangkan kata ’tasawuf’ belum di temukan kesepakatan dalam merumuskan definisi dan batasan tegas dari para ahli.

Hal ini di sebabkan terutama karena kecenderungan semacam ini terdapat pada setiap agama, aliran filsafat dan peradaban, untuk memahami pengertian tasawuf, kita harus merunut dari akar kata tasawuf dan kemunculannya.

Baca juga...  19 Tempat Yang Terlarang Untuk Di Bekam

Pasalnya, tasawuf secara perilaku telah di ajarkan Nabi Saw, sedangkan kata tasawuf baru muncul sekitar abad III Hijriyah, ada beragam pendapat mengenai akar kata tasawuf, ada yang mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata ṣufah (kain dari bulu domba yang berbentuk wol) dengan melihat perilaku para sufi dalam kepasrahannya kepada Allah ibarat kain wol yang di bentangkan.

Ada yang mengatakan berasal dari “Ibnu Shauf”, yang di kenal sejak sebelum Islam sebagai gelar dari seorang anak Arab yang shaleh, yang selalu mengasingkan diri di dekat Ka’bah untuk mendekatkan diri pada Tuhan-nya, bahkan ada yang mengatakan berasal dari kata, ‘sofia’, istilah Yunani yang berarti “Hikmah atau Filsafat.”

Tasawuf sebagai salah satu mistisisme, dalam bahasa Inggris di sebut sufisme, istilah ini muncul dikaitkan dengan suatu jenis pakaian kasar yang di sebut ṣuff atau wool kasar, sebagai simbol kesederhanaan, berbagai istilah lain, seperti ṣuffah yang berarti emperan masjid nabawi yang di diami oleh sebagian sahabat Anshar, ṣaf yang berarti barisan, ṣafa yang berarti bersih atau jernih, ṣufanah sebagai nama dari tumbuhan yang dapat bertahan tumbuh di padang pasir, juga menjadi kumpulan definisi dari para ahli.

Ada pula yang berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata ṣifah (sifat), kata itu di ambil karena seorang sufi merupakan seorang yang menghiasi diri dengan segala sifat terpuji dan meninggalkan sifat tercela.

Ada yang berpendapat tasawuf berasal dari kata ṣuffah (sufah), sebab seorang sufi mengikuti ahli sufah dalam sifat yang telah ditetapkan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya, “… dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka”.

Daud Elhami yang di dukung kalangan orientalis, lebih memilih asal kata tasawuf dari ṣuf (bulu domba yang kasar) dan menganggap kata tasawuf sebagai kata mushtaq (generic) yang sama formatnya dengan taqamuṣ (memakai kemeja panjang atau gamis).

Baca juga...  Ragam Kesaksian

Sedangkan secara terminology, Zakaria Al-Anshari berkata, tasawuf adalah ilmu yang dengannya di ketahui tentang pembersihan jiwa, perbaikan budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.

Spencer Trimingham mendefinisikan seorang sufi atau ahli tasawuf merupakan orang yang bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Abu Hasan Al-Syadzili mendefinisikan tasawuf untuk melatih jiwa agar tekun beribadah dan mengembalikannya kepada hukum-hukum ketuhanan.

Ibnu Ujaibah mengartikan, tasawuf sebagai ilmu yang dengannya di ketahui cara untuk mencapai Allah, membersihkan batin dari semua akhlak tercela dan menghiasinya dengan beragam akhlak terpuji, bahkan Ibnu Ujaibah membagi tasawuf dalam 3 kategori, awalnya tasawuf merupakan ilmu, tengahnya merupakan amal dan akhirnya merupakan karunia atau bisa di definisikan sebagai tiang penyangga untuk penjernihan hati dari kotoran materi dan pondasinya adalah hubungan manusia dengan sang pencipta yang agung, jadi seorang sufi merupakan orang yang hati dan interaksinya murni hanya untuk Allah, sehingga Allah memberinya karamah.

Dengan demikian, maka tasawuf dapat di artikan sebagai suatu ilmu yang mengajarkan bagaimana meraih derajat sedekat-dekatnya dengan Tuhan, karena orang yang paling dekat dengan Tuhan adalah para Nabi dan Rasul, maka tasawuf mengajarkan bagaimana perilaku para Nabi dan Rasul.

Di dalamnya kemudian ada ajaran ibadah, mu’amalah dan akhlak sebagai perhiasan bagi para Nabi dan Rasul, ‘term insan kamil’ menjadi tujuan para sufi, ma‘rifatullāh menjadi harapan bagi mereka, sehingga mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang akan menghalanginya dalam mencapai tujuan tersebut.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru