oleh

Tiga Hal Yang Menjadikan Sebab Jin Dapat Mudah Menguasai Kesadaran Manusia

Mestinya jin tidak dapat dengan mudah menguasai kesadaran manusia, sebagaimana yang terjadi akibat pelaksanaan ruqyah, kalau itu terjadi, tidak lain karena manusia sendiri telah membuka peluang bagi syetan jin untuk memasuki wilayah kesadarannya akibat kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat sendiri.

Hal itu karena Allah sudah mengadakan sistem penjagaan yang kuat bagi manusia, penjaga-penjaga itu adalah para malaikat yang di datangkan secara bergiliran pada setiap waktu shalat ashar dan shalat subuh.

Batas wilayah kesadaran manusia itu benar-benar di jaga dengan kuat oleh sistem penjagaan tersebut, yang demikian itu supaya tidak ada lagi yang dapat merubah ketetapan Allah bagi hamba-Nya.

Allah telah mengabarkan dengan firman-Nya : “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaga ketetapan (urusan) yang sudah di tetapkan Allah.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d : 15/11). Malaikat-malaikat penjaga itu bertugas menjaga manusia dari sesuatu yang tidak di takdirkan Allah, baik dari akibat perbuatan manusia maupun perbuatan jin.

Mereka menjaga manusia dari kematian selama belum datang ajal baginya dan menjaga dari kejahatan jin dan manusia selama tidak ada takdir baginya, apabila ada takdir dari Allah untuk manusia yang di jaganya, maka para malaikat penjaga itu menjauh.

Al-Hasan berkata : “Masing-masing manusia di jaga empat puluh malaikat berkumpul pada waktu shalat subuh dan empat puluh malaikat berkumpul pada waktu shalat ashar. Mereka datang dan pergi saling bergantian antara dua waktu shalat tersebut.

Sebagian ulama ada yang mengatakan, malaikat itu namanya Hafadhoh (Malaikat penjaga) yang berjumlah seratus delapan puluh malaikat. (Tafsir Al-Qurthubi).

Jika tidak ada sistem penjagaan seperti itu, maka tidak ada seorangpun dapat selamat dari ancaman syetan jin yang selalu siap membidik manusia. Bahkan di katakan tidak ada seorangpun sempat berbuat untuk dirinya, meski sekedar untuk makan maupun minum karena setan selalu akan mendahuluinya.

Baca juga...  Bahaya Laksanakan Ruqyah Dengan Perasaan Sombong

Hal tersebut, karena musuh utama manusia itu adalah makhluk yang lebih kuat dari manusia, mereka dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat mereka. Allah menegaskan lagi dengan firman-Nya : “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang di curahkan) atas semesta alam.” (Q.S. Al-Baqarah : 2/251).

Jika Allah tidak menahan kejahatan manusia yang satu kepada yang lainnya (akibat ancaman yang terrencana dan sistematis dari syetan jin kepada anak manusia), maka manusia akan menjadi mesim pembunuh dan mesin perusak bagi manusia yang lain.

Akibatnya langit dan bumi serta isinya akan menjadi hancur, adakah manusia pernah memikirkan karunia Allah yang agung yang terus menerus menjaga hidupnya sepanjang hari tersebut? Dengan penjagaan itu mereka dapat hidup layak di muka bumi tanpa mendapat gangguan dari musuh besarnya..?

Seberapa besarkah manusia pernah mensyukuri kenikmatan itu sehingga kenikmatan itu bisa di tambahkan kepada mereka…? Yang pasti manusia sendiri yang merusaknya, sehingga kenikmatan yang agung itu menjadi sirna kemudian manusia akan menerima musibah dan siksa akibat perbuatan mereka sendiri.

Allah telah mengabarkan dengan firman-Nya : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d : 15/11). Di dalam ayat yang lain Allah lebih menegaskan lagi dengan firman-Nya : “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah di anugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.‟ (Q.S. Al-Anfal : 8/53).

Akibatnya, manusia melihat bahwa kerusakan telah terjadi di sana-sini akibat ulah perbuatan mereka sendiri, bahkan sebagian mereka menjadi pembunuh dari sebagian yang lain, tidak hanya membunuh jiwa raganya, bahkan eksistensinya dengan fitnah-fitnah keji yang sebarkan kepada teman-temannya sendiri.

Baca juga...  Teman Yang Baik Ada Di Majelis Dzikir

Sebagian manusia terkadang tidak sadar, ketika mereka telah terjebak dengan rasa dendam dan hasud yang bersemayam di dalam rongga dadanya, jebakan itu bagaikan bara menganga yang senantiasa membakar jalan pikiran dan meracuni keimanannya, sehingga tidak henti-hentinya mereka berbuat kemunafikan kepada saudaranya sendiri, serta merencanakan kejahatan sepanjang siang dan malam hari.

Mereka tidak mau berhenti yang demikian itu sebelum orang yang di bencinya hancur sama sekali, mengapa makhluk yang mulia itu menjadi sedemikian jahat bahkan melebihi kejahatan Iblis…..? Jawabannya, karena manusia yang semestinya dapat mengendalikan hawa nafsu telah berbalik di kendalikan oleh hawa nafsunya sendiri, hanya manusia yang sanggup merusak dirinya sendiri.

Mereka merusak sistem penjagaan yang telah di bangun Allah untuk dirinya, sungguh beruntung para syetan jin dan Iblis yang terlaknat, ketika jerih payah mereka di dunia telah membuahkan hasil yang gemilang, menggalang orang-orang kafir dan munafiq menjadi tentara-tentara syetan jin yang setia.

Di neraka nanti mereka tidak hidup sendirian lagi, mereka hidup bersama manusia yang selama hidupnya di dunia telah terlebih dahulu saling bantu-membantu untuk berbuat kerusakan. Allah berfirman : “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain, jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah di perintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Q.S. Al-Anfal : 8/73).

Benteng penyelamat manusia itu adalah, manakala manusia mau melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, jika itu di laksanakan secara individu, maka manusia akan mendapatkan perlindungan secara individu.

Demikian pula apabila di laksanakan secara kolektif, maka manusia akan mendapatkan perlindungan secara kolektif pula, namun rupanya manusia telah meninggalkan perintah Allah itu secara kolektif, sehingga tanda-tanda kehancuran secara kolektif itu akhir-akhir ini semakin tampak nyata.

Baca juga...  Tugas Para Saksi

Lebih tegas lagi Allah berfirman : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum : 30/31).

Bencana bumi yang datangnya bertubi-tubi, juga kesurupan massal yang telah terjadi di mana-mana, itu adalah pertanda peringatan Allah untuk manusia sudah datang, apabila peringatan tuhan itu tidak diindahkan, terlebih apabila musibah-musibah itu malah di jadikan proyek untuk mengeruk keuntungan.

Di jadikan kesempatan untuk mencari popularitas pribadi maupun golongan dan manusia harus ingat, di dalam firman-Nya yang lain Allah telah memberikan peringatan dengan lebih mengerikan lagi, Allah berfirman : “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah di berikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira (bangga) dengan apa yang telah di berikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa, maka orang-orang yang dzalim itu di musnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al-An’am/44-45).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru