oleh

Tiga Pilar Muhasabah

Tiga Pilar Muhasabah, yaitu :

1. Membandingkan antara Nikmat Allah dan Kejahatan kita
Maksudnya, kita harus membandingkan apa yang berasal dari Allah dan apa yang berasal dari diri kita, dengan begitu kita akan mengetahui letak ketimpangannya dan kita juga akan mengetahui bahwa di sana hanya ada ampunan dan rahmat Allah di satu sisi, dan di sisi lain adalah kehancuran dan kerusakan.

Dengan membandingkan seperti ini kita bisa mengetahui bahwa Allah adalah Allah dalam pengertian yang sebenarnya, dan hamba adalah hamba dalam pengertian yang sebenarnya, kita juga akan mengetahui hakikat jiwa dan sifat-sifatnya, keagungan Rububiyah Allah, hanya Allahlah yang memiliki kesempumaan, setiap nikmat berasal dari-Nya sebagai karunia, dan siksaan juga berasal dari-Nya yang di timpakan secara adil. Jika engkau tidak membuat perbandingan seperti ini, tentu kita tidak akan bisa mengetahui hakikat dirimu sendiri dan Rububiyah Pencipta jiwa kita.

Jika kita membuat perbandingan seperti ini, maka kita akan tahu bahwa jiwamu adalah sumber segala kejahatan dan kekurangan, sedangkan hukum yang di milikinya adalah kebodohan dan kezhaliman, andaikan tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang mensucikan jiwa itu, tentu ia tidak akan menjadi suci sama sekali, kemudian kita juga bisa membandingkan antara kebaikan dan keburukan, sehingga dengan membandingkan ini engkau bisa mengetahui mana yang lebih banyak dan mana yang lebih dominan di antara keduanya.

Perbandingan yang kedua ini merupakan perbandingan antara perbuatan kita dan apa yang datang dari diri kita secara khusus, seseorang tidak bisa membuat perbandingan ini jika dia tidak memiliki tiga indikator, yaitu :
1. Cahaya hikmah.
2. Buruk sangka terhadap diri sendiri.
3. Membedakan antara nikmat dan ujian.
Cahaya hikmah merupakan cahaya yang di susupkan Allah ke dalam hati orang-orang yang mengikuti para rasul. Dengan kata lain, cahaya hikmah adalah ilmu yang dimiliki seseorang sehingga dia bisa membedakan antara yang haq dan batil, petunjuk dan kesesatan, mudharat dan manfaat, yang sempurna dan yang kurang, yang baik dan yang buruk.

Dengan cahaya hikmah ini, seseorang bisa melihat tingkatan-tingkatan amal, mana yang harus di pentingkan dan mana yang tidak di pentingkan, mana yang harus di terima dan mana yang di tolak, jika cahaya ini kuat,
maka muhasabah juga akan kuat dan sempurna, buruk sangka terhadap diri sendiri amat di perlukan, sebab baik sangka terhadap diri sendiri akan menghalangi koreksi dan kerancuan, sehingga dia melihat keburukan sebagai kebaikan, aib sebagai kesempumaan.

Membedakan nikmat dari ujian, artinya membedakan nikmat yang di lihatnya sebagai kebaikan dan kasih sayang Allah serta yang bisa membawanya kepada kenikmatan yang abadi dan membedakannya dengan nikmatyang hanya sekedar sebagai tipuan, sebab berapa banyak orang yang tertipu dengan nikmat, sementara dia tidak menyadarinya, tertipu oleh pujian orang-orang bodoh, terpedaya oleh limpahan Allah dan justru kebanyakan manusia termasuk dalam kelompok yang kedua ini.

Tiga indikator ini merupakan tanda kebahagiaan dan keselamatan, jika tiga hal ini dilaksanakan secara sempurna, maka seseorang bisa mengetahui nikmat Allah yang sebenarnya, selain itu ada ujian yang berupa nikmat atau cobaan berupa limpahan pemberian, maka hendaklah setiap orang mewaspadai hal ini, sebab dia berada di antara anugerah dan hujjah dan banyak orang yang timpang dalam membedakan dua hal ini.

2. Membedakan antara Bagian dan Kewajiban
Harus ada pemilahan antara hak-hak yang harus kita penuhi, seperti kewajiban-kewajiban ibadah, ketaatan dan menjauhi kedurhakaan dan hak yang menjadi bagian kita, apa yang menjadi bagian kita adalah mubah menurut ketetapan syariat dan apa yang menjadi kewajiban kita harus kita penuhi dan kita harus memberikan hak kepada siapa pun yang berhak menerimanya.

Banyak orang yang mencampur aduk antara kewajiban dan hak-nya, sehingga dia sendiri menjadi kebingungan antara mengerjakan dan meninggalkan, banyak orang yang sebenarnya dia boleh mengerjakan sesuatu namun dia justru meninggalkannya, seperti orang yang rajin beribadah dengan meninggalkan apa yang sebenarnya boleh dia kerjakan, seperti meninggalkan hal-hal yang mubah, karena dia mengira bahwa hal itu tidak boleh dia kerjakan.

Begitu pula sebaliknya, orang yang rajin beribadah dengan mengerjakan sesuatu yang sebenarnya harus dia tinggalkan, karena dia mengira hal itu merupakan haknya, yang pertama seperti orang yang rajin beribadah dengan tidak mau menikah, tidak mau memakan daging, buah-buah, makanan yang lezat dan pakaian yang bagus, karena kebodohannya dia mengira bahwa semua itu merupakan larangan baginya, sehingga dia harus meninggalkannya atau dia berpendapat bahwa dengan meninggalkannya akan membuat ibadahnya bertambah afdhal.

Dalam Ash-Shahih di sebutkan pengingkaran Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap beberapa shahabat yang tidak mau menikahi wanita, terus-menerus berpuasa dan shalat malam, yang kedua seperti orang yang rajin beribadah, namun bid’ah, dia melihat cara ibadahnya itu benar, karena begitulah yang banyak di lakukan orang.

3. Tidak Ridha terhadap Ketaatan Yang Di lakukan
Kita harus tahu bahwa setiap ketaatan yang kita sukai dan ridhai, akan menjadi beban dosa bagi kita dan setiap kedurhakaan yang di tuduhkan saudara kita kepada kita, maka terimalah tuduhan itu dan anggaplah bahwa memang itulah yang benar, sebab keridhaan seorang hamba terhadap ketaatan dirinya merupakan bukti baik sangka terhadap diri sendiri dan kebodohannya terhadap hak-hak ubudiyah serta tidak tahu apa yang di tuntut Allah darinya, lalu akhirnya melahirkan takabur dan ujub, yang dosanya lebih besar dari dosa-dosa besar yang nyata, seperti zina, minum khamr, lari dari medan peperangan dan lain-lainnya.

Orang-orang yang memiliki bashirah justru lebih meningkatkan istighfar setelah mengerjakan berbagai macam ketaatan, karena mereka menyadari keterbatasannya dalam melaksanakan ketaatan itu dan merasa belum memenuhi hak-hak Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Allah juga memerintahkan agar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa memohon ampunan dalam setiap kesempatan dan sehabis melaksanakan tugas-tugas risalah atau setelah melaksanakan suatu ibadah, dalam surat terakhir yang di turunkan, Allah juga tetap memerintahkan beliau untuk
memohon ampunan, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.”(Q.S. An-Nashr : 1-3).

Maka Umar bin Al-Khaththab Ra dan Ibnu Abbas Ra memahami turunnya surat ini sebagai isyarat telah dekatnya ajal beliau, seakan-akan Allah hendak memberitahukan hal ini kepada beliau, dengan memerintahkan agar beliau memohon ampunan sehabis mengerjakan setiap tugas, dengan
kata lain, surat ini semacam pemberitahuan, Engkau telah rampung mengerjakan kewajibanmu dan tidak ada lagi kewajiban yang menyisa setelah itu, maka jadikanlah istighfar sebagai kesudahannya.

Baca juga...  Ragam Kesaksian

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru