Firman Allah dalam Q.S. An-Nisa’ ayat 69 yang artinya: “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi kenikmatan dari Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiq…,(sampai akhir ayat).

Allah mengelompokkan 4 golongan orang yang mendapatkan anugerah kenikmatan tersebut secara berurutan, pertama An-Nabiyin kemudian baru tiga sifat berikutnya yaitu, Ash- Shiddiqin, Asy-Syuhada’, Ash-Shalihin.

Dengan itu Ulama’ ahli tafsir sepakat berpendapat bahwa kebersamaan orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul-Nya dengan 4 golongan orang-orang utama tersebut bukan dalam tingkat derajat yang sama, tetapi dalam arti bisa saling bertemu, berinteraksi dan berkomunikasi.

Al-Imam Fakhrur Razi di dalam Tafsir Kubra-nya menafsirkan sifat-sifat tersebut :

A). Ash – Shiddiq
Ash-Shiddiq adalah sebutan orang yang kebiasaan dan perilakunya Shiddiq atau jujur dan benar, orang yang hati dan sifatnya jujur dan benar, ia pasti akan berperilaku jujur dan benar pula, manakala orang tersebut sudah di sifati dengan sifat suatu pekerjaan, maka dia akan disebut sebagai pekerjaanya.

Semisal orang yang selalu berbuat mabuk-mabukan, maka ia di sebut pemabuk, orang yang selalu mencuri di sebut pencuri, jadi yang di maksud Ash-Shiddiq adalah orang yang sudah tidak dapat lepas lagi dari kebaikan yang diperbuatnya karena kebaikan itu sudah menjadi perilaku dan kebiasaan sehari-hari.

Luar biasa akan menjadi biasa jika itu selalu di biasakan, biasa akan menjadi kebiasaan, jika itu tidak pernah di tinggalkan Ulama’ Ahli Tafsir berbeda pendapat terhadap arti Ash- Shiddiq :

1. Pertama: Orang yang selalu membenarkan setiap yang datang dari agamanya, mereka itu adalah orang-orang yang keyakinan hatinya sudah sangat kuat sehingga sedikitpun jalan hidupnya tidak dicampuri dengan keraguan.

Keadaan tersebut sesuai yang di nyatakan Allah dengan firman-Nya : “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, mereka itulah Ash- Shiddiqqin.” (Q.S. Al-Hadid : 57/19).

2. Kedua : Yang dimaksud Ash-Shiddiq adalah para sahabat Nabi yang utama.

3. Ketiga : Ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali beriman dan membenarkan Rasulullah Saw, sehingga imannya itu menjadi panutan (qudwah) bagi orang lain.

Oleh karena itu, Sayyidina Abu Bakar Ra di sebut “Ash-Shiddiq‘, adapun maksud dari sebutan tersebut bila di kaitkan dengan firman di atas adalah sebagai berikut, bahwa Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra adalah makhluk Allah yang paling mulia satu tingkat di bawah Rasulullah Saw.

Sejarah telah mencatat hal itu, semenjak beliau beriman, dalam waktu yang singkat, Utsman bin Affan, Thalhah, Sa‘ad bin Abi Waqash, Zubair bin Awwam berturut-turut menyusul beriman kepada Rasulullah Saw.

B). Asy – Syuhada‟ atau Asy-Syaahid
Asy-Syuhada‘ adalah orang-orang yang hatinya telah mampu bersaksi akan kebenaran Agama Allah, kesaksian tersebut kadangkala di nyatakan dengan dalil dan argumentasi atau kadang juga dengan perjuangan dan jihad di jalan Allah.

Mereka itulah yang di sebut ” قائما بالقسط Qaimam bil Qisth”, Yaitu orang-orang yang lahir dan batinnya telah menyatu sehingga mereka mampu menjalankan kehidupan agamanya secara seimbang.

Sebagaimana yang telah di saksikan Allah dengan firman-Nya : “Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersaksi yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Ali Imran : 3/18).

“Wahai orang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi Saksi karena Allah.” (Q.S. An-Nisa‘ : 4/135), وأولىا العلم قائما Firman Allah ( ,بالقسط Wa ulul ‘ilmi qaaimam bil qisth), Maksudnya adalah orang-orang yang dengan ilmunya telah mampu bersaksi terhadap Ke-Esaan Allah dan dengan itu, Allah telah mengakui tingkat derajat mereka di sisi-Nya.

Rasulullah Saw bersabda :

أَؽْنَرًُذُفَدَآءًُأُؿِمَكًْاَصْوَوبًُاؾػَرْشًًِوَرُبًِؼَمَقْؾًٍبَقْـًَاؾصَػُقْـًِآًُأَعْؾَؿًُبَـَقِمَفًَ.
(رواهًأحمدًعـًأبكًؿيعد)ً

“Sebagian besar Syuhada’ umatku adalah Ashhaabul Farsy. (orang yang matinya di tempat tidur). Kadang orang yang terbunuh diantara dua barisan, Allah lebih mengetahui niatnya.” (H.R. Ahmad bin Abi Mas’ud)

C). Ash-Shalihin
Yaitu orang yang selalu benar, baik di dalam i’tiqad (akidah) maupun amaliahnya, karena kebodohan dapat merusak i’tiqad dan maksiat merusak amal, maka barangsiapa mempunyai i’tiqad yang benar serta perilaku taat bukan maksiat, maka dia disebut orang shaleh.

Dari golongan orang-orang yang shaleh tersebut ada orang yang telah mampu bersaksi akan kebenaran Agama Allah dan ada orang yang belum mampu demikian, berarti orang yang syahid sudah pasti orang shaleh sedangkan orang shaleh belum tentu orang syahid.

Jadi, yang dimaksud syahid adalah dari golongan orang shaleh yang derajatnya paling mulia, orang yang syahid kadang-kadang juga shiddiq, kadang juga tidak, yang dimaksud shiddiq di sini adalah, orang yang imannya lebih dulu dari yang lainnya, sehingga menjadi panutan.

Maka setiap ashShiddiq pasti asy-Syahid dan asy-Syahid belum tentu ash-Shiddiq. Jadi, makhluk yang paling utama adalah para Nabi Saw, kemudian ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan berikutnya ash-Shalihin.

Adapun proses turunnya pemahaman agama adalah sebagai berikut :

Pertama, para elit malaikat menerima kebenaran agama dari Allah dan para Nabi dan Rasul menerimanya dari malaikat, sebagaimana firman Allah : “Dia (Allah) menurunkan Malaikat dengan membawa Wahyu dari urusan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya.” (Q.S. An-Nahl : 16/2).

Lalu ash-Shiddiq menerima pemahaman agama dari para Nabi, asy-Syuhada’ dari ash-Shiddiq dan ashSholihin dari asy-Syuhada’. Ini sesungguhnya merupakan tertib urutan dan tingkat derajat kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah.

Maksudnya, seseorang tidak dapat masuk syurga, kecuali mereka harus menempuh jalannya dan menyelesaikan tahapan tingkat derajat (maqamat) yang sudah ditetapkan oleh Allah.

Tingkat derajat tersebut adalah karakter-karakter atau sifat-sifat pribadi yang harus dibentuk oleh manusia dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan pelaksanaan amal ibadah yang dilakukan secara komulatif dan bersungguh-sungguh dalam pelaksanaan mujahadah dan riyadhah di jalan Allah.

Karakter-karakter tersebut adalah an-Nabiyin, ash- Shiddiqin, asy-Syuhada’, ash-Sholihin. (Tafsir Fahrur Rozi; 5/177).

Kesimpulan Ayat :

Orang-orang yang taat kepada Allah semata-mata karena melahirkan (ikrar) sebagai seorang hamba serta menegakkan hak-hak Rububiyyah, hal itu mereka lakukan tidak karena berharap masuk surga maupun takut kepada neraka, akan tetapi karena semata-mata mengharap ridha-Nya, maka itulah tanda-tanda orang yang cinta dan berma’rifat kepada Allah.

Oleh karena kecintaan mereka kepada Allah lebih kuat daripada cinta mereka kepada yang selain-Nya, maka hal itu menjadikan mereka mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada-Nya.

Inilah maksud dari Q.S. An-Nisa’ ayat 69 : ( ومه يطع الله Wa man yuthi‘illaaha)., ayat ini menjadi kabar gembira dan peringatan bagi orang-orang beriman terhadap dua hal, baik yang berkaitan dengan urusan kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.

1). Sesungguhnya sumber segala kebahagiaan didunia maupun di akhirat adalah bergantung cemerlangnya Ruh dengan Nur Ma’rifat kepada Allah yang mampu di aktualisasikan dalam bentuk ketaatan yang sempurna.

Barangsiapa hatinya dipenuhi “Nur Ma’rifatullah” serta jauh dari segala kotoran yang bisa menjadikannya redup yaitu kecintaan kepada alam jasad dengan segala kaitannya, dengan berbagai macam pahala yang dijanjikan Allah kepadanya, maka kemungkinan orang tersebut mendapatkan kebahagian di dalam hidupnya akan menjadi lebih kuat dan kemungkinan mendapatkan pertolongan akan lebih mudah.

2). Di dalam ayat sebelumnya, Allah telah menjanjikan kepada orang yang mentaati Allah dan Rasul-Nya dengan beberapa anugerah diantaranya, pahala besar, imbalan yang agung, dikuatkan hati dan imannya serta mendapatkan petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus.

Kemudian di dalam Q.S. An-Nisa’ ayat 69 ini, Allah juga menjanjikan bahwa mereka tersebut akan dikumpulkan bersama-sama orang yang telah mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin.

Kebersamaan itu adalah pemberian yang terakhir dari urutan pemberian-pemberian yang sebelumnya, pemberian itu sebagai bonus, inilah anugerah yang paling utama dari anugerah yang sebelumnya dan tentunya yang paling dirasakan nikmat.

Padahal telah dimaklumi bahwa kebersamaan orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan 4 golongan orang yang utama tersebut tidak terjadi dalam dimensi dan tingkat derajat yang sama, maka maksud ayat adalah sebagai berikut; bahwa keadaan ruh manusia akan menjadi redup bahkan padam manakala kesibukan ruh itu hanya di seputar alam jasad.

Namun ketika seorang hamba dengan segala mujahadah dan riyadhah yang dilakukannya berhasil melepaskan kehidupan ruhnya dari belenggu kesibukan alam jasmani dan berhasil masuk ke dalam kesibukan alam ruhaniah, maka ruh yang asalnya keruh atau padam itu akan menjadi bersih dan cemerlang.

Seperti kaca yang bersih, ketika dipancari sinar, sinar itu akan dipantulkan kembali kepada alam sekelilingnya, seperti matahari di malam hari, matahari itu memantulkan sinarnya kepada rembulan, kemudian rembulan itu memantulkan sinarnya kekaca sehingga kaca itu kemudian memantulkan sinarnya kepada alam yang ada di sekelilingnya.

Itulah yang dimaksudkan dengan interaksi ruhaniah, dengan sebab terjadinya interaksi ruhaniah tersebut, ruhani manusia yang asalnya lemah menjadi kuat dan yang asalnya redup menjadi cemerlang, sedangkan mujahadah dan riyadlah adalah sarana untuk membersihkan hati manusia dari mencintai yang selain Allah sekaligus untuk menguatkannya supaya hati itu semata-mata dapat cinta kepada-Nya. itulah yang dimaksud menaati Allah dan Rasul-Nya.

3). Kebersamaan yang pertama adalah amal ibadah yang harus dibangun seorang hamba sebagai sebab, dan kebersamaan selanjutnya, baik di alam barzah maupun di akhirat, adalah pahala yang dijanjikan Allah  sebagai akibat.

Demikian itu adalah sunnatullah yang sejak diciptakan-Nya tidak pernah terjadi perubahan lagi untuk selama-lamanya, barangsiapa menjalankan hidupnya dengan mengikuti sunnah yang sudah ditetapkan, maka ia akan mendapatkan kebahagian hidup yang diharapkan.

Apabila sunnah tersebut di ibaratkan sebuah perangkat computer misalnya, maka ayat-ayat itu adalah ibarat teori-teori kehidupan yang harus dikuasai oleh manusia, dengan penguasaan teori kehidupan itu supaya dia dapat mengaplikasikan progam-progam yang bertebaran di alam semesta untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia guna menjalankan kemanfaatan hidupnya.

Allah telah memberikan isyarat dengan firman-Nya : “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin – dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?. (Q.S. Adz-Dzaariyaat/51 : 20-21).

Jadi, alam semesta ini bagaikan perangkat komputer makro sedang manusia adalah komputer mikro, dengan jiwanya sebagai ruh kehidupan
komputer mikro, manusia harus mampu mengaplikasikan program yang telah tersedia di alam semesta.

Di situlah letak rahasia kemudahan hidup, baik sejak di dunia, di alam barzah maupun sampai di akhirat nanti, sungguh beruntung orang-orang beriman yang telah mampu mengamalkan ilmunya, sesuai dengan hidayah Allah yang didatangkan baginya, dengan itu mereka akan mendapatkan kebahagiaan hidup‖ sebagaimana yang sudah di janjikan-Nya.

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: