oleh

Tokoh Tasawuf Nusantara, Syaikh Muhammad Nafis Al-Idris Al-Banjari

-Tasawuf-8 views

Pengenalan terhadap Syaikh Muhammad Nafis Al-Banjari

Syaikh Muhammad Nafis Al-Banjari adalah salah seorang ulama nusantara yang banyak di kaji secara ilmiyah oleh para pengkaji terdahulu, maka biodatanya telah juga di bincangkan.

Namun, kajian yang di jalankan oleh pengkaji di sini memerlukan biodata beliau yang di kemukakan sebagai keperluan untuk mengetahui gambaran pribadi beliau sebagai seorang ulama sufi yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Pengenalan terhadap ulama Syaikh Muhammad Nafis Al-Banjari di gunakan dua sumber yang dapat di rujuk: Pertama adalah sumber dalaman (internal) yang terdapat dalam muqaddimah Kitab Al-Dur Al-Nafis.

Kedua adalah sumber luaran (external), yaitu dari sejarah atau cerita yang di tulis ulama atau tokoh sejarah atau masyarakat di Kalimantan Selatan.

Dari sumber dalaman (internal) atau dokumen yaitu kitab Al-Durr Al-Nafis yang di peroleh data bahwa nama pengarang kitab tersebut sebagaimana yang tertulis, yaitu ‘Muhammad Nafis bin Idris bin Al-Husain Al-Banjari’ yaitu nama lengkap beliau.

Pada halaman tajuk kitab tersebut pula tertulis gelar yang di berikan oleh pengagumnya, yaitu suatu gelar yang teramat tinggi “Maulana Al-Allamah Al-Fahhamah Al-Murshid ila Tariq Al-Salamah Al-Syaikh Muhammad Nafis Ibn Idris Al-Banjari”.

Gelar ini bermaksud adalah “Tuan guru yang sangat ‘alim yang luas pemahamannya yang menunjukkan ke jalan keselamatan Syaikh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein Al-Banjari”.

Nama bapak beliau yaitu Idris bin Al-Husein bisa di jumpai dalam silsilah keluarga kerajaan Banjar, kenyataan ini di sokong oleh hasil penyelidikan pengkaji tempatan yang membuktikan bahwa Muhammad Nafis adalah dari keluarga Kerajaan Banjar berketurunan Raja Banjar di Martapura yang bernama Sultan Tahlilullah (1663-1700).

Nama Al-Banjari di belakang namanya berarti beliau berasal dari daerah Banjar. Kabupaten Banjar adalah suatu tempat yang terletak di Kerajaan Banjar di Martapura, Kalimantan Selatan, berarti beliau di dakwa berasal dari suku Banjar.

Hari bulan dan tahun kelahiran, malah kampung halaman kelahiran Muhammad Nafis tidak dapat di ketahui dengan pasti, karena tidak ada sumber yang jelas.

Dalam karyanya Al-Durr Al-Nafis di ungkapkan, bahwa beliau selesai menulis kitab ini pada tahun 1200 Hijrah, bersamaan dengan tahun 1785 Masehi.

Seandainya masa itu adalah tahun penulisan kitabnya (tahun 1200 H), maka ia berarti bahwa pada ketika itu beliau berusia 50 tahun, dari situ dapat di ambil jangka waktu bahwa beliau di lahirkan sekitar tahun 1150 Hijrah bersamaan 1735 Masehi.

Data-data yang ada ini menunjukkan bahawa Muhammad Nafis hidup sezaman dengan Muhammad Arsyad Al-Banjari (yang lazimnya lebih di kenali dengan panggilan Al-Banjari oleh masyarakat Banjar) yang hidup pada tahun 1710-1812, sekiranya data ini benar, berarti Muhammad Nafis hidup pada zaman pemerintahan Sultan Tahlilullah atau Tahmidullah Ke-I, yaitu Raja Banjar ke XIV (1700-1745 M).

Baca juga...  Beberapa Tingkatan Taqwa

Sultan Tajmidillah Raja Banjar ke XV (1734-1759 M) dan Sultan Tahmidullah Ke-II bin Sultan Tajmidullah, Raja Banjar ke XVI (1787-1801), untuk mengetahui lebih mendalam mengenai peribadi, pemikiran serta amalan tasawuf Muhammad Nafis Al-Banjari, maka dapat di simpulkan dari kenyataannya sendiri sebagaimana tercatat di dalam kitabnya, yaitu :

“Yang menghimpun akan risalah ini, hamba fakir lagi hina lagi mengaku dengan dosa dan taqsir lagi yang mengharap kepada ampunan Tuhan Yang Amat Kuasa yaitu yang terlebih fakir daripada segala hamba kepada Allah Ta’ala yang menjadikan segala makhluk, yaitu Muhammad Nafis Ibn Idris Ibn Al-Husein, negeri Banjar tempat jadi dan negeri Makkah tempat diamnya, Syafi’i akan mazhabnya, yaitu pada fekah dan Asy’ari i’tiqadnya, yaitu pada Usuluddin dan Junaidi ikutannya yaitu pada ilmu tasawuf dan Qadariyyah tariqatnya dan Satariyah pakaiannya dan Naqsabandiyah amalannya dan Khalwatiyah makanannya dan Samaniyah minumannya…

Dari keterangan di atas telah tercermin, bahwa pribadi Muhammad Nafis itu bersahaja sesuai dengan dirinya sebagai seorang sufi yang selalu rendah hati, tidak sombong, riya’, ‘ujub ataupun takabur.

Pengakuan beliau itu untuk menghindari daripada syirik khafi (syirik tersembunyi), dari pengakuannya itu, dapat di lihat bahwa pribadi beliau sebagai seorang hamba yang taat kepada Allah yaitu kepribadian seorang sufi.

Pengakuannya itu juga menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi’i dalam bidang fiqh, pengikut aliran Ash‘ari dalam aqidah atau Usuluddin, manakala dalam tasawuf beliau mengikuti Al-Junaid.

Thariqatnya Syaikh Muhammad Nafis Al-Idris Al-Banjari

Malah dapat di ketahui bahwa Muhammad Nafis adalah pengikut aliran tasawuf ‘amali dan Ahli Sunnah Wa Al-Jama’ah, manakala dalam perkara thariqat, Muhammad Nafis mengikuti beberapa aliran thariqat, seperti di jelaskan di atas, bahwa ia mengikuti thariqat Al-Qadariyah Al-Shatariyyah, An-Naqsabandiyah, Al-Khalwatiyah, Al-Samaniyyah.

Dari kenyataan di atas Muhammad Nafis mengikuti Thariqat Qadariyah yang di nisbahkan kepada ‘Abdul Al-Qadir Al-Jailani, Thariqat Shattariyyah oleh ‘Abd AllÉh Al-Satari, Thariqat Naqsabandiyah, aliran Baha’uddin An-Naqsabandi, Thariqat Khalwatiyah di nisbahkan kepada ‘Umar Al-Khalwatiyah dan juga Thhariqat Samaniyah dari Muhammad ‘Abd Al-Karim Samman Al-Madani.

Mengenai thariqat yang di ikutinya itu telah menunjukkan bahwa semua aliran thariqat itu tergolong mu’tabarah (di iktiraf keshahihannya). Muhammad Nafis mendapat ijazah dari beberapa orang guru thariqat, seperti gurunya Muhammad ‘Abd Al-Karim Samman Al-Madani (1189 H).

Namun, yang menjadi perhatian dalam kenyataannya mengenai thariqat yang di ikuti beliau menggunakan perkataan isyarah seperti di katakan bahwa Shattariyah pakaiannya, Khalwatiyah makanannya, serta Sammaniyah minumannya.

Apa makna kata-kata yang ada itu, tidak ada yang dapat mengetahui maksudnya, mungkin kata itu sebagai kiasan (mithl), mungkin kata itu dapat di artikan bahwa hajat rohani beliau sebagai seorang salik yang menempuh jalan menuju Tuhan itu sama dengan hajat penting dalam kehidupan jasmani, yaitu berpakaian, makan dan minum.

Sampai kepada abad Ke-19, pusat pengajian Islam yang paling masyhur di dunia Islam adalah Al-Haramain, yaitu Al-Masjid Al-Haram di Makkah dan Al-Masjid Al-Nabawi di Madinah, di kedua tempat itulah para ulama dari berbagai pelosok dunia belajar.

Guru-Guru Syaikh Muhammad Nafis Al-Idris Al-Banjari

Menurut sumber yang ada, Muhammad Nafis pernah belajar di kedua-dua
tempat mulia tersebut, selama di sana beliau memperdalam ilmu tasawuf dan berguru kepada beberapa Syaikh di Haramain, guru-guru beliau di antaranya adalah :

1) Shaikh ‘Abdullah Ibn Hijazi Al-Sharqawi Al-Misri (1812),

2) Shaikh Siddiq Ibn ‘Umar Khan,

3) Shaikh Muhammad ‘Abd Al-Karim Samman Al-Madani (1775) ,

4) Shaikh ‘Abd Al-Rahman Ibn ‘Abd Al-‘Aziz Al-Mahgribi,

5) Shaikh Muhammad Ibn Ahmad Al-Jawhari.

Nampaknya, guru Muhammad Nafis di bidang tasawuf dan thariqat sama dengan guru Abdul Shamad Palimbani, yaitu Shiykh ‘Abd Al-Rahman Ibn ‘Abd Al-‘Aziz Al-Mahgribi dan gurunya yaitu Shaikh Muhammad ‘Abd Al-Karim Samman Al-Madani, antara waliyullah yang di zamannya.

Di abad Ke-18 Masehi, guru-guru di atas telah di kenal sebagai guru para ulama Nusantara di Haramain, oleh demikian, dapat di simpulkan bahwa Muhammad Nafis Al-Banjari mempunyai guru yang sama dengan Abdul Shamad Palimbani dan Muhammad Arsyad Al-Banjari semasa mereka di Haramain.

Keterangan itu memberi makna, bahwa mereka hidup pada zaman yang sama. Abdul Shamad Palimbani dan Muhammad Arsyad Al-Banjari telah di kurniakan gelar khalifah dalam bidang thariqat dan tasawuf dari guru mereka bernama Shaikh Muhammad ‘Abd Al-Karim Samman Al-Madani.

Ini bermakna kedua-dua ulama itu boleh menjadi guru pengajar ilmu tasawuf dan aliran thariqat dan boleh mengganti guru dalam mengajar, manakala Muhammad Nafis, karena ketinggian ilmu dalam ilmu tasawuf dan thariqat, maka beliau telah di beri gelaran murshid, yang berarti beliau memperolehi ijazah ilmu thariqat aliran tertentu dan dapat menjadi wali (perantara) kepada Allah melalui bimbingannya.

Dapat di simpulkan, bahwa ketiga-tiga tokoh sufi itu memiliki ilmu tasawuf dan thariqat dari guru yang sama, tetapi dalam cara pengajaran dan dakwah mereka kepada orang ramai di daerah masing-masing adalah berbeda.

Muhammad Al-Arsyad Al-Banjari lebih cenderung untuk memperbaiki masyarakat dalam bidang syari’ah yang menyebabkan beliau lebih tersohor sebagai ulama Syari’ah berbanding sebagai ulama sufi.

Namun Muhammad Nafis dan Abdul Shamad Al-Palimbani lebih tersohor sebagai ulama tasawuf, setelah beberapa lama bermastautin di Haramain, di jangkakan Muhammad Nafis terus pulang ke kampung halamannya di daerah Banjar, Kalimantan Selatan.

Namun, tidak ada data yang pasti berkenaan tahun berapakah beliau pulang ke kampung halamannya dan di manakah tempat tinggal beliau setelah pulang dari Haramain, tapi yang dapat di ketahui secara pasti pada waktu beliau berada di Mekah ialah beliau menulis kitab Al-Durr Al-Nafis dan selesai menulis pada tahun 1200 H.

Andaikata Muhammad Nafis bermukim di Makkah 10 tahun lagi setelah beliau menulis kitab tersebut (1200 H/1785 M), kemudian beliau pulang ke kampung halaman di Martapura, maka dapat di jangka beliau kembali berada di daerah Kalimantan selatan sekitar tahun 1210 H/1795 M.

Masa itu yang menjadi Raja Banjar adalah Sultan Tahmidullah (Raja Banjar Ke-XVI, 1778-1808), tetapi perkara ini tidak di sokong oleh data yang pasti, menurut setengah tokoh masyarakat tempatan, Muhammad Nafis kembali ke kampung kelahirannya di Martapura sebagai pendakwah, beliau kerap kali berpindah dari daerah ke daerah lain sebagai salah satu strategi dakwah beliau.

Beliau berpindah kali terakhirnya ke daerah Kalua Kota Baru, yaitu tempat terasing dan belum pernah mendapat liputan oleh dakwah Islamiah, tempat itu sangat strategis dan sangat tepat untuk berdakwah pada masa itu.

Terbukti pada abad Ke 18-19 Masehi, daerah Kota Baru berkembang menjadi sebuah pusat penyiaran Islam di Kalimantan Selatan yang juga menjadi daerah yang turut bangkit merebut kemerdekaan daripada penjajah Belanda.

Sedikitnya data yang boleh di peroleh tentang Muhammad Nafis ini juga menunjukkan bahwa Muhammad Nafis adalah ulama sufi yang tidak suka di kenal oleh ramai.

Justeru, data-data mengenai tempat tinggalnya, maupun keluarganya serta masa dan tempat beliau meninggal juga tidak di ketahui oleh ramai, hal ini adalah berbeda dengan tokoh ulama sufi lainnya seperti Abdul Hamid Abulung yang di hukum bunuh dan di makamkan di kampung Sungai Batang Martapura.

Makam Syaikh Muhammad Nafis Al-Idris Al-Banjari

Manakala Muhammad Arsyad Al-Banjari pula makamnya bisa di jumpai di kampung dalam Pagar Pelampaian, Martapura, hanya makam Muhammad Nafis yang sehingga kini masih di perselisihkan oleh orang ramai.

Ada pandangan yang menyatakan, bahwa makam Muhammad Nafis terdapat di desa Kusan, daerah Kelua di kabupaten Kota Baru, Akan tetapi ada juga yang menyatakan Muhammad Nafis di makamkan di Desa Tungkaran daerah Pleihari dan ada yang mendakwa bahwa makam beliau terdapat di Desa Pakulat Tabalong.

Ketiga-tiga tempat yang di dakwakan sebagai tempat Muhammad Nafis di makamkan itu berada di daerah Kalimantan Selatan, tapi dari ketiga tempat tersebut masyarakat lebih cenderung untuk menerima kenyataan bahwa makam Muhammad Nafis terletak di daerah Kelua, Kota Baru yang jaraknya sekitar 225 km dari Kota Banjarmasin.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya