oleh

Ulama Adalah Pewaris Nabi

Nabi Muhammad Saw di samping sebagai Rasul, juga menjadi saksi bagi umatnya, ketika Rasul Muhammad Saw wafat, tugas kenabian itu tidak di serahkan kembali kepada Allah, seperti yang pernah terjadi kepada Nabi Isa As, melainkan di wariskan kepada hamba pilihan dari umat-umatnya.

Itulah ulama pilihan sebagai pewaris dan penerus perjuangan Beliau sampai hari kiamat, ini adalah salah satu dan yang paling utama dari sekian keutamaan yang di berikan Allah kepada umat Nabi Muhammad Saw.

Tongkat estafet kepewarisan itu bukan untuk menyampaikan risalah dan nubuwah, akan tetapi untuk menyampaikan dan mengemban “Walayah”, yang sekaligus juga agar menjadi saksi bagi manusia pada zamannya.

Karena sejak wafatnya Rasulullah Saw, Nubuwah dan Risalah itu telah terputus. Jadi, bukan untuk menjadi Nabi-Nya akan tetapi menjadi Wali-Nya.

Allah berfirman : “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu.” (Q.S. Al-Baqarah : 2/143).

Dan firman Allah : “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang
yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (Q.S. Faathir : 35/32), oleh karena itu, manusia harus mengenal manusia, mencari keutamaan (fadhal) Allah yang tersimpan di dalam dirinya.

Sebagaimana yang telah di nyatakan dengan firman-Nya : “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang di limpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Q.S. Al- Mu‘min : 40/61).

Sebagai khalifah bumi yang di muliakan, terkadang di dalam diri mereka ada sesuatu yang di rahasiakan untuk manusia yang lain yang terkadang juga menjadi sumber inayah dan hidayah bagi orang yang ada di sekitarnya.

Ada kalanya rahmat Allah yang di rahasiakan berada di balik rahasia itu, ternyata adalah pintu surga yang di idam-idamkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, ketika seorang murid berusaha menggali mutiara yang di rahasiakan itu dengan pelaksanaan tawasul yang di ajarkan oleh guru-guru mursyidnya.

Tawassul ini sambung-menyambung (rabith) sampai kepada maha guru yang mulia, Rasulullah Muhammad Saw dan ketika ternyata murid itu berhasil mendapatkannya, maka mereka baru mengetahui bahwa mutiara itu di akhirat nanti, ternyata yang menyelamatkan hidupnya.

Itulah syafa‘at yang telah di wariskan kepada ahli warisnya, barangsiapa tidak mengusahakannya di dunia, maka di akhirat kelak mereka tidak akan mendapatkan bagian apa-apa.

Baca juga...  Istighfar Tingkatkan Keridhaan

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

2 comments

Artikel terbaru