oleh

Yang Di anggap Sebagai Peninggalan Harta Waris

YANG DI ANGGAP SEBAGAI PENINGGALAN HARTA WARIS

Dalam ilmu Fara’idh, terdapat istilah At-Tarikah, menurut bahasa, artinya barang peninggalan mayit, adapun menurut istilah, ulama berbeda pendapat, sedangkan menurut jumhur ulama adalah, semua harta atau hak secara umum yang menjadi milik si mayit.
Muhammad bin Abdullah At-Takruni berkata : “At-Tarikah adalah, segala sesuatu yang di tinggalkan oleh mayit, berupa harta yang ia peroleh selama hidupnya di dunia atau hak dia yang ada pada orang lain, seperti barang yang di hutang atau gajinya atau yang akan di wasiatkan atau amanatnya atau barang yang di gadaikan atau barang baru yang di peroleh sebab terbunuhnya dia atau kecelakaan berupa santunan ganti rugi.
Adapun barang tidak berhak di waris, di antaranya adalah : Peralatan tidur untuk isteri dan peralatan yang khusus bagi dirinya atau pemberian suami kepada isterinya semasa hidupnya.


Harta yang telah di wakafkan oleh mayit, seperti kitab dan |ainnya.
Barang yang di peroleh dengan cara haram, seperti barang curian, hendaknya di kembalikan kepada pemiliknya atau di serahkan kepada yang berwajib.
Semua barang peninggalan mayit bukan berarti mutlak menjadi milik ahli waris, karena ada hak Iainnya yang harus di selesaikan sebelum harta peninggalan tersebut dibagi.
Hak-hak yang harus di selesaikan sebelum harta waris tersebut di bagi adalah sebagai berikut :

1. Mu’nat Tajhiz atau Perawatan Jenazah.
Kebutuhan perawatan jenazah hingga penguburannya, misalnya meliputi pembelian kain kafan, upah penggalian tanah, upah memandikan, bahkan perawatan selama dia sakit, semua biaya ini di ambilkan dari harta si mayit sebelum di lakukan hal Iainnya. Berdasarkan perkataan Ibnu Abbas Ra, Rasulullah Saw bersabda : “Dan kafanillah dia dengan dua pakaiannya), maksudnya, peralatan dan perawatan jenazah di ambilkan dari harta si mayit.

Baca juga...  Tentang Wudhu'

2. Al-Huquq Al-Muta’aliqah Bi Ainit Tarikah atau Hak-Hak Yang Berhubungan Dengan Harta Waris.
Misalnya barang yang di gadaikan oleh mayit, hendaknya di selesaikan dengan menggunakan harta si mayit, sebelum hartanya di waris, bahkan menurut Imam Syafi’i, Hanafi dan Malik, di dahulukan hak ini sebelum kebutuhan perawatan jenazah, karena berhubungan dengan harta si mayit.
Dalilnya adalah, karena perkara ini termasuk hutang yang harus di selesaikan oleh si mayit sebagaimana di sebutkan di dalam Surat An-Nisa ayat 12, yaitu : “Sesudah di bayar hutangnya.”

3. Ad-Duyun Ghairu Al-Muta’aIiqah Bit Tarikah atau Hutang Si Mayit.
Apabila si mayit mempunyai hutang, baik yang behubungan dengan berhutang kepada Allah, seperti membayar zakat dan kafarah atau yang berhubungan dengan anak Adam, seperti berhutang kepada orang lain, pembayaran gaji pegawainya, barang yang di beli belum di bayar, melunasi pembayaran, maka sebelum di waris, harta si mayit di ambil untuk melunasinya.
Dalilnya adalah : “Sesudah di penuhi wasiat yang mereka buat atau dan sesudah di bayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat kepada ahli waris.” (Q.S. An-Nisa 4 : 12).

4. Tanfidzul Wasiyyah atau Menunaikan Wasiat.
Sebelum harta di waris, hendaknya di ambil untuk menunaikan wasiat si mayit, bila wasiat itu bukan untuk ahli waris, karena ada Iarangan hal ini dan bukan wasiat yang mengandung unsur maksiat, karena ada Iarangan mentaati perintah maksiat.
Wasiat ini tidak boleh melebihi sepertiga, karena merupakan Iarangan.
Dalilnya adalah lihat pada Surat An-Nisa ayat 12 yaitu : “Sesudah di penuhi wasiat yang mereka buat.” Jika empat perkara di atas telah di tunaikan dan ternyata masih ada sisa hak milik si mayit, maka itu di namakan Tarikah atau bagian bagi ahli waris yang masih hidup dan saat pembagian harta waris, jika ada anggota keluarga lainnya yang tidak mendapatkan harta waris ikut hadir, sebaiknya di beri sekedarnya, agar dia ikut merasa senang, sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 8.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru